Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 27


__ADS_3

Gia beberapa kali akan bersama Lee mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Boy.


Mereka kadang bercerita banyak hal. Seolah sang tuan rumah mampu mendengarnya.


Kali ini, mereka datang dengan membawa sedikit berita berbeda.


Gia bersedia menikah dengan Lee.


Senyum itu terus terkembang dari bibir Lee.


Dia bahagia sekali, sekalipun dia tau bahwa cinta yang diberikan Gia tak lebih dari sekedar sisa cinta sang empunya hati pada suami pertamanya, Boy.


Tak masalah, pikirnya.


*****”


Hari pernikahan tiba.


Gia, terlihat cantik seperti biasa.


Dress putih terbalut sempurna di tubuh Gia.


Lee terus menggenggam tangan Gia. Sesekali dilepaskannya hanya untuk merangkul pundak perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Pernikahan ini cukup sederhana untuk orang seperti Lee.


Walupun begitu, Pesta berjalan sesuai rencana.


Para tamu undangan pulang dengan wajah puas dan bahagia.


Beberapa keluarga juga memutuskan untuk segera berlibur ke daerah lain. Sekalian cuti. Begitu kata mereka.


Ahh, orang sibuk memang begitu..


Lee bahagia sekali menjalani peran barunya.


Dia membawa Gia tinggal di sebuah rumah kecil dengan halaman luas dan taman yang indah.

__ADS_1


Dia sudah menyiapkan ini lama.


Di sebelah kanan rumah, ada beberapa bunga berwarna merah muda.


Gia tak terlalu mengenal nama-nama semuanya.


Walaupun begitu, keindahannya tetap terpancar sempurna.


Gia dan Lee melalui hari bersama.


“Apa hatimu sudah membaik, sayang?” Lee menghampiri Gia yang tengah duduk di samping kolam renang belakang rumah.


“kemarilah, aku ingin memelukmu sayang, maafkan sikapku” Gia mengulurkan tangannya pada Lee.


Gia meminta maaf untuk hatinya yang merasa bersedih. Tentang dia yang tidak bisa memungkiri fakta bahwa dia tak pernah sekalipun merasakan hal pribadi seperti yang dia lakukan bersama Lee.


Saat itu, saat malam pertamanya bersama Lee.


Gia bahkan menangis tersedu setelah dia memberikan semuanya pada Lee.


Bercak merah itu, menjadi tanda yang sangat jelas bahwa Lee adalah orang yang pertama.


Dia bukannya tidak ingin menerima Lee sepenuhnya. Dia telah bertekad untuk menjalankan perannya sebaik mungkin.


Dia hanya sedih, hatinya sedikit teriris mengingat betapa gigihnya Boy menahan hati, dulu.


Dia bersedih tentang kenyataan bahwa Boy juga menginginkannya, namun terhalang dengan sakit yang dia punya.


Lee menghapus jejak sisa air mata di pelupuk mata Gia.


“Maafkan aku.. aku bersalah” Lee berucap pelan.


“Tidak, Lee. Aku yang minta maaf. Maafkan aku. Aku.. aku hanya bersedih.. aku bahagia bisa melalui malam ini bersama mu. Hanya saja, aku tak tau mengapa. Aku.. Boy.. aku bagaimana ini” Gia mengusap dadanya berulang.


Lee mendekapnya erat.


“Jangan bersedih. Aku paham. Tak apa.. menangislah..”

__ADS_1


*****”


Sebulan telah berlalu.


Lee masih setia dengan senyumannya untuk Gia.


Sesekali Lee pulang terlambat.


Kesibukannya di kantor, membuat Lee terkadang harus pulang cukup larut.


Gia menjalankan kewajibannya dengan baik.


Dia mengikuti semua yang diinginkan Lee.


Termasuk untuk tidak bekerja sementara waktu.


Dia tak ingin pekerjaan juga kesibukannya dan Gia, justru membuat pernikahan ini menjadi hampa, semakin jauh.


Sedangkan, dia sendiri belum bisa memastikan tentang ada tidaknya cinta dari hati istrinya.


Lee tak mau. Dia bahkan tak mau membayangkannya sedikitpun.


Sedih sekali.


Malam ini, Lee kembali terlambat pulang.


Gia bahkan sudah terlelap di sofa ruang tengah. Terlelap saat menunggunya.


Perlahan Lee meletakkan tas kecil yang dibawa nya. Berganti dengan mengangkat sang belahan jiwa menuju peraduannya.


Gia terlelap cukup pulas.


Dia sadar Lee sudah pulang, hanya saja, matanya terlalu berat untuk terbuka.


Lee masuk membersihkan diri setelah memastikan Gia nyaman dengan posisinya.


Sesaat setelahnya, dia ikut terbaring, memeluk perempuan itu erat.

__ADS_1


“aku mencintaimu, Gia” bisiknya pelan.


*****”


__ADS_2