
"Siapa diantara kalian yang lempar sisa apel ini ke kepala gue?" tanya Reno sambil mengangkat tinggi sisa apel yang sudah mulai berwarna kecoklatan. Gaby dan Mika saling pandang. Anak-anak yang ada dikantin tentu saja menatap mereka. Berharap sebuah keributan terjadi disana.
"Elo?" tuduhnya Reno sambil menunjuk Gaby.
"Bukan!"
"Terus itu apa?" Reno menunjuk tempat bekal berwarna bening yang berada tepat di hadapan Gaby. "Hantu?"
Gaby kaget. Bola matanya hampir loncat saat kotak bekal itu berpindah tempat. Dia kemudian menatap Mika sambil melotot dan bergaya seolah-olah akan memotong leher sahabatnya itu. Sedangkan Mika tentu saja spontan mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon bantuan.
Gaby berdehem beberapa kali untuk mengumpulkan nyali. Reno sang kapten basket memang sudah terkenal temprament kepada siapapun. Tak peduli siswa laki-laki ataupun siswi perempuan. Bahkan Gaby dengar beberapa minggu yang lalu, Reno diskorsing selama satu minggu gara-gara menghajar guru olahraga mereka hingga harus di opname 3 hari di rumah sakit karena berniat mencopotnya dari posisi kapten tim basket.
"Sekali lagi gue bilang sama lo, kalau bukan gue yang lempar sisa apel itu ke kepala lo," terang Gaby yang tentu saja tak langsung dipercayai Reno.
"oh ya? Terus menurut lo sampah ini bisa terbang sendiri ke kepala gue? Dia punya sayap kayak burung, hah?" tanya Reno dengan intonasi naik satu oktaf.
Merasa tak melakukan kesalahan, Gaby kemudian menggebrak meja dengan sebelah tangannya.
"Kok jadi kasar gini sih? Gue kan udah bilang bilang sama lo kalo bukan gue pelakunya. Kenapa lo masih terus-terusan nuduh gue kayak begitu sih!" bentak Gaby tak mau kalah. Reno yang merasa dilawan tak terima dan mulai berulah.
"Elo! Udah salah bukannya minta maaf malah nyolot," ujar Reno yang mengeraskan rahangnya. Tangannya sudah melayang tinggi diudara hendak menampar Gaby namun Leona tiba-tiba datang membuat Reno mengurungkan niatnya. Perhatian semua orang akhirnya berpindah pada sang primadona.
"Uu... Uu... Uu.." Leona bertepuk tangan kemudian mendekat ke arah Reno. Dagunya ia angkat tinggi sambil tersenyum sinis pada Gaby.
Ya ampun, mimpi apa gue semalem sampe bisa kena masalah bertubi-tubi kayak gini.
"Elo lagi. Elo lagi. Belom puas hukuman yang tadi pagi lo dapet dari bu Retno? Emang dasar pembuat onar lo ya!" celetuk Leona. Reno menatap Leona meminta kejelasan.
__ADS_1
"For your information, dia dihukum karena nulis nama cowok di buku pelajarannya," terang Leona yang nampaknya membuat Reno sedikit tertarik.
"Oh ya? Waw!" serunya. "Bingo!" lanjutnya lagi.
"Gadis cupu yang berharap punya pacar tapi sayangnya kata pacar itu cuma ada dalam khayalannya aja," ejek Leona. "Ga mungkin ada kan cowok yang mau sama cewek jelek, cupu dan miskin kayak dia," ujar Leona minta jawaban. Tentu saja Reno mengangguk membenarkan ucapan Leona. "Kalaupun ada kemungkinannya cuma dua. Antara tuh cowok udah putus asa karena ga dapet pacar cantik atau selera tuh cowok yang emang jauh banget dibawah standart," lanjut Leona semangat.
Secupu-cupunya gue, gue masih tetep makhluk ciptaan Tuhan. Kenapa lo yang ribet urusin penampilan fisik gue kayak gini sih?
"Leona, ga usah ikut campur deh! Ini bukan urusan lo kali," bela Mika. Gaby yang tidak mau membuat masalah itu makin panjang karena melibatkan Leona akhirnya meminta Mika untuk pergi bersamanya.
"Udah Mik, jangan ladenin mereka. Mending kita balik ke kelas aja yuk," ajak Gaby sambil menarik tangan Mika. Tak rela mainannya pergi begitu, Reno segera menahan tangan Gaby agar tak pergi sedang Leona menahan bahu Mika agar tetap diam ditempat.
"Mau kemana lo? Masalah kita belom kelar," tegas Reno membuat sebelah tangan Gaby yang tengah berpegangan dengan Mika gemetar dahsyat. Mika yang menyadari ketakutan Gaby mulai khawatir.
"Gab..." panggil Mika. Gaby menganggukkan kepala memastikan dirinya baik-baik saja.
"Gue juga," timpal Leona tak mau kalah. Ditariknya badan Mika menjauh dari Gaby.
"Lo belom minta maaf sama gue," ujar Reno pelan tapi malah semakin mengeratkan cengkramannya di tangan Gaby.
"Oke, kalau gitu gue minta maaf," ujar Gaby. Tapi Reno sepertinya belum ingin melepaskan cengkramannya. "Biarin gue pergi!" teriak Gaby.
"Ngga bisa! Kalo semua masalah bisa langsung kelar hanya dengan minta maaf, penjara pasti kosong!" ujar Reno tak mau kalah. "Bagi gue, masalah ini belom kelar. Dan hanya bisa kelar dengan lo nurutin 3 permintaan gue."
"Gue ga mau! Gue bukan jin botol yang bisa dengan mudah kabulin permintaan orang seenaknya, apalagi itu permintaan orang macem lo!" ujar Gaby menantang Reno. "ayo, Mik. Kita cuma buang-buang waktu disini," ujar Gaby menghempas tangan Reno dengan kencang hingga terpelanting di udara. Sedangkan Mika sengaja menyenggol pundak Leona agar bisa lewat.
"Minggir! Lo ngehalangin jalan gue," seru Mika senang.
__ADS_1
"Tunggu!" ujar Leona pada Gaby dan Mika. Mereka berdua menghentikan langkahnya sejenak kemudian membalikkan badan.
"Apalagi?" tanya Mika. "Lo ga lupa sama pesen Tante Nunik kan untuk ga gangguin gue selama disekolah? Atau lo mau gue laporan sama Tante Nunik biar lo dapet balasan yang setimpal karena udah bikin gue dapet masalah kayak gini?" ancam Mika membuat nyali Leona ciut.
Merasa sudah mendapat lampu hijau, Gaby dan Mika pun bergegas meninggalkan kantin hingga sebuah bunyi sesuatu yang pecah menghentikan langkah mereka.
Praaanngg!
Gaby dan Mika kembali berbalik.
Praaaannnggg!
Lebih kencang lagi suara yang didengar Gaby dan Mika.
Meja yang tadi mereka duduki beserta 3 meja yang berada sejajar dengan meja mereka ditendang Reno hingga semua benda yang ada diatasnya jatuh kelantai. Semua berserakan. Makanan, piring, gelas dan minuman tumpah ruah semua. Gaby dan Mika kompak menutup mulutnya, sedangkan para siswa yang tengah makan dikantin akhirnya berdiri semua. Menatap keadaan kantin yang kini berantakan seperti baru diserang angin tornado.
"Masih ga mau nurutin permintaan gue?" tanya Reno sambil tersenyum miring. Leona nampak senang, dia bergaya bak photo model sambil bersandar di dinding kantin.
"Ada apa ini?" tanya Riza tiba-tiba hadir disana. Dia memandang satu persatu siswa yang ada dikantin meminta jawaban. Tapi sepertinya tak ada satupun siswa yang berani menjawab pertanyaan Riza.
"Gaby?" panggil Riza saat semua mata tertuju ke arahnya. Bergantian dengan Reno yang berdiri disisi yang bersebrangan. Sedangkan Mika yang merasa bersalah menyembunyikan wajahnya dibelakang punggung Gaby agar tak dilihat Riza. Takut jika Riza tahu asal muasal masalah ini adalah karena dirinya.
Riza paham. Hanya ada Gaby, Reno, Leona dan Mika di sudut berbeda. sudah dipastikan keributan yang terjadi berasal dari mereka berempat.
"Kenapa pertengkaran kalian sampai merusak fasilitas milik sekolah seperti ini?" tanya Riza sambil membereskan kembali meja dan kursi yang jatuh terkena terjangan Reno.
"Karena dia yang mulai duluan." jawab Reno santai
__ADS_1
"Enak aja. Gue kan udah bilang kalo bukan gue yang lempar." sanggah Gaby tetap pada pendiriannya.
"Cukup! Sekarang juga, lebih baik kalian ikut gue ke ruang Osis." ujar Riza bermaksud menyelamatkan Gaby. Namun sayangnya berita pertengkaran Gaby dan Reno sudah sampai ke telinga guru BK hingga membuat keduanya mau tak mau harus disidang diruang kedisiplinan.