Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 2


__ADS_3

BAB 2


Hari ini, sudah terbilang 3 minggu kami bekerja paruh waktu. Sebenarnya kehidupan pendidikan kami terpenuhi dari beasiswa yang kami dapat.


Aku dan Boy adalah penerima beasiswa untuk golongan yang tidak mampu. Bukan dari pemerintah, lebih tepatnya dari perusahaan yang bertempat di desa kami sendiri.


Uang itu terbilang cukup untuk makan dan penginapan. Hanya saja, untuk kebutuhan lain seperti pakaian dan perawatan tubuh kami harus cari sendiri.


Jangan salah. Kami adalah dua manusia yang tetap memperhatikan penampilan.


Kami menyadari betul, jika penampilan tetap menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan.


Dunia kami tidak seperti telenovela. Yang dikatakan bisa cantik alami tanpa polesan.


Kami tetap menyempatkan membeli sedikit perawatan muka. Walau hampir sembilan puluh persen dari yang kami beli adalah produk kemasan hemat, tetap tak apa.


Dari sinilah kisah kami dimulai.


******


Sebenarnya ini adalah semester akhir kami kuliah.

__ADS_1


Kami juga telah menyelesaikan penelitian kami.


Hanya saja, mengubah hasil penelitian menjadi sebuah buku tebal yang disebut skripsi tetap tidaklah mudah.


Butuh perjuangan panjang untuk revisi dan print sana print sini. Kami benar-benar berharap, semester ketujuh adalah semester terakhir kami berada di dunia S1 ini.


Universitas kami adalah universitas yang cukup peduli kepada calon alumni. Meskipun kami belum mendapat ijazah, kami tetap difasilitasi untuk mendapat kesempatan “Walk in Interview” dari perusahaan-perusahaan yang saya rasa cukup ternama juga.


Seperti yang dilaksanakan bulan depan, yang merupakan awal semester yang baru juga.


Beberapa nama perusahaan yang terlibat sudah dipajang di website resmi universitas.


Boy memilih perusahaan yang bergerak dibidang teknologi, mengingat jurusan yang dia ambil adalah teknik mesin. Sedangkan aku, lebih leluasa memilih, karena jurusanku adalah administrasi publik.


Kami sengaja memakai uang hasil kerja di hari libur untuk mempersiapkan momen yang satu ini.


*******


Banyak hal yang kami lalui selama satu bulan persiapan. Aku dan Boy selama seminggu ini belum bertemu.


Sebenarnya ada rasa rindu tersendiri antara aku dan Boy. Walaupun rindu sebagai seorang sahabat. Bagiku, Boy adalah orang yang sangat penting. Kami juga sudah bersama-sama dari SMA dan menjadi sedekat ini setelah kuliah.

__ADS_1


Seperti biasa, hari ini aku naik bus atau angkot jika Boy tidak bisa menjemput.


Akhir-akhir ini aku dengar Boy akhirnya dapat pacar. Mungkin berkah dari motor barunya dari Pak Hendri. Itulah alasan utama Boy sangat jarang bertemu denganku.


Bahkan, hari ini yang notabene merupakan hari yang sangat penting untuk karir kami, aku tidak juga bertemu dengan Boy.


Boy mendapat jadwal wawancara yang berbeda.


Aku masuk kelompok pagi. Sedangkan Boy dan Nadia masuk kelompok sore. Ya, namanya Nadia.


Dia adalah pacar Boy yang pertama. Setidaknya sejauh yang aku ketahui.


Ada rasa tak nyaman saat sesekali berpapasan dengan Nadia.


Bukan apa-apa. Aku rasa dia hanya tidak perlu mengkhawatirkan aku akan merebut Boy darinya.


Seperti kubilang, aku bersama dengan Boy sudah hampir 6 tahun belakangan. Dan nyatanya, tak ada cinta diantara kami. Setidaknya sampai detik ini.


Aku hanya merasa kehilangan, benar-benar kehilangan. Kehilangan seorang sahabat yang biasanya bersamaku.


Sedih sekali.

__ADS_1


*******


__ADS_2