
Gaby memutuskan menghentikan langkah tepat di depan rumah tetangganya sebelum sampai di gerbang rumah saat melihat sebuah sedan hitam terparkir di jalanan tepat di depan rumahnya.
Apa itu Willy? Tapi Willy kan masih di luar kota. Lagipula itu bukan mobil yang biasa Willy pakai. Willy juga ga pernah parkir di tengah jalan begitu.
Kening Gaby berkerut, tak lama kemudian ia mengeluarkan handphonenya. Dilihatnya layar pop up dari benda pipih berwarna merah muda itu. Namun kerutan diwajahnya masih belum hilang meski sudah hampir 2 menit ia memandangi handphonenya.
Hari ini Willy sama sekali belum menghubunginya. Mengirimkan pesan pun tidak.
Apa itu beneran Willy ya?
Tiba-tiba dari dalam rumah keluar Merry yang sudah berdandan rapi. Wajahnya cantik dan nampak bersinar cerah berbeda dengan tadi saat ia turun dari motor Reno. Merry yang terlihat kesal menahan amarah berjalan mondar mandiri seperti sedang menunggu seseorang.
Tidak bisa di pungkiri, Merry memang berparas cantik. Sangat cantik! Wajahnya yang keibuan dengan tatapan lembut pasti dapat menyihir siapapun yang menatapnya. Belum lagi kulitnya yang putih bersih dengan rambut hitam lebat yang lurus seperti bintang iklan shampo. Bisa dikatakan Merry adalah sosok wanita dengan paket komplit yang pernah ada. Pantas saja papanya Gaby dulu begitu tergila-gila pada Merry. Pesonanya memang begitu sulit untuk ditampik.
Gaby mengekori gerakan tubuh mamanya dari semenjak keluar gerbang hingga masuk kedalam mobil. Merry membuka pintu mpbil bagian depan kemudian nampak duduk dengan anggun.
Ga biasanya mama duduk di samping pengemudi. Siapa orang di dalam mobil itu?
Gaby mendongakkan lehernya. Namun wajah dari si pengemudi tak dapat ia lihat secara jelas. Jaraknya yang terlampau jauh membatasi indera penglihatannya.
Tak lama berselang, mobil sedan hitam itu pun melaju dengan kecepatan penuh. Gaby yang tadinya ingin mengejar tentu kalah start. Kecepatan kakinya tidak bisa di samakan dengan perputaran ban yang digerakkan oleh mesin.
"Hey!" Seru seseorang mengagetkan.
Gaby tersentak saat melihat Tania dengan setelan piyamanya datang dari belakang. Rambut panjangnya belum disisir dengan sedikit poni yang agak berantakan. Tania nampak mengikat rambutnya asal-asalan tak perduli dengan hasilnya hingga membuat Tania nampak seperti orang yang baru bangun tidur.
"Tania!" seru Gaby
"Ngapain berdiri disini aja? Ayo masuk," ajak Tania sambil berjalan mendahului Gaby. Gaby menurut dan mengekori Tania masuk kedalam rumah.
Dibukanya sepatu dari teras kemudian ia menjinjingnya masuk kedalam ruang tamu lalu menempatkan sepatu itu didalam rak yang terbuat dari kayu jati asli. Rak sepatu dengan ornamen ukiran kesukaan papanya.
"Abis darimana?" tanya Gaby saat masuk kedalam rumah. Dilihatnya Tania menyimpan sebuah kantong keresek warna putih susu diatas meja makan.
"Beli makanan," sahutnya sambil memindahkan makanan yang baru dibelinya tadi kedalam piring. "Mau?" tawarnya.
__ADS_1
Harum masakan penuh rempah berwarna kuning itu sebenarnya menggugah selera Gaby. Tapi mengingat kemarin Tania berkata jika ia tidak suka berbagi makanan dengan siapapun, ya jadi Gaby tolak saja tawarannya.
Gaby menggeleng. "Willy udah pulang dari luar kota ya?" Gaby menyimpan tasnya diatas sofa kemudian duduk dengan mata tertuju pada layar handphonenya.
Ada beberapa pesan masuk yang yang belum dibaca.
Unknown : 'besok gue anter pulang lagi ya'
Emoticon mengedip itu membuat Gaby tersenyum kecil. Gaby segera membalasnya.
Gaby : 'oke. thanks sebelumnya. Dan sekali lagi terima kasih udah benerin handphone gue. semoga amal ibadah lo di terima disisi Tuhan Yang Maha Esa'
Gaby kemudian kembali berselancar membuka pesan lainnya.
Ada pesan dari Mika yang heboh karena berat badannya kembali turun 1 kg. Ada juga pesan dari grup OSIS yang berencana mengadakan bazaar amal di halaman depan sekolah.
"Belum. Kan gue udah bilang, Willy pulangnya minggu depan," ujar Tania kini duduk di kursi makan lalu mengambil sepasang garpu dan sendok dari tempatnya. "Kenapa? Jangan-jangan lo kangen ya sama Willy?" tebak Tania tak suka.
Belum sempat Gaby menjawab, Tania sudah lebih dulu mengancamnya. "Jangan berani-berani kangen sama dia ya. Inget, lo udah relain dia buat gue," ujar Tania sambil mengacungkan garpu ditangan kirinya.
Gaby masih tersenyum. Reno membalasnya dengan sebuah emoticon lagi.
Gaby kembali tersenyum. Dibalasnya pesan Reno dengan semangat.
Gaby : 'bisa diatur'
Pesan dikirimkan. centang dua berwarna biru nampak dari pinggir kanan pesan yang dikirimkan Gaby kepada Reno.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Lo lagi kirim pesen sama siapa?" tanya Tania penasaran.
"Temen," sahut Gaby singkat. Ditatapnya photo profile Reno yang tengah bergaya diatas motor merah kesayangannya.
"Temen apa 'temen'?" tanya Tania lagi memastikan.
Gaby kemudian memasukkan handphonenya kedalam tas.
__ADS_1
"Lo tau mama pergi kemana?" tanya Gaby tak berniat menjawab pertanyaan Tania.
"Arisan kali. Gue kan abis dari luar."
"Kayaknya bukan deh. Soalnya tadi gue ngeliat mama pergi naik mobil."
"Mana gue tau. Nanti aja coba lo tanyain, abis darimana sama abis ngapain nyokap lo diluar sana. Itupun kalo lo ga mau di ceramahin kayak biasa." Tania tertawa. Gaby memandang sinis pada Tania.
"Gue punya feeling aneh sama mama."
"Feeling aneh gimana?" Tania mulai berhati-hati dalam berkata. Takut keceplosan seperti tempo hari.
"Apa mama mulai ngelupain papa ya?" tanya Gaby entah pada siapa.
Tania menelan makanannya dengan wajah datar. Sebenarnya ia sangat ingin memberitahu Gaby tentang perselingkuhan mamanya, namun jika Gaby sudah tau kebobrokan Merry lantas apalagi ancaman yang bisa ia jadikan senjata untuk meminta hal-hal ajaib pada Merry yang sudah pasti akan langsung dituruti oleh mama tirinya itu.
"Feeling itu kadang cuma prasangka aja. Presentasi kemungkinan kejadiannya itu 20%-80%. Karena sebenernya yang lebih nyata itu jauh lebih meyakinkan dibanding kita pake feeling."
"Maksud lo apa?" Gaby kebingungan. Apalagi Tania yang mengucapkannya jauh lebih bingung. Dia akhirnya tersenyum kuda lalu kembali memakan sisa makanannya.
"Anggap gue ga pernah bilang apa-apa," ujar Tania
"Kalau sampai mama ngelupain papa dan nikah sama laki-laki lain gimana?"
Tania terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Gaby.
Uhuk-uhuk..
Tania mengambil segelas air kemudian meneguknya.
"Itu ga akan terjadi. Papa belum ditemukan, dan nyokap lo ga mungkin bisa nikah lagi tanpa persetujuan kita,"
"Jadi lo ga setuju kalo nyokap gue nikah lagi?"
"Jelas" sahut Tania cepat. Sebenci apapun Tania pada papanya ia tidak akan pernah membiarkan orang lain menyakitinya perasaan papanya.
__ADS_1
"Eh, by the way gimana kelanjutan Daniel? Lo udah temuin rumahnya yang sekarang?" tanya Tania mengalihkan pembicaraan.
Gaby yang sama sekali belum mendapat perkembangan tentang Daniel segera ambil langkah kaki seribu ke kamarnya agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Tania yang lain.