
Hubungan Lee dan Gia semakin hangat.
Lee sudah berani bergelayut manja meminta yang aneh-aneh pada Gia.
Terkadang, Lee meminta ciuman selamat pagi atau ciuman selamat datang. Yang ujung-ujungnya, semua jadwal kerja harus diatur ulang.
Dia merasa seakan cintanya telah berbalas. Setelah sabar menunggu lama.
Akhirnya semua berubah.
Sungguh, sekarang semua jadi jauh lebih sempurna.
Dia mencintai Gia sudah lama.
Jauh sekali. Bahkan sejak pertama Lee melihat Gia dengan pakaian hitam-putihnya.
Dulu, saat pelatihan pertama para pekerja baru.
Saat itu, sesekali Lee akan melirik pandang pada salah seorang gadis dengan rambut bergelombang. Satu-satunya.
Tubuhnya lebih tinggi dari yang lain, namun terlihat mungil jika dibanding dengan Lee.
Tak lama, Lee pikir itu hanya perasaan sederhana yang akan hilang segera.
Dua tahun setelahnya, takdir kembali mempertemukan mereka.
Dalam waktu yang sama, antara kebahagiaan bertemu kembali dan kesedihan akan kematian sang ibunda.
Lee melepaskannya lagi.
Dia berjanji, jika yang ketiga kali takdir membawa Gia kembali, dia takkan membiarkannya pergi.
Dan disinilah Gia.
Bertumbuh menjadi seorang yang sukses dengan caranya.
Lee bahkan tak menyangka, dia dan Gia berjarak sedekat itu.
Dia sering kali terkekeh sendiri merutuki kebodohannya.
Begitulah cinta tumbuh.
Sederhana sekali dia menyapa.
Hanya berbisik sekali, lalu menancap mengakar kuat, dan menahun.
__ADS_1
****”
Mereka masih sering mengunjungi makam Boy.
Hampir seperti jadwal rutin yang tidak boleh ditinggalkan.
Di mobil, Gia bersandar lama di bahu Lee.
Tangannya dingin sekali.
Lee cukup terkejut dengan itu.
Lee yang sedari awal membawa mobil sendiri, bergegas memanggil sopir untuk segera menjemput mereka untuk kembali.
Wajah Gia semakin pucat pasih.
Keringat membasahi pelipis matanya.
Lee sesekali menyapu lembut dengan sapu tangannya.
“Kita ke rumah sakit saja, Pak”
“Tidak, sayang.. aku hanya lelah.” Gia sudah tak terlalu kuat berdebat.
Disini, Gia dibiarkan istirahat sejenak.
Lee mengganti pakaian Gia dengan piyama nyaman setelah selesai diperiksa.
Dokter tadi juga tak banyak bicara.
Melihat kondisi Gia yang terlihat sangat lelah, membuatnya hanya menjelaskan sedikit dan akan memberikan hasilnya 30 menit lagi.
Sembari menunggu, Gia dibiarkan istirahat di salah satu kamar VIP.
Mungkin itu akan lebih baik, sembari mengisi lagi tenaga sebelum kembali pulang ke rumah.
Asisten-asisten kepunyaan Lee bekerja dengan sigap.
Ada yang hadir membawa pakaian Gia.
Ada yang mengurus administrasi.
Semuanya membuat Lee bisa fokus hanya pada Gia, istrinya.
30 menit berlalu. Gia masih terlelap lemas di kamar itu.
__ADS_1
Lee keluar sebentar untuk mendengar hasil pemeriksaan.
Disana tertulis jelas jika kadar Hb Gia sangat rendah dari kadar normal.
Dokter juga membawa beberapa jenis tablet untuk memulihkan kondisi Gia.
Ada satu hal yang menggelitik hati kecil Lee.
Dokter menjelaskan jika Gia tengah mengandung.
Dari pemeriksaan darah terdeteksi jelas keadaannya.
Mereka ingin memeriksa langsung dengan USG nanti.
Tidak sekarang, menunggu keadaan Gia agak lebih mendingan.
Lee hanya mengangguk, paham.
Dia mengulang dalam ingatan, tentang hal yang harus dia lakukan.
Memberikan makan sayur, buah, dan tak lupa daging yang harus benar-benar matang.
Sesekali Lee melirik Gia yang tengah terpulas.
Dia tersenyum sendiri.
Membayangkan bahwa disana, yang tidur tidak hanya satu nyawa. Tapi dua.
Dan satunya, adalah bagian dari dirinya. Anaknya.
Sekali lagi dia tersenyum. Bersyukur berkali-kali atas kebahagiaan yang dia dapat hari ini.
Di dekatinya tempat tidur Gia.
Diusapnya pelan pipi dan bibir pucat itu.
“Kita akan punya anak, sayang” Dia berbisik sendiri.
Perlahan, Gia membuka matanya.
Dia sadar sejak dari tadi. Hanya saja, tubuhnya terlalu lemas untuk membuka mata.
Setelah mendengar bisikan kecil Lee, tenaganya seakan terkumpul lagi. Datang begitu saja
entah darimana.
__ADS_1