Gia, Love In London

Gia, Love In London
Prolog BAB 1


__ADS_3

Prolog


“Aku suka saat hujan turun membasahi bumi, dengan begitu, aku bisa menyembunyikan tangisanku”. Begitulah ku dengar dari buku-buku pujangga muda.


Tapi ku rasa, pengalamanku sedikit berbeda.


Gia, 2022


******


“Kok anget, Boy?” Suara Gia sayup terdengar di bawah tetasan hujan.


“Hehehehehe..hehehehehehehe..” Boy terkikik sambil terus melajukan motor bututnya


“Serius Boy, apaan? Kamu pipis Boy? Di atas motor?”


Boy terkikik lagi sambil sedikit melihat kondisi muka Gia dari spion bulatnya.


“BOYYYY..jorok iiihhh..”


“Kan ujan, nanti juga ilang kesiram kok..gak lihat nih, lumayan deras”


“stop dulu kek, apa kek.. jangan main guyur aja”


“Nggak lihat nih hutan? Takut, nanti ada rampok. Amit amit deh.. udahh, nanti ilang sendiri..” Boy masih terkikik geli.


Gia melipat tangannya di dada, mundur sedikit dari belakang teman sedesanya itu.

__ADS_1


“Nanti mampir di sungai kampung Boy, sungai di tugu “ selamat datang”. Dasar joroook.. “


“Iyaaa.. tenang aja, jangan ribut.. nanti keburu gelap, gawat kalau belum sampai. Dengar-dengar minggu lalu ada yang kena rampok di jalan ini. Pegangan yang kuat, aku ngebut sedikit ini”


Boy menambah kecepatannya. Tetap di bawah guyuran hujan


******


BAB 1


Aku adalah Gia, salah satu mahasiswa berprestasi yang ku rasa, lumayan cantik sih. Yahh, begitulah kira-kira hatiku berbisik setiap pagi. Seperti ketika aku melihat cermin. Tidak cantik-cantik amat sih. Tapi, jika tidak memuji diri sendiri, siapa lagi yang akan memuji. begitu pikirku.


Hari ini, anggap saja hari sial ku, selain kehujanan di atas motor hampir 30 menit. Temanku. Mungkin bisa dibilang sahabatku, Boy, malah pipis di celana.


Alasannya masuk akal. Tapi tidakkah dia mengerti, itu sangat tidak bisa diterima.


Lebih tepatnya motornya. Motor yang 3 tahun ini menemani kami kuliah di kota.


Jarak desa kami ke kota memang cukup jauh.


Tapi karena kami berdua, jadi tidak terlalu membosankan.


Sesekali kami akan stop menikmati jajanan pinggir jalan atau bahkan stop melihat spot foto yang cukup Instagramable.


Pura-pura touring kalau kata orang-orang.


cukup menghibur.

__ADS_1


******


Hari ini hari pertama libur kami.


Sebenarnya, kami lebih suka menghabiskan waktu mencari pekerjaan paruh waktu ketika libur begini. Kami juga pulang ke desa kira-kira hanya dua hari.


Sebelum kami memulai pekerjaan paruh waktu kami di kota. Melewati jalanan yang lebih banyak hutan lebatnya.


Yaaa, tempat dimana nasib sial dipipisin Boy itu terjadi.


Memang hutannya cukup lebat. Tidak banyak orang yang lalu lalang di jalan tersebut. Sesekali ada perampokan dijalananan. Tapi kurasa, melihat kondisi motor kami saja, perampok sudah tak berselera.


******


Tak terasa sudah dua hari kami melepas rindu dengan keluarga.


Hari ini, subuh-subuh, Boy sudah nangkring di depan rumahku. Selain minta sarapan, Boy juga suka saat ibuku memberinya beberapa bekal tambahan selain dari yang diberi ibunya sendiri. Menyebalkan bukan?. Itulah dia.


Kami berangkat dengan menggunakan motor yang baru. Ternyata, Ayah Boy, Pak Hendri membeli motor baru hasil menjual sepetak sawahnya. Beliau bilang, khawatir Boy tidak ada yang mau jika terus-terusan pakai motor butut begitu.


Memang, Boy terbilang cukup tampan untuk takaran penduduk desa.


Bisa dibilang, walau bukan berpakaian serba bermerk, wajah Boy tetap cerah.


Aku bersungguh-sungguh.


Bagi beberapa orang, Boy terlihat biasa saja.

__ADS_1


“Tampan saja tidak cukup nona. Butuh fulus biar mulus”. Begitulah kira-kira dalam dunia percintaan ini.


__ADS_2