Get Back Love

Get Back Love
Hanya Boleh Di Rumah


__ADS_3

Sembab mata Gaby setelah ia bangun dari tidur panjangnya. Apalagi yang bisa ia lakukan di hari minggu cerah ceria tanpa kegiatan berarti seperti ini selain tidur. Hendak nongkrong-nongkrong sambil cuci mata di mall, mana mungkin diijinkan. Apalagi untuk mencicipi nikmatnya makanan lezat di restoran ternama yang konon memiliki cabang dimana-mana seperti tentakel gurita, itu sangat mustahil terjadi. Karena ucapan Willy padanya tadi pagi untuk tetap berdiam diri dirumah sudah bak titah seorang kaisar kepada rakyat jelatanya. Harus dipatuhi dan tak boleh sekalipun dilanggar. Karena jika sekali saja ia berani melanggarnya, ocehan sang mama yang bisa mengalahkan panjangnya gerbong kereta api mungkin harus ia dengar lagi malam nanti. Atau bisa jadi malah lebih parah lagi.


Gaby menatap lagi pigura photo yang ada di meja samping tempat tidurnya. Tapi kali ini bukan photo keluarganya yang tersenyum bahagia. Melainkan photo Willy yang terpaksa harus ia pajang 'lagi-lagi' demi menyenangkan hati sang mama. Orangtua satu-satunya yang masih ia miliki setelah kepergian papanya yang misterius 3 tahun silam.


Gaby mendengus kesal. Diambilnya photo Willy yang tengah berpose sambil tersenyum itu dengan kasar. Tak lupa sebuah spidol warna hitam yang memang sengaja selalu ia siapkan didalam laci diiikutsertakan. Tujuannya apa? Tentu untuk mencoreti wajah Willy hingga tak ada bentuknya lagi.


"Apa? Mau protes? Atau mau ngadu sama mama? Sana ngadu! Aku ga takut," ujar Gaby bicara sendiri. Tangannya mulai berseluncur ria diatas photo Willy hingga nyaris tak terlihat lagi jika itu adalah photo seorang manusia.


"Aku jadi jahat begini juga gara-gara kamu. Kenapa sih, tiba-tiba kamu harus datang di kehidupan aku? Emang kita pernah punya hubungan apa di kehidupan sebelumnya?" dengus Gaby sambil menatap photo Willy yang kini sudah berubah jadi hitam semua.


Setelah itu, Gaby kembali memasukkan photo Willy kedalam piguranya kemudian melemparkannya secara asal ke lantai. Nyaris pecah. Kaca pigura itu bahkan retak akibat ulah Gaby. Tapi mana ia peduli? Toh, besok pagi juga photo itu akan kembali tertata rapi diatas meja. Berjejer dengan photo-photo lain miliknya yang dirasa sangatlah penting tanpa ada coretan ataupun retakan sama sekali. Hebat bukan? Itulah Magic yang Willy miliki.


Gaby menghela nafas. Ia kemudian bangkit ke arah meja belajar lalu menarik sebuah buku super tebal untuk dibaca. Baru saja dia membuka buku tersebut, tiba-tiba Gaby teringat akan janji yang dibuatnya dengan Mika, sahabat karibnya. Segera ia mencari benda pipih yang sangat canggih dari dalam tas sekolahnya.


Setelah berhasil ditemukan, ia mulai membuka notifikasi pesan dan panggilan yang masuk ke dalam handphonenya.


Ibu jari dan mata Gaby masih tetap terus berselancar membaca satu persatu nama dari para pengirim pesan. Diabaikannya begitu saja setiap pesan yang dikirim oleh Willy. Bahkan jika ia punya banyak waktu luang mungkin semua pesan itu akan langsung dihapusnya agar tak membuat sakit mata.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke handphone Gaby. Nama Mika terpampang dengan jelas disana.


"Halo Mika."


"Halo Gab. Lo jadi kan temenin gue jenguk Riza malam ini?"


"Sorry Mik, kayaknya gue batal deh temenin lo jenguk Riza."


"Lho, kenapa? Gue udah on the way nih."


"Gue ga bisa kemana-mana. Nyokap lagi ada di rumah," bisik Gaby pelan takut di dengar Merry.


"Apa!"


"Gue ga bisa kemana-mana, Mik. Nyokap gue ada dirumah." Gaby melirik ke arah pintu kamar, takut kalau tiba-tiba Merry datang dan memergokinya.


"Masa sih? Kok gue ga lihat mobil antik punya nyokap lo ya?"


"Serius? Emangnya lo udah sampe di depan rumah gue?" Gaby segera membuka tirai jendela kamarnya. Di depan gerbang rumah, nampak sebuah sepeda motor matic tengah terparkir disana. Sang pengendara yang tengah duduk di jok motor melambaikan tangannya saat melihat jendela kamar Gaby terbuka.

__ADS_1


"Ayo, buruan keluar."


"Aduh, gimana ya? Sorry deh, Mik. Gue bener-bener ga bisa. Gue takut ketahuan sama Nyokap. Kemaren gue abis diceramahin soalnya."


"Ayolah, Gab. Gue ga PD nih kalo harus jengukin Riza sendiri. Lo ga kasian apa sama gue? "


"Tapi ...."


"Please."


Gaby akhirnya luluh. Dia kemudian mengendap-endap keluar dari kamarnya. Saat dilihatnya semua lampu sudah padam, Gaby yang yakin jika mamanya memang sedang tak ada dirumah segera berlari ke arah teras. Merry yang sebenarnya saat itu tengah duduk di ruang keluarga pun di buat keheranan. Ditatapnya jam sambil mengerutkan dahi. Merry yang penasaran akhirnya mengekori Gaby sampai ke depan rumah.


"Mau kemana kamu,?" tanya Merry sambil melipat kedua tangannya didada.


Gaby yang kebingungan menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik dan menemukan Merry sedang menatapnya minta penjelasan.


"Eh, Mama. Bukannya Mama lagi pergi ya?" Ritme jantung Gaby tak beraturan. Dia melihat mamanya seperti tengah melihat hantu.


"Kamu mau kemana?" ulang Merry kali ini dengan sedikit penekanan.


"Aku ... aku mau beli pembalut, Ma." Mata Merry menyipit.


"Buat cadangan Ma, persediaan pembalut Gaby kan udah mau habis," jawab Gaby lagi makin membuat Merry tak percaya. Didekatinya Gaby sambil terus menginterogasi.


"Bukannya persediaan pembalut kamu sudah Mama belikan khusus untuk satu bulan? Sebanyak apa kamu dapat menstruasi?"


Seperti di skakmat, Gaby akhirnya diam seribu bahasa. Bibir bawahnya ia gigit saking groginya.


Ketika Gaby kebingungan harus memberikan alasan lain kepada Merry, tiba-tiba Mika kembali menghubunginya. Merry yang melihat handphone Gaby berbunyi segera mengambilnya.


"Tamat sudah riwayatmu, Gab!" gumam Gaby dalam hati.


Gaby memalingkan wajah sambil memejamkan mata.


"Oh, jadi kamu mau pergi sama Mika? Masuk!" titah Merry sambil melotot.


"Mama bilang Masuk!" Kali ini telunjuk Merry sudah melayang di udara. Teriakannya naik satu oktaf yang menandakan jika Merry benar-benar sedang marah. Gaby yang ketakutan pun dengan patuh kembali masuk kedalam rumahnya dengan pandangan yang tak lepas dari handphone yang tengah di genggam sang mama.

__ADS_1


Melihat handphone Gaby yang terus meronta meminta dijawab, Merry dengan gusar pun menjawab panggilan Mika.


"Halo Mika, ini Tante Merry. Mulai hari ini sepertinya Gaby sudah tidak bisa lagi pergi sama kamu. Jadi lebih baik, kamu jangan pernah ajak-ajak Gaby keluar malam seperti ini lagi ya. Mengerti!"


Sambungan dimatikan.


"Ma ..." rengek Gaby tak terima.


"Apa?" sahut Merry sambil mengembalikan handphone. Gaby dengan cepat menerimanya takut jika Merry tiba-tiba berubah pikiran.


"Kenapa sih Mama bilang kayak gitu sama Mika? Dia itu satu-satunya sahabat yang aku punya, Ma."


"Sahabat yang kamu miliki itu hanya Willy, Willy dan Willy. Kalau kamu mau pergi, kamu boleh ajak Willy. Tapi kalau sama yang lain? NO!" tegas Merry membuat Gaby semakin kesal. Dia mulai menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah mulai memerah menahan marah.


"Tapi Ma ..." rengeknya lagi


"Cukup Gab. Mama lagi ga mau berdebat. Lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar, karena besok pagi Willy akan datang lagi kesini untuk mengantar kamu ke sekolah."


"Kenapa harus selalu dia sih, Ma? Aku kan juga punya kehidupan lain tanpa dia."


"Kehidupan kamu sudah digariskan bersama dia oleh Tuhan. Kamu hanya tinggal terima nasib baik kamu karena memiliki seseorang seperti Willy, " terang Merry dengan intonasi mulai meninggi.


"Nasib baik? Nasib baik dengan dijadikan alasan untuk memperoleh uang maksud Mama?" tanya Gaby sinis. Ia menyeringai kepada Merry.


"Ya. Mama memang menjadikan kamu sebagai alasan agar dapat memperoleh uang yang banyak dari Willy. Tapi itu semata-mata demi kebaikan kamu juga. Mama mau kamu mendapatkan segala sesuatu yang terbaik karena Mama tidak bisa memberikan itu semua buat kamu!" terang Merry dingin. Gaby menggeleng tak percaya. Mamanya kini telah berubah. Dan sepertinya keadaan yang sudah membuat Merry berubah.


"Kenapa Mama begini? Apa sekarang yang ada di kepala Mama hanya ada uang, uang dan uang?" Gaby sudah tak tahan lagi. Dadanya naik turun menahan emosi. Airmata yang sejak tadi dibendung mulai mengalir membasahi pipi.


"Tentu. Apa kamu tahu? Papa kamu pergi meninggalkan kita tanpa memberikan sepeserpun hartanya. Semuanya sudah habis disita! Beruntung masih ada rumah warisan ini yang bisa kita tinggali. Kalau tidak, kita mau tinggal dimana? Di kolong jembatan?" cibir Merry.


"Lalu bagaimana dengan kebutuhan kita sehari-hari? Biaya sekolah kamu yang sangat mahal, biaya makan kita sehari-hari, bayar semua tagihan? Apa semua bisa kita lunasi dengan memberikan selembar photo papamu yang terus kamu elus-elus setiap malam?"


"Tapi kan Mama bisa bekerja. Nanti kalau aku sudah lulus sekolah, aku bisa gantikan posisi mama. Aku akan penuhi semua kebutuhan yang tadi mama sebutkan. Mama hanya perlu bersabar."


"Sabar? Kamu kira kurang sabar apa Mamamu selama ini, hah? Setiap hari mama harus mendengar cemoohan semua orang tentang keluarga kita. Mama bahkan sulit mendapat pekerjaan gara-gara label koruptor yang disematkan oleh papamu di kening Mama!" Merry benar-benar emosi. Ada kilat kemarahan yang sangat mengerikan dari manik matanya yang tadinya teduh. Beberapa menit Merry berusaha menguasai amarahnya. Emosinya perlahan nampak berangsur mereda. Merry kemudian menghampiri Gaby lalu mengelus pucuk kepalanya.


"Makanya, harusnya kamu bersyukur karena ada Willy disamping kamu. Dia yang membantu kita selama ini. Dia yang sudah membuat perekonomian kita kembali stabil. Kalau bukan karena dia, kita mungkin sudah jadi gelandangan di luaran sana," terang Merry lembut.

__ADS_1


"Willy itu bukan manusia. Tapi dia malaikat. Malaikat yang dikirim Tuhan untuk kesejahteraan kita," ujar Merry yakin. Dia memeluk Gaby dengan sayang. Tapi Gaby malah berontak. Dia mendorong tubuh Merry hingga menjauh darinya.


"Bagi Mama mungkin Willy memang malaikat. Tapi bagi aku, Willy adalah kebalikannya," ujar Gaby masuk kekamarnya sambil berlari dan tentu saja membanting pintu.


__ADS_2