
Halaman depan sekolah Gaby kini sudah disulap sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik hingga dapat mengundang perhatian warga sekitar sekaligus masyarakat yang kebetulan melintas di depan sekolah.
Sebenarnya para pengurus OSiS telah menyebarkan undangan kepada banyak pihak, namun karena harapan mereka jauh lebih besar dari itu, maka semakin banyak yang datang maka semakin banyak pula dana yang terkumpul untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan.
Saat itu acara Bazaar sudah mulai didatangi para pengunjung. Gaby tak menyangka jika masyarakat sekitar bisa seantusias ini dalam menyambut acara yang di adakan oleh sekolahnya. Banyak sekali booth yang sudah mulai laris manis dibeli para pengunjung. Baik itu makanan, pakaian, kerajinan tangan dan yang lainnya yang sebagian besar merupakan hasil karya siswa-siswi disekolahnya.
Ada pula sebagian dari mereka yang mengantre di booth donor darah. Disana sudah ada beberapa petugas PMI yang berjaga untuk melaksanakan tugas mereka.
"Hai," sapa Reno menghampiri Gaby yang tengah membantu Adam merapihkan barisan buku yang ada di pajangan.
"Oh hai," sahut Gaby. Reno menatap Adam untuk segera menyingkir dari pandangannya. Adam dengan wajah masam memberitahu Gaby jika ia akan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Gue ke perpus dulu, Gab. Ada buku yang harus gue ambil."
"Mau gue bantu?" tanya Gaby cepat. Dia bangkit dan berdiri hendak menemani Adam.
"Eeeh, udah ga usah! Dia kan anak cowok, masa ga malu dibantuin ama cewek," Reno yang menyahut. Membuat wajah Adam semakin kecut saja bak cuka. "Mending lo disini aja. duduk manis jagain buku-buku kesukaan lo," ujar Reno lagi kemudian memaksa Gaby duduk bersamanya dikursi lalu mengambil sebuah buku dan pura-pura membacanya.
"Iya, lo disini aja. Nanti kalo ada pengunjung yang datang ke booth ini jadi ada yang membantu," ujar Adam Manis.
"Oh, Oke kalau gitu," sahut Gaby. Lelaki berkulit sawo matang dengan rambut ikal itu kemudian bergegas pergi meninggalkan Gaby dan Reno berdua.
"Yang lama ya, kalo perlu ga usah balik sebelum booth tutup," teriak Reno membuat pengunjung yang tengah berada di booth lain melirik ke arah mereka.
"Reno!" teriak Gaby.
"Biar keliatan, Gab. Kalo ga bikin heboh, ini booth bakalan sepi terus kayak kuburan," bela Reno tak mau disalahkan meski ulahnya membuat Pak Bastian kini semakin intens mengawasi booth yang tengah dijaga Gaby.
"Lo ga masuk kelas?" tanya Gaby heran. Dia kembali merapihkan buku yang masih berserakan di meja.
"Tuh, si Gendut juga kenapa ga masuk kelas?" tanya Reno sambil menunjuk Mika yang tengah membantu di booth makanan. Mendengar pertanyaan Reno membuat Gaby memutar bola matanya.
"Jangan terlalu deket ama si Adam. Keliatannya aja anak baik-baik, padahal aslinya playboy cap kabel," ujar Reno lagi kini menutup bukunya kemudian duduk bersidekap diatas meja.
"Siapa juga yang deket sama dia? Gue disini cuma disuruh kak Riza buat jagain booth buku sama dia. Itu doang, ga lebih."
Orang lagi jalanin tugas malah dituduh PDKT. Dasar Reno!
"Bener?" Gaby mengangguk malas.
"Lo sendiri kenapa ga masuk kelas?" Tanya balik Gaby.
"Males. Lagi banyak masalah," sahut Reno kini menenggelamlam wajahnya dibalik lipatan tangannya.
__ADS_1
"Kayaknya kalian beneran jodoh deh," Reno otomatis bangun dan menatap Gaby kaget.
"Siapa?" tanyanya
"Elo."
"Sama Tania?" Reno tersenyum saat menyebut nama perempuan yang ditaksirnya.
"Ish, kok Tania sih."
"Ya terus siapa?"
"Mika."
"Ya Tuhan! Amit-amit," ujar Reno mengetuk meja tiga kali. Gaby tertawa melihat tingkah Reno.
"Nah gitu dong, ketawa. Lo cantik juga kalo diliat-liat. Apalagi kalo dibuka kacamatanya..." Reno melepas kacamata Gaby. "Digerai rambutnya..." Reno hendak membuka ikat rambut Gaby namun segera dicegah.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Gue belom keramas. Hehe." Gaby segera kembali mengenakan kacamatanya
"Ehem... Ehem..." pak Bastian kini mendekat dan berdiri tepat disamping Reno.
"Kamu bukan pengurus OSIS kan? Kenapa ada disini? Sana, masuk kelas!" titah pak Bastian garang. Tapi Reno seperti tak perduli, dia lalu pura-pura membantu Gaby merapihkan buku.
"Hey, murid tidak tahu sopan santun!" bentak pak Bastian marah.
"Bapak panggil saya apa Gaby?" tanya Reno pura-pura amnesia.
"Ya kamu lah. Memang kamu pikir saya panggil murid kesayangan saya?"
"Ada apa pak?"
"Saya tanya sama kamu, untuk apa kamu ada disini? Kamu bukan pengurus OSIS bukan?" ulang Pak Bastian sedikit jengkel.
"Ya memang bukan sih pak, cuma booth ini kan lagi kekurangan orang. Yang jaga disini cuma satu orang dan itu Gaby, murid kesayangan bapak. Memang bapak ga kasihan ngeliat Gaby bengong sendiri ngejagain booth sepi ini? Engga kan? Jadi saya berinisiatif buat temenin Gaby disini sampai temannya datang," ujar Reno menjelaskan.
"Memang kemana si Adam, Gab?" tanya Pak Bastian sambil menyapukan pandangannya ke arah kerumunan orang yang memenuhi area bazaar.
"Adam lagi ambil buku pak," sahut Gaby. Dia merasa tak enak kepada pak Bastian.
__ADS_1
"Buku? Buku untuk apalagi?" tanya pak Bastian bingung.
"Saya kurang tahu pak."
"Oh yasudah, kalau begitu kamu jaga booth ini baik-baik ya. Nanti saya akan suruh anak lain panggilkan Adam kesini. Kalau begitu saya akan berkeliling dulu memeriksa situasi. Dan kamu!" tunjuk pak Bastian pada Reno. "Kalau mau bantu, jangan macam-macam. kalau tidak saya bisa buat kamu diskors lebih lama lagi dibanding waktu skorsing terakhir kamu," ancam pak Bastian sambil berlalu.
Reno memberi hormat. "Siap, Pak komandan!" ujar Reno menirukan gaya tentara. Dia kemudian tertawa seolah mengejek guru yang cukup ditakuti oleh murid-murid yang datang terlambat.
"Tuh kan, mending lo ke kelas sana. Daripada nanti dapet skorsing lagi."
"Pak Bastian bilang kan kalo gue macem-macem baru diskorsing. Kalau cuma ngobrolin Tania sih ga bakalan lah gue diskors. Mau dipecat jadi guru dia kalau skorsing gue tanpa alasan yang jelas?"
"Ya, terserah lo deh. Tapi gue lagi ga mau bahas Non Tania. Gue dilarang membuka informasi penting keluarga majikan nyokap gue."
"Oh ya? Majikan nyokap lo ya?" tanya Reno sambil menyeringai. Gaby mengangguk pelan sambil menatap wajah Reno yang seperti mengetahui sesuatu.
"Gue boleh nanya satu hal sama lo?"
"Apa?"
"Tania punya kakak cewek?" tanya Reno membuat Gaby heran.
"Lo tau darimana?"
"Jawab aja, iya apa engga"
Gaby tak segera menjawab, dia diam sejenak sambil menatap wajah Reno yang meminta jawaban.
"Ga punya. Dia anak tunggal," sahut Gaby ragu.
"Serius dia anak tunggal?"
Gaby kembali bingung memberikan jawaban.
"Lo cari tau aja sendiri, emang lo pikir gue Google yang bisa ditanya apa aja langsung jawab," sahut Gaby ketus.
Reno kini tertawa.
"Lo bener juga ya. Lo emang bener-bener pinter. Semoga dengan jagain booth ini bareng orang pinter macem lo, gue jadi ketularan pinter juga," ujar Reno. "Bilang Aamiin dong!" Titah Reno sambil mengacak-acak rambut poni Gaby. Gaby berusaha menahan poninya dengan tangan namun gagal. Poninya sudah berantakan karena ulah Reno.
Kesal karena tidak bisa mempertahankan poninya, akhirnya Gaby ingin membalas dendam dengan mengacak-acak rambut Reno yang sudah rapi. Namun gagal. Reno yang lebih tinggi tidak dapat dijangkau Gaby.
"Liat si cupu!" ujar Leona kepada teman-temannya sambil melipat tangan didada. "Mulai berani dia banyak gaya kayak gitu. Sama Reno pula. Liatin aja sebentar lagi dia bakal nangis-nangis minta ampun dan segera pindah dari sekolah ini. Rasanya gue udah ga betah liat makhluk aneh itu berkeliaran di sekolah. Yuk cabut," ajak Leona sambil menggerakkan jemarinya yang lentik.
__ADS_1