
Gaby terseok-seok turun dari mobil patroli polisi yang mengantarnya pulang kerumah. Seorang polwan cantik nampak turun membantu untuk memapahnya.
"Apa masih terasa sakit, Dik?" tanya polwan tersebut khawatir. Gaby mengangguk pelan sambil terus memandang halaman rumah. Ada mobil Willy terparkir ditempat biasa.
"Masih berani dia datang kesini?" batin Gaby.
Gaby mendengus, membuat polwan tadi kebingungan. "Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Ga apa-apa kok, Bu." Gaby tersenyum manis menutupi kebohongannya. Mereka berdua lalu kembali berjalan hingga berada di depan pintu.
"Permisi ..." teriak polwan tadi saat ketukan pintunya tak mendapat respon.
"Selamat malam ..." teriaknya lagi. Pintu rumah Gaby nampaknya masih tertutup dengan rapat.
"Orangtua kamu ada dirumah kan?" tanya polwan tadi memastikan sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali mengetuk pintu. Gaby lagi-lagi mengangguk. Jawabannya sejak ditemukan polisi dijalanan tadi memang hanya bisa mengangguk dan menggeleng.
Ceklek
Handle pintu bergerak membuat daun pintu terbuka lebar. Merry berdiri menatap Gaby dan polwan tadi dengan wajah penuh tanda tanya.
"Gaby!" ujar Merry kaget.
"Apa benar ini rumah adik Gaby?" tanya polwan tersebut sambil merangkul pundak Gaby.
"Benar, saya ibunya. Memang ada apa ya? Kenapa Anda datang ke rumah saya? Apa anak saya ini membuat masalah?" tanya Merry membuat Gaby tercengang.
"Tidak Bu, sama sekali tidak. Saya dan rekan saya datang kesini hanya untuk mengantar adik Gaby pulang ke rumahnya. Karena saat melakukan patroli tadi, kami menemukan adik Gaby masih berkeliaran di jalanan di jam malam dengan pakaian seragam seperti ini." Merry menatap wajah Gaby dengan kilat-kilat api kemarahan dimatanya.
"Oh ya, maafkan anak saya. Saya berjanji hal ini tidak akan pernah terulang lagi untuk yang kedua kalinya," ujar Merry menarik ujung bibirnya keatas dengan susah payah.
"Baik. Kalau begitu kami mohon pamit. Kami mohon maaf karena sudah mengganggu waktu istirahatnya. Selamat malam," ujar polwan tadi sambil menempelkan kedua telapak tangannya sejajar di dada.
"Oh iya. Terima kasih karena sudah mau repot-repot mengantarkan anak saya pulang kerumah," ujar Merry berbasa-basi.
"Itu memang sudah menjadi tugas kami sebagai abdi negara, Bu. Kalau begitu sekali lagi kami pamit. Permisi," ujarnya lagi sebelum akhirnya lenyap bersama mobil patroli untuk menembus pekatnya malam di kota metropolitan itu.
Merry memandang Gaby dari atas kepala hingga keujung kaki. Dilihatnya kaki Gaby yang dibalut perban putih.
__ADS_1
"Darimana aja kamu jam segini baru pulang?" tanya Merry tanpa basa-basi. Dia sama sekali tak berniat menanyakan alasan kenapa kaki Gaby bisa sampai terluka.
"Coba aja Mama tanya sama Willy," sahut Gaby acuh
"Willy?" tanya Merry dengan sebelah alis yang naik ke atas.
"Iya. Coba Mama tanya alasan dia kenapa sampai tega turunin aku di jalanan," ujar Gaby sambil berjalan perlahan masuk kedalam rumah.
"Ga mungkin dia melakukan itu!" sanggah Merry tak percaya. "Kalau dia turunin kamu dijalanan untuk apa dia harus buang-buang waktu menunggu kamu pulang sekolah sampai pintu gerbang sekolah kamu ditutup karena semua murid sudah pulang semua?" tanya Merry yang ikut mengekori dari belakang.
Gaby mengumpat dalam hati. "Dasar drama king! Pinter banget dia memutar balikkan fakta."
"Pencitraan lah, Ma. Apalagi?" sahut Gaby jengkel.
"Kamu jangan bicara sembarangan ya."
"Aku ga bicara sembarangan. Tapi ini fakta, Ma. Dan sayangnya fakta ini ga akan pernah bisa membuka hati Mama untuk percaya lebih sama aku. Karena selamanya Mama akan terus percaya setiap ucapan yang keluar dari mulut Willy, Willy dan Willy dibanding aku. Anak Mama sendiri," ujar Gaby kini sedikit mempercepat langkah kakinya. Sedangkan Merry malah lebih memilih diam mematung, terhenyak mendengar jawaban putrinya.
Di dalam terlihat Willy tengah asyik bercengkrama bersama seorang wanita di ruang keluarga. Melihat kedatangan Gaby yang tiba-tiba, mereka berduapun berbalik dan kompak memanggil nama Gaby secara bersamaan.
"Gaby ...."
"Tania!" seru Gaby kaget.
"Hai, Gab. Kamu udah pulang?" tanya mereka berdua lagi sangat kompak.
"Buat apa lo dateng kesini?" tanya Gaby tak suka. Sorot matanya tak mau lepas menatap wajah gadis yang ia panggil Tania.
Tania tak menjawab pertanyaan Gaby, dia malah sibuk memasang senyum 3 jarinya sambil mengaitkan sebagian rambut panjangnya ke belakang telinga.
"Kok baru pulang? Naik apa tadi?" tanya Wllly meledek. Melihat cara berjalan Gaby yang nampak kesakitan sudah pastilah Willy tahu jika Gaby pulang berjalan kaki dari jalur JORR tadi.
Gaby sama sekali tak acuh dengan pertanyaan Willy. Matanya masih terus terpaku pada objek yang dianggapnya asing.
"Mama yang minta dia datang kesini." tiba-tiba Merry datang dan menjawab pertanyaan Gaby. Giliran Gaby yang menatap wajah mamanya tak percaya.
"Mama ga serius kan?"
__ADS_1
"Mama serius, Gab."
Gaby mengepalkan tangannya sambil terus berusaha menahan airmata. Namun sayangnya benteng pertahanan Gaby tak sekuat itu. Airmata yang sedari pagi ditahannya kini harus menganak sungai dipipi. Mengalir tanpa henti seperti hujan yang senantiasa bahagia kala diminta membasahi bumi.
"Kenapa sih Mama minta dia datang lagi kesini? Harusnya Mama biarin aja dia sekolah di luar negeri selamanya sesuai dengan kemauannya."
"Bukan Tania yang mau sekolah di luar negeri, tapi Mama. Mama yang minta dia sekolah di luar negeri, supaya kehidupannya lebih terjamin."
"Terus aku? Dulu aku bahkan harus memohon sama Mama supaya bisa sekolah di luar negeri. Tapi Mama ga pernah setuju."
Merry diam bak patung. Sedangkan Gaby menatap Merry dan Tania secara bergantian.
"Dari dulu Mama emang ga pernah bisa adil sama aku. Mama selalu utamakan Tania daripada aku!" teriak Gaby sambil membanting tasnya ke lantai kemudian berjalan menuju kamarnya meski masih harus tertatih.
Merry menatap tempat pensil lusuh yang tiba-tiba menyembul dari dalam tas Gaby. Tempat pensil pertama kali yang ia berikan kala Gaby mendapat juara melukis saat SD dulu sebagai hadiah atas prestasi yang ditorehkan putri kecilnya itu. Merry tak menyangka jika tempat pensil yang ia kira seharusnya sudah berpindah ke tempat pembuangan sampah masih Gaby simpan dengan baik hingga kini, meskipun warnanya sudah sedikit pudar dan ada beberapa goresan pulpen disana-sini tapi tempat pensil itu masih layak dipakai. Menandakan jika Gaby begitu apik menggunakannya.
Merry menelan ludah dengan susah payah. Sudah berapa kali dia melukai hati Gaby? Sudah berapa banyak pula ancaman yang keluar dari mulutnya? Merry sudah tak ingat. Karena Gaby kini bukanlah prioritasnya.
"Gab!" panggil Willy namun segera dicegah oleh Merry.
"Biarkan dia sendiri dulu, Wil. Tante yakin besok pagi dia akan kembali seperti biasa," saran Merry sambil menatap Tania. Gadis itu nampak menyeringai kemudian meneguk secangkir teh yang sedari tadi hanya dilihatnya.
"Sebenarnya ada apa ini, Tan? Kenapa Gaby terlihat tidak suka dengan keberadaan Tania? Apa mereka punya masalah sebelumnya?" tanya Willy minta penjelasan.
"Lebih baik sekarang kamu pulang, Wil. Ada beberapa hal yang harus Tante selesaikan dengan Tania sekarang," ujar Merry sambil menghela nafas membuat Willy semakin bertanya-tanya. Tapi ingin mendesak pun rasanya dia tak bisa. Akhirnya Willy memutuskan untuk menuruti permintaan Merry supaya segera meninggalkan kediaman mereka.
"Yaudah Tante, kalo gitu Willy pamit. Besok pagi seperti biasa Willy akan datang kesini," ujar Willy dibalas anggukan oleh Merry.
Tak seperti biasanya, Merry hanya mengantar Willy sampai ke depan pintu saja. Bahkan belum sempat Willy masuk kedalam mobilnya, Merry terlihat sudah kembali masuk kedalam rumahnya.
Willy mengerutkan kening, kemudian dia memgambil handphone dari saku celananya untuk memghubungi Gaby. Sayang beribu sayang. Willy lupa jika selama dia menjalin hubungan dengan Gaby, tak pernah sekalipun Gaby menjawab panggilannya.
Panggilan masih terus dilakukan, namun untuk yang kesekian kalinya lagi-lagi tak mendapat jawaban. Hingga akhirnya suara operator seluler menjawab panggilan Willy.
'maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar service area. Silahkan cobalah beberapa saat lagi'
Willy menyerah. Dimasukkannya kembali handphone itu kedalam saku celananya sambil melempar pandangan ke arah jendela kamar Gaby. Lampu kamar Gaby masih terang. Terlihat belum dimatikan seperti biasa kala ia sering iseng mengintai rumah itu di malam hari.
__ADS_1
Saat hendak masuk kedalam mobil, samar-samar Willy seperti mendengar beberapa kali teriakan dari dalam rumah tersebut. Dan saat diliriknya lagi jendela kamar Gaby, lampu terang yang menyinari ruangan itu sudah padam dan gelapa gulita.
Willy tersenyum kecil. Merasa jika hubungan yang tengah ia jalin bersama Gaby kian hari terasa kian menarik.