Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 10


__ADS_3

Di London, Boy beberapa kali mampir ke apartement ku. Mungkin tiga bulan sekali, terkadang lebih cepat. Dia juga selalu membawa berbagai macam oleh-oleh yang dititipkan ibuku dari Indonesia.


Setiap kali dia kesini, kami akan menghabiskan waktu berkeliling. Aku serasa terbang ke memori dulu. Dulu sekali waktu kami masih memakai motor bututnya.


Aku masih cukup sering bertukar email dengan Ryan, tapi tidak dengan Tuan Lee. Dia benar-benar menghilang.


Ahh, aku merindukannya.


*****”


Hari ini aku dikejutkan dengan email yang tiba-tiba Ryan kirim.


Bingung, senang, bahagia. Serasa bercampur menjadi satu.


Tuan Lee.. Dia akan kesini.


*****”


Aku menunggu di bandara dengan sabar.


Sesekali aku mengecek ponsel untuk melihat pesan dari Boy.


Boy juga ingin datang kesini. Selama disini, rupanya Boy juga mencoba ekspansi pasar. Dia berhasil. Aku sungguh bangga kepadanya.


“Menunggu ku?”


Seseorang berseru dari belakang.


“Yaa Boy.. tentu saja.. “ aku tersenyum cerah dan berbalik memeluknya begitu saja.


Aku sudah terbiasa.


“Ternyata bukan aku” sautnya lirih.


Aku mendongak, manik mata yang berbeda.


Ahh tidak.. dia Tuan Lee.


Aku tersenyum. Aku memeluknya, kencang, lebih kencang dari tadi.

__ADS_1


Aku tak mengerti, aku benar-benar merindukan orang ini. Orang yang setahun ini tak pernah mengunjungiku.


Aah, aku mengharapkan apa? Sekali lagi, dia bosku.


Mungkin hampir lima menit kami dengan posisi begini, entah mengapa, aku enggan sekali melepaskannya.


Dia sesekali menepuk punggungku. Menyadarkanku, bahwa ini mungkin saja salah.


“Tuan Lee, aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu disini”


“iya kah? Tidak terlihat seperti itu..kau lebih terlihat seperti mengharapkan kedatangan orang lain.” Dia tersenyum masam.


“Dia kenapa?” aku membatin.


“Ya, aku memang menunggu Boy. Dia bilang akan kesini. Kurasa ini sudah waktunya landing. Tapi aku belum melihatnya sama sekali. Sudah 30 menit dari seharusnya”


Aku memeriksa pesan, mungkin saja Boy mengirim sesuatu.


Yah, ada satu. Baru saja.


Aku mengernyit. Isinya singkat sekali


‘Aku tunggu di apartement mu’


*****”


Aku ikut Tuan Lee ke apartemennya terlebih dahulu. Aku berpesan kepada Boy untuk menungguku. Apartemen Tuan Lee Lebih mewah dari apartemenku. Wajar saja. Dia Bos nya.


Aku duduk dengan sabar di sofa ruang santainya. Apartemenku tidak punya ruangan sebanyak ini. Hanya ada satu kamar, dapur dan ruang tengah yang langsung terhubung.


Udara musim gugur di luar memang cukup menusuk. Aku bersyukur memakai pakaian cukup tebal sekarang.


Kurasa, apartemen Tuan Lee juga cukup hangat. Mungkin aku bisa melepas mantel luarku.


“Jadi, Kau sekarang tinggal bersama Boy?”


Tuan Lee membawakanku secangkir coklat panas.


“Tidak, Boy sesekali datang kesini Tuan. Dia sering membawakan berbagai titipan dari ibuku”

__ADS_1


“Jangan terlalu canggung. Disini, aku bukan bosmu. Kita sama-sama mahasiswa disini. Justru kaulah seniorku. Setidaknya senior dua semester di atasku”


“ahahha, berarti aku akan mengadakan ospek pribadi kepadamu. Haruskah begitu?” aku tertawa.


“Yah, bisa juga begitu. Kapan kita mulai ospeknya. Kau harus mengajakku berkeliling. Kau tau itu?”


“Itu bukan ospek yang aku maksud. Kau memerasku rupanya” aku tersenyum.


“Besok, besok akan aku ajak kau berkeliling. Kurasa itu terlalu berlebihan. Aku tau kau bahkan lebih hafal setiap lekuk jalanan London ketimbang aku.” Aku menambahkan.


“Aku tunggu kehadiranmu”


****”


Aku sudah kembali ke apartement. Aku tak melihat Boy dimanapun.


Ponselnya juga ada disisi nakas. Kurasa dia hanya mencari makanan di luar.


*****”


Boy datang tepat satu jam setelah aku sampai.


Dia tidak langsung memelukku. Itu aneh. Dia tidak biasa seperti itu.


“apa ada sesuatu yang salah, Boy?”


“Ibumu menitipkan beberapa bumbu masakan. Aku letakkan di atas meja dapur. Ada beberapa makanan juga”


Boy tidak menanggapi pertanyaanku.


“terima kasih Boy” aku tersenyum


“Aku buatkan kau sesuatu tadi, sup hangat. Udara diluar cukup dingin” aku berjalan menuju dapur.


Tadi, memang sempat aku membuatkan sup untuknya. Sup makaroni. Dia pasti suka sekali.


Boy rupanya menyusul. Tangannya melingkar di perutku. Dia terlihat lelah, gusar sekali.


Beberapa kali dia menghela nafas berat di bahuku.

__ADS_1


“Ada apa Boy?” aku berbalik. Ku letakkan serbet disamping kanan kompor yang baru saja kumatikan.


“Tidak ada, aku hanya merindukanmu”


__ADS_2