Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 16


__ADS_3

“Boy, kau dimana. Aku membuat pumpkin pie” Satu pesan masuk dari Gia berhasil membuat tubuh Boy tersandar cukup lama di kursi penginapannya.


“Jika kau tidak mau, akan ku berikan pada satpam apartement. Kau tau, aku juga akan bercerita tentang kisah pemuda kencing di atas motor padanya” Satu pesan masuk lagi ke telpon genggam Boy.


*****”


Pukul sembilan malam, cukup malam saat musim gugur yang hampir habis seperti ini.


Gia, masih setia di bawah selimut tebalnya di atas sofa.


Pumpkin pie itu, mungkin sudah dingin.


Gia menangis. Entahlah. Boy tak datang tanpa balasan pesan apapun.


“Pria bodoh” Gia bergumam.


Waktu berlalu cepat. Seiring pie yang mendingin, air mata Gia juga sudah mengering. Dia memilih memotong sendiri pie dinginnya.


Dia tak ingin hasil kerja kerasnya setengah hari tadi berakhir di tong sampah.


Baunya tak semenggoda saat dia masih hangat. Tapi masih cukup enak untuk dinikmati sendiri.


Dari belakang, pintu apartemen terbuka.


Boy, dia ternyata datang.


****””

__ADS_1


Gia masih setia dengan pie dinginnya. Tidak ada sambutan tidak ada pelukan hangat untuk Boy.


Dia mungkin masih cukup kuat untuk pura-pura tidak menyadari kedatangan Boy.


“Jadi, apakah pumpkin pie nya sudah habis? Seberapa kuat satpam depan tertawa mendengar cerita konyolmu, Gia?” Boy memecah keheningan.


Dia berjalan perlahan menuju dapur mungil apartemen Gia. Membuat satu cangkir besar coklat panas. Cukup hangat untuk diseduh bersama pie dingin.


“Aku tak tertarik bercerita” Jawab Gia ketus.


“Baiklah.. jadi, bagaimana tugas akhirmu. Apakah pengajuan penelitianmu cukup menarik Academic Advisor mu?” Boy duduk di samping Gia.


Masih belum terdengar jawaban apapun dari Gia. Ternyata dia cukup marah.


Perlahan Boy meletakkan cangkir coklat panas dalam genggaman Gia.


Gia mendelik mendengar ocehan aneh Boy.


“semua berjalan lancar. Kurasa, aku bisa menyelesaikan kuliahku sesuai dengan rencana sebelumnya. Aku juga bisa kembali bekerja setelah cuti panjangku” Gia mulai menyeruput sedikit coklat panas dari Boy.


“Giliranku” Boy mengambil coklat panas dan menyeruputnya juga.


“Kau bicara apa pada Tuan Lee?” Gia bertanya.


“Tidak ada, aku hanya merasa itu akan membuatmu bahagia. Tidakkah kau menginginkan begitu, Gia?” Boy menunduk. Meletakkan coklat panasnya ke tempat semula. Di atas meja.


“Kau bodoh Boy. Ternyata kau masih belum pintar juga”

__ADS_1


“Buang pumpkin pie itu Boy, aku tak mau melihatnya lagi” Gia mencoba beranjak.


“Jangan begitu” Boy menarik Gia untuk kembali duduk. Cukup kuat sampai membuat Gia jatuh tepat dalam dekapannya.


“Aku mencintaimu Gia. Aku tak bisa melihatmu terluka. Apakah keberadaanku membuatmu terluka Gia?” Boy mengusap pipi Gia dengan jemarinya.


“Aku membencimu Boy.. aku membencimu yang meninggalkan aku untuk Nadia. Aku membenci pesan-pesanmu dulu yang tak memperbolehkan aku menghubungimu lagi untuk meredakan tingkah posesifnya. Apa kau tau aku terluka Boy? Kau meninggalkan aku lebih dari lima tahun. Kau bahkan tidak menghubungiku. Kau menjauhiku selama itu Boy. Dan kau menyerah, saat baru setahun kembali? Kau bodoh Boy. Kau masih jadii si Bodoh itu.” Ucapan Gia dalam sedu tangisannya. Cukup dalam sampai membuat bahunya bergetar.


“Jangan menangis. Maafkan aku. Aku akan menunggumu. Aku bersalah Gia. Aku bersalah. Maafkan aku. Berhentilah menangis Gia. Aku salah. Aku salah Gia..” Boy memeluk erat Gia.


“Apa kita bisa bicara? Aku tak ingin hal ini terus membayangi mu. Tentang Nadia.” Boy melepaskan pelukannya.


Gia masih tersedu.


“Aku dulu salah, aku putus dengan Nadia satu bulan dari hari jadian kami. Dia mengirimimu pesan begitu. Aku marah. Itu, pesan yang kau bilang, bukan aku yang mengirimkannya. Aku baru tau setelah seminggu kemudian. Aku memang sangat sibuk mempersiapkan interview kerja. Kau ingat? Kita dulu hidup susah? Aku benar-benar serius ingin bekerja waktu itu”


Jawaban Boy membuat Gia refleks menatapnya.


“Percayalah padaku Gia. Aku mencoba menghubungimu. Tapi kau ingat? Kau bahkan memblokir nomor ponsel ku. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Satu-satunya kesalahanku waktu itu adalah aku tak cukup berani kembali padamu Gia. Aku rasa, dulu, aku tak bisa menganggap mu sahabatku Gia. Aku mencintaimu”


Gia bisa melihat ketulusan dalam ucapan Boy.


“Aku harus mengikuti Management Trainee selama enam bulan. Kami terikat kontrak dengan perusahaan selama dua tahun. Kami bahkan tidak boleh menikah selama dua tahun Gia. Kau tau betul sistemnya. Aku tak cukup berani melamarmu dengan keuangan ku yang pas-pasan. Kau tau kau sangat berarti untukku Gia”


Boy kembali memeluk Gia.


“Bisakah kau memaafkan aku Gia? Aku mencintaimu. Sungguh” Boy mengakhiri cerita panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2