Get Back Love

Get Back Love
Hujan


__ADS_3

"Leona emang bener-bener harus dikasih pelajaran!" Mika geram dengan ulah Leona. Dia yang mengetahui Gaby kembali di bully oleh Leona segera berlari ke toilet tanpa pikir panjang. Padahal saat itu ia tengah berdiskusi dengan teman satu kelompoknya untuk membahas tugas.


"Udah, Mik. Gue ga apa-apa kok," sahut Gaby menenangkan. Dia tak mau Mika laporan kepada mamanya karena takut membuat Leona akan merasa semakin kesal kepada dirinya. Gaby ingin masalah antara dirinya dengan Leona hanya menjadi masalah mereka berdua saja. Tidak perlu menyeret orang lain didalamnya.


"Ga apa-apa gimana? Badan lo tuh udah kayak adonan fried chicken tahu, tinggal digoreng di minyak panas, terus kalo udah mateng bisa di cocol pake saos cabe," gerutu Mika lagi membuat Gaby menghela nafas panjang kemudian tersenyum kecil.


Katanya pengen kurus. Tapi yang ada di pikiran lo makanan terus.


Mika lantas membantu Gaby membersihkan sisa tepung yang masih tersisa di rambut dan pakaian olahraga Gaby menggunakan tissue. Setelah merasa sedikit lebih bersih, Mika mengajak Gaby untuk segera pulang.


"Lo gue anterin pulang aja ya, Gab. Pasti lo risih kalau harus naik angkot dengan kondisi kayak gini," ujar Mika sambil menepuk punggung Gaby yang masih menyisakan serpihan tepung hingga beterbangan ke udara. Gaby tak segera menjawab. Dia mempercepat langkah kakinya ke ruang kelas diikuti Mika yang nampak kewalahan.


Setelah mengambil tas di kelas masing-masing, mereka yang hanya berdua saja kemudian berjalan bersama di lorong sekolah karena hampir seluruh siswa sudah pulang ke rumah masing-masing sejak bel tanda pulang sekolah berbunyi.


Gaby menatap langit yang mulai menggelap. Jepretan kilat dan gelegar gemuruh petir terdengar saling bersahutan. Mika bahkan sampai menutup kedua telinganya karena ketakutan.


"Mending lo pulang duluan aja, Mik. Arah rumah kita kan beda. Kalau lo anterin gue pulang dulu, bisa-bisa lo kehujanan di jalan."


"Terus nasib lo?"


Gaby tersenyum kemudian merangkul pundak Mika. "Gue naik angkot aja kayak biasa. Paling nanti gue diliatin penumpang satu angkot, dikira abis kecebur di got gara-gara badan gue kotor." Gaby kemudian tertawa sendiri membayangkan nasibnya kala naik angkot nanti.


"Malu dong nanti."


"Ya malu dikit ga apa-apa. Kan gue ga kenal ini sama mereka," ujar Gaby akhirnya membuat Mika tersenyum.


"Yaudah, kalo gitu gue duluan ya. Lo hati-hati dijalan. Kalau jatoh nanti bangun sendiri," nasehat Mika sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia lantas berjalan ke arah halaman parkir kemudian mengenakan helmnya lalu segera tancap gas agar tak kehujanan dijalan.


Saat melihat Gaby berdiri sendiri di halte sekolah, Mika pun akhirnya berubah pikiran. Dia menghentikan motor maticnya tepat di depan Gaby sambil menyerahkan helm.


"Gue anterin aja yuk. Ga tega gue ngeliat lo berdiri sendiri disini kayak anak hilang." Mika memamerkan senyum kudanya. Gaby yang tadinya ragu-ragu akhirnya naik motor Mika juga. Badannya ingin segera dia siram dengan air hangat agar terasa segar. Gaby lantas meraih helm yang disodorkan Mika lalu memakainya.


Baru beberapa meter motor Mika melaju, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mika segera memundurkan kembali motornya ke halte sekolah kemudian mereka berdua loncat dari motor seperti dua ekor kelinci.


"Emang kita ga dibolehin pulang kali, Gab. Makanya daritadi dapet halangan terus," ujar Mika sambil mengusap lengannya yang basah. Sedangkan Gaby sibuk meniup dan menggesek kedua telapak tangannya agar terasa hangat.


"Iya kali. Sorry ya Mik, gara-gara gue lo jadi kejebak hujan disini."


"Santai aja, lagian kan gue ga ada..." ujar Mika menggantung namun tak lama kemudian dia menepuk jidatnya. "Ya ampun, gue lupa. Tadi sebelum temuin lo di toilet gue janji sama anak-anak buat lanjutin tugas di rumah Arka. Pasti mereka lagi nunggu gue deh," Mika lantas mengeluarkan handphonenya.


"Tuh bener kan," ujar Mika sambil menunjukkan layar handphonenya. Ada panggilan dari Arka yang meminta segera dijawab.


"Ya, gue masih disekolah nih. Hujannya gede banget."


Gaby mengulurkan telapak tangannya berusaha menampung tetesan air hujan.


"Iya, gue usahain dateng kesana secepatnya."


Gaby kemudian menengadah memandang langit yang masih dengan senang hati menurunkan hujan. Gaby tersenyum.

__ADS_1


"Gab." panggil Mika tak enak.


"Yaudah, sana. Gue ga mau dijadiin alasan kalau nanti lo ditanyain nyokap lo gara-gara ga lulus standart kompetensi."


"Lo emang bener-bener sahabat yang paling pengertian, Gab. Gue cabut kalo gitu. Perlu gue panggil Willy?" Goda Mika lagi yang kini tengah mengenakan jas hujan berwarna hijau tua.


"Mikaaaa!" pekik Gaby jengkel.


"Becanda. Nomornya aja gue ga punya. Bye Gab!" Mika melaju meninggalkan Gaby sendiri.


Hujan masih terus turun dengan derasnya. Angkutan kota yang ditunggu Gaby pun sepertinya masih enggan berkeliaran dijalanan mencari penumpang. Karena sejak kepergian Mika beberapa menit yang lalu masih belum juga nampak ada angkutan kota yang melintas di depan Gaby. Jalanan sangat sepi. Hanya ada beberapa motor dan mobil pribadi yang melintas melaluinya begitu saja.


"Handphone gue pake hilang sih. Kalo ga hilang kan gue bisa pesen ojek online," gerutu Gaby menyesal. Gaby duduk sambil terus berharap hujan segera berhenti.


Satu jam berlalu.


Tiiin.. Tiiin..


Sebuah mobil SUV berwarna silver berhenti tepat di depan halte.


"Gab..." panggil seseorang setelah menurunkan kaca mobilnya. Orang itu nampak tersenyum ke arah Gaby.


Gaby mempertajam penglihatannya. "Riza!" seru Gaby senang. Akhirnya ada malaikat transportasi yang bisa dimintai pertolongan.


"Mau balik? Yuk bareng gue," ajak Riza membuka kunci pintu mobilnya.


"Emangnya ga ngerepotin?" tanya Gaby basa-basi.


Gaby mengangguk. Senyum mengembang dia berikan pada Riza.


"bukan di Palm Residencenya sih. Tapi deket sama Palm Residence," terang Gaby membenarkan.


"Yaudah, ayo masuk. Badan kalau basah terlalu lama bisa bikin masuk angin."


Gaby kemudian membuka pintu mobil. Dia lantas duduk lalu mengenakan seatbelt. Gaby tak menyadari jika ada empat pasang mata yang tengah mengawasinya dari jauh.


"Terima kasih banyak ya. Kalau ga ada lo mungkin gue bakalan berdiri di halte sampe lumutan." Riza tersenyum kemudian melajukan mobilnya.


"Sama-sama."


"Gue pikir lo pulang bareng temen lo yang gemuk itu. Siapa namanya?"


"Mika."


"Ya, Mika."


Tiba-tiba Gaby mengingat Mika. Bisa menyesal seumur hidup Mika yang tadi pulang duluan kalau tahu Riza mengantarnya pulang.


Setidaknya kalau tadi dia masih berada di halte, Mika bisa pura-pura kalau motornya sedang mogok agar Riza mau mengajaknya pulang bersama-sama juga.

__ADS_1


"Tadinya sih gue mau pulang bareng Mika, tapi karena Mika mau ngerjain tugas di rumah temennya makanya kita pulang masing-masing."


"Oh gitu. Emang rumah kalian dekat?"


"Engga. Beda arah malah."


Mika, lo pasti bakalan seneng sampe pingsan kalo denger pangeran impian lo ini ngebahas tentang lo sekarang sama gue.


"Kalian pasti deket banget ya?"


"Kami sahabatan dari Taman Kanak-Kanak."


Riza mengangguk.


Hujan mulai reda. Tidak ada lagi tetesan air di kaca mobil Riza.


"Emang lo selalu pulang jam segini ya?" Gantian kini Gaby mulai menginterview Riza. Berharap ada informasi penting yang bisa ia bocorkan kepada Mika nanti sebagai kejutan.


"Iya, bahkan hari minggu pun kadang-kadang gue masuk sekolah juga," ujar Riza sambil tertawa kecil.


"Rajin amat!" seru Gaby membuat senyum Riza semakin lebar.


"Tuntutan peran. Oh ya, itu baju lo kenapa ada putih-putihnya gitu, Gab?" tanya Riza yang baru sadar jika pakaian Gaby sedikit kotor.


"Oh ini..." Belum sempat Gaby menjawab, sebuah mobil berkali-kali mengklakson mereka.


"Apa sih maunya itu orang? Daritadi gue perhatiin kok ngebuntutin kita terus," ujar Riza kesal.


"Mungkin dia lagi buru-buru dan susah buat nyalip mobil lo."


"Jalanan masih luas, Gab. Lo ga lihat apa kondisinya lengang kayak gini?" tanya Riza malah sengaja menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Sontak mobil yang tadi hanya mengklakson pun langsung menyalip dan menghentikan mobil Riza dengan paksa.


"Cari masalah ini orang." seru Riza memukul stir mobilnya kemudian dengan kasar mencopot seatbeltnya.


Seorang lelaki beruban nampak turun dari dalam mobil kemudian berjalan menghampiri Riza. Riza pun sama, dia keluar dengan wajah kesal seperti hendak memaki lelaki itu.


"Hey nga-" Riza melongo saat ia dilewati begitu saja oleh lelaki itu. Lelaki itu kemudian


mengetuk kaca mobil. Gaby yang keheranan membukanya dengan hati-hati.


"Non Gaby, den William sudah menunggu di dalam," ujarnya sopan sambil menunjuk mobil berwarna putih dengan ibu jarinya.


"Willy?" tanya Gaby. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.


"Siapa dia, Gab?"


"Oh, ini tetangga gue. Katanya dia dimintain tolong sama nyokap gue buat jemput. Mungkin nyokap gue khawatir gue pulang kehujanan" Ujar Gaby membuat Riza bingung.


"Yakin dia tetangga lo?" ulangnya memastikan. Gaby hanya tersenyum menjawab pertanyaan Riza.

__ADS_1


"Kalau gitu, terima kasih tumpangannya ya. Gue duluan. Mari pak," ajak Gaby meninggalkan Riza yang hanya bisa memandang kepergian Gaby menuju mobil sedan mewah dengan lambang trisula.


__ADS_2