Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 4


__ADS_3

“Permisi nona, saya Lee. Apakah ini motor nona? Saya terjebak macet. Ada urusan mendesak untuk ke rumah sakit. Bisakah Nona membantu saya?”


Pertanyaan seseorang menyadarkanku tantang lalu lintas yang padat hari ini. Aku menoleh kekiri dan kekanan, kurasa wajar saja orang di depanku ini meminta pertolonganku. Tidak ada ojek ataupun orang lain yang melintas rupanya.


“apa Tuan bisa mengendarai motor? Saya bisa mengantar Tuan. Tapi mungkin tidak bisa secepat tukang ojek. Mungkin Tuan bisa membawa sendiri, biar saya yang dibonceng. Bagaimana?”


“Tidak apa jika pelan nona, saya agak sedikit takut mengendarai motor Nona. Namun saya cukup handal jika mengendarai mobil”


“Ciiihh.. Sombong rupanya” aku mulai membatin.


“Baiklah tuan, Rumah Sakit setelah perempatan, bukan? Let’s gooo. Pakai Helm ini” Aku mengeluarkan helm cadangan dari bagasi motorku.


Melihat tingkah si Tuan Muda yang lucu, tepatnya seperti orang bodoh ini, aku berinisiatif memakaikannya saja. Ku tepuk keras atas helmnya saat sudah terpakai.


Kurasa, dia agak sedikit kaget. Lucu juga.


“Pakai sabuk pengaman, kita taklukan jalanan macet hari iniiii” aku sedikit berteriak sambil mengepalkan tangan ke atas.


Jangan ditanya, Lee bingung dengan sabuk pengaman yang mana. Dia malah memilih menggenggam ujung kemeja belakangku dengan erat.


Dia terlihat manis.


Aku suka sekali begitu. Hehe


****””


“Kita sampai..Yey.. 10 menit 35 detik. Rekor baru” ucapku bersemangat.


Kulirik boncenganku dari spion.


“Dia kenapa? Nampak lebih terlihat bodoh kalau begitu” aku terkikik geli melihat Lee dengan wajah memucatnya. Belum lagi tangan yang menggenggam erat kemeja belakangku .

__ADS_1


“Ahh, kurasa lecek sudah kemeja kesayanganku ini” aku membatin lagi.


“Tuan, kita sudah sampai..Jadi ke rumah sakit tidak?”


“Ooh.. ooh.. ii.. iya, saya hanya sedikit terkejut dengan “mengendarai motor lambat” versi Nona”


“ini uang bensin Nona, saya Cuma punya segini. Saya belum ambil uang cash” Lee menyerahkan uang selembar berwarna biru.


“Ahh, tidak usah. Kita searah kok. Aku kost tidak jauh dari sini. Tuan simpan saja, siapa tau nanti mau naik ojek kan”


“Baiklah, aku jalan duluan Tuan. Semoga berjumpa lagi”


Aku mulai mengendarai motorku menjauh.


Sedikit kulirik Lee dari spionku lagi. Kurasa, aku pernah melihatnya. Entah dimana.


Dia terlihat sangat familiar.


Ahh, aku bahkan lupa mengambil helm dari tangan Lee.


Sial sekali.. Helm 300 ribuku.


*******


Tak terasa sudah hampir dua tahun aku bekerja di perusahaan yang sama, The Initial Corp. Aku hampir saja menyerah dan mencoba melamar di perusahaan yang baru. Hanya saja, mendengar aku masuk dalam salah satu karyawan yang naik golongan dan jabatan, ku urungkan niatku itu.


Posisiku sekarang lumayan baik. Bagi orang lain yang sudah bekerja bertahun-tahun, posisiku sekarang merupakan idaman mereka.


Aku memang totalitas saat bekerja. Bagiku, bekerja tidak hanya membangun karir, tapi juga membangun mitra dan integritas diri. Aku berharap bisa punya perusahaan sebesar ini suatu hari nanti.


Aku mencoba peruntungan dengan mulai membeli beberapa lembar saham perusahaan.

__ADS_1


Tidak banyak, untuk golongan pemilik terbesar saham perusahaan, aku belum termasuk pada pemilik yang bisa diajak rapat penting pemilik saham tahunan.


Tapi jangan salah. Semangatku tetap menggebu. Mungkin itulah alasan lain yang mendasariku benar-benar totalitas pada perusahaan ini.


Tak terasa, persentase jumlah saham yang aku punya sudah cukup baik.


Dengan loyalti yang aku dapat dari hasil menabung saham sebelumnya, aku bisa menambah lagi persentase saham tahunanku.


Tentunya berkat relasi yang aku punya juga.


Tahun ini, tepatnya 4 tahun aku bekerja di perusahaan ini, aku juga berhasil memiliki 3 persen dari saham total. Tentu saja pemilik utama memiliki hampir 35 persen, dan sisanya investor lokal dan global yang memiliki 15 persen, 20 persen, dan bahkan ada yang jumlahnya di bawahku, yaitu 2 persen.


Yang jelas, sekarang aku termasuk dalam golongan pemilik saham yang diharapkan hadir pada rapat tahunan pemilik saham.


Berkat memiliki 3 persen saham, posisiku juga sudah bukan karyawan biasa lagi. Aku diangkat pada posisi penting yaitu kepala humas kerjasama internasional.


Aku sekarang berkantor di Singapura. Semakin jauh dari si bodoh, Boy, yang menghilang entah kemana.


Terlihat keren sekali bukan?.


Tapi dibalik itu semua, ada kerja keras yang harus aku tempuh.


Belajar bahasa berbagai negara merupakan salah satunya. Walau tergolong cepat belajar, aku baru mampu menguasai 3 bahasa saja, Inggris, Jepang, dan China.


Aku masih berusaha sedikit-sedikit tentang bahasa belanda. Berbeda dengan pimpinan pucuk perusahaan yang aku rasa menguasai lebih dari lima bahasa negara berbeda.


Sesuatu yang langkah bisa bertemu dengan pemilik perusahaan langsung.


Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya sekalipun. Padahal kupikir, posisiku sekarang sudah cukup tinggi.


Beliau benar-benar sibuk rupanya.

__ADS_1


*****””


__ADS_2