
"Non Gaby tidak ikut istirahat?" tanya pak Mus membuka pembicaraan. Gaby hanya menggelengkan kepala. Masih sebal dengan lelaki beruban yang kini malah tersenyum kepadanya.
Gaby melirik Willy yang tengah memejamkan
mata. Wajahnya nampak tenang, bahkan sesekali terdengar dengkuran halus dari mulutnya. Gaby tersenyum melihat wajah polos Willy yang seperti bayi tak berdosa. Diamatinya setiap inchi dari wajah lelaki yang sampai saat ini masih dibencinya. Terkadang Gaby merasa jahat juga karena sudah membenci Willy hanya karena ia selalu turut serta mencampuri kehidupannya.
"Kapan Willy sampai dari luar kota?" tanya Gaby yang lama-lama merasa bosan juga hanya mematung tak bicara. Lagipula lelaki yang ia ajak bicara bukanlah Willy. Meskipun sebenarnya mereka sama-sama menyebalkannya.
"Kami tiba tepat saat pintu gerbang sekolah Non Gaby dibuka," terang pak Mus kemudian kembali berkata, "Den Willy meminta saya untuk mempercepat laju kendaraan agar tidak terlambat menjemput Non Gaby." jawabnya tenang. Dia masih terus fokus memegang kemudi sambil sesekali melirik ke arah spion.
Jadi mereka baru aja sampai?
"Oh." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir tipis Gaby.
Dengkuran halus Willy yang nampak kelelahan menjadi lagu tersendiri bagi Gaby selama perjalanan. Sejak tangisannya berhenti tadi, Gaby lebih senang memalingkan wajahnya agar tidak dilihat Willy. Baginya, itu adalah tangisan pertama dan terakhir yang boleh Willy lihat. Ia tidak ingin menunjukkan sisi terlemahnya lagi.
Begitu pula dengan Pak Mus yang tengah menyetir. Dia nampak tersenyum kecil melihat tingkah unik bosnya saat sedang terlelap.
Wajah pak Mus pun nampak tak kalah lelah. Di usianya yang sudah senja, seharusnya pak Mus beristirahat saja di rumah bukan malah bekerja keras seperti kuda.
Meskipun tak dapat dipungkiri, diusianya yang sudah melewati setengah abad tubuh pak Mus nampak masih kekar berotot. Wajah ramahnya hanya ia tujukan kepada orang-orang tertentu saja.
Seperti saat berpapasan dengan Riza tadi, wajah pak Mus nampak seperti seorang debt collector yang hendak menagih hutang. Garang sekali nampaknya.
"Pak Mus udah lama jadi driver-nya Willy?" tanya Gaby penasaran. Selama ini dia sama sekali tidak pernah bertanya apapun kepada Willy. Semua informasi tentang Willy hanya ia ketahui dari mulut sang mama. Gaby bahkan baru pertama kali bertemu dengan pak Mus setelah sekian lama kebersamaannya dengan Willy.
"Sudah hampir setengah dari hidup saya, saya abdikan untuk bekerja kepada keluarga Atmaja, Non"
__ADS_1
"Waw, selama itu?" Gaby takjub. Jarang sekali ada pekerja yang sangat loyal terhadap majikannya. Apalagi bisa sampai bekerja selama puluhan tahun seperti pak Mus.
Pak Mus nampak tersipu, dia lantas kembali bercerita, "Dulu hidup saya sangatlah susah, Non. Hanya ingin bisa makan saja, saya harus bekerja seharian dulu agar dapat membeli sebungkus nasi," kenangnya sedih. Gaby nampak seksama mendengarkan cerita dari pak Mus.
"Waktu itu, saya sudah sangat putus asa menghadapi beratnya beban kehidupan ini. Saya berniat mengakhiri hidup saya dengan menabrakkan diri saya di perlintasan kereta api,"
"Terus...." Gaby nampak penasaran. Dia yang tadinya menyender kini duduk dengan tegak.
"Terus kakeknya den Willy datang menyelamatkan saya. Beliau yang kala itu belum menjadi pengusaha sukses seperti sekarang, menyadarkan saya jika hidup saya sebenarnya sangatlah berarti jika saya selalu mensyukurinya,"
Gaby tersenyum. Kakek Willy memang pribadi yang sangat menginspirasi. Beliau selalu bisa memberikan semangat dan aura positif kepada semua orang yang ada disekelilingnya. Termasuk Gaby yang saat itu hanya pernah bertemu dengannya satu kali di acara pemakaman nenek Willy satu tahun yang lalu.
"Akhirnya saya bangkit. Saya buang jauh-jauh istilah putus asa dari kamus hidup saya. Saya mulai menata lagi hidup saya yang berantakan hingga akhirnya saya bisa berada disini bersama dengan den William dan Non Gaby," ujarnya bangga.
"Maaf ya, Pak. Tapi... Apa Bapak tidak mau berhenti dari pekerjaan ini? Pak Mus kan sudah cukup sepuh untuk bekerja sekeras ini. Apalagi jika orang yang Bapak ikuti itu adalah Willy," ujar Gaby membuat pak Mus tertawa.
Gaby mengendikkan bahu sambil tersenyum kecil.
You know what i mean!
"Saya sudah berjanji. Jika seluruh anggota tubuh saya ini masih bisa berjalan dengan baik, saya akan terus mengabdikan hidup saya untuk keluarga Atmaja. Menjaga semua keturunannya dengan mempertaruhkan seluruh hidup saya."
"Sampai sebegitunya kah?" Pak Mus mengangguk mantap.
"Bagi saya, keluarga Atmaja sudah seperti tubuh saya sendiri. Saya tidak akan rela jika ada seorang pun yang menyakiti keluarga Atmaja," Pak Mus sangat emosional. Tatapan matanya begitu mengerikan membuat bulu kuduk Gaby tiba-tiba meremang.
"Termasuk saya jika berani menyakiti Willy?"
__ADS_1
"Non Gaby kan nantinya akan menjadi anggota keluarga Atmaja juga. Apa mungkin saya berani melakukan sesuatu kepada Anda,?" Tanya pak Mus yang melirik spion dengan alis mata yang terangkat sebelah. Gaby tersenyum kikuk. Dia kemudian kembali menyenderkan punggungnya sambil menatap jalanan yang dipenuhi deretan kuda besi yang menunggu antrian untuk berjalan. Suasana macet memang membosankan!
"Masih lama ya perjalanannya, Pak?"
"Harusnya sebentar lagi, Non. Jalanannya masih agak macet," terang pak Mus sambil menunjuk ke kaca depan. Gaby mengangguk. Gaby lantas kembali melirik Willy. Cukup lama juga ia tertidur. Handphone yang Willy simpan tepat di tengah-tengah mereka terus mengaum minta di angkat.
"Kasihan den Willy. Sudah beberapa tahun terakhir ini saya mendengar jika dia terkena insomnia," ungkap pak Mus pelan. Dia takut mengusik ketenangan tidur yang baru saja Willy dapatkan. Tatapan iba ia tunjukkan sambil menarik nafas berat.
"Oh ya?" tanya Gaby kaget karena baru mengetahuinya.
Pantesan aja pagi-pagi buta dia udah dateng ke rumah gue. Ternyata dia kena insomnia?
"Beberapa tahun yang lalu den William sempat terlibat sebuah kecelakaan. Dia secara tak sengaja menabrak mobil hingga membuat pengendara mobil tersebut koma hingga berbulan-bulan lamanya," ungkap pak Mus membuat Gaby melirik Willy lagi.
Kali ini dengkuran halus Willy tak terdengar. Wajah tenangnya pun berubah seperti ketakutan. Matanya ia pejam rapat-rapat hingga nampak sebuah kerutan di ujung kelopak matanya. Dadanya naik turun, dia seperti tengah memperoleh mimpi buruk dan kesulitan untuk terjaga. Tangannya terulur kemudian matanya terbuka. Membulat sempurna seperti baru saja melihat setan.
"Den Willy baik-baik saja?" tanya pak Mus khawatir. Willy masih mematung. Dia menatap kosong pemandangan di hadapannya. Dadanya masih naik turun hingga suara Gaby akhirnya menyadarkannya.
"Lo kenapa?" tanya Gaby tak kalah panik. Dia segera mengambil botol air mineral kemudian membuka tutupnya dengan terburu-buru.
"Nih, minum dulu." Gaby mengarahkan botol itu ke bibir Willy agar dapat segera diminum. Willy memgambil alih botol tersebut kemudian terus meneguk air di dalamnya hingga hampir habis. Setelah selesai Willy kembali menyerahkan botol air itu kepada Gaby.
"Lo ga apa-apa kan, Wil?" tanya Gaby saat melihat tangan Willy bergetar. Pak Mus memutuskan untuk menghentikan laju mobil yang ia kendarai sementara waktu sampai Willy benar-benar memperoleh ketenangan.
"Lo mimpi apa?" tanya Gaby lagi. Kali ini Willy menatap Gaby. Wajahnya begitu pucat pasi dengan tatapan yang penuh tertuju padanya.
"Gue mimpi buruk lagi, Gab. Gue mimpi buruk." Willy spontan memeluk Gaby dengan sangat erat. Sedangkan Gaby yang terkejut karena di peluk Willy mengepalkan kedua tangannya. Tegang!
__ADS_1