
BOY POV
Hari itu, 1 tahun yang lalu. Setelah Gia pindah ke London, aku lebih sering ke kota ini.
Kota ini sangat cantik dengan berbagai musim sebagai penghiasnya.
Aku paling suka dengan musim gugur. Kurasa, Gia juga menyukainya.
Beberapa hari ini, aku bolak balik beberapa kota besar dunia.
Kesibukanku dan mimpiku tentang warga desa, membuatku tetap semangat meski harus sering berpisah dari Gia.
Aku memulai usaha ini memang dari lama.
Dulu, aku tak pernah mengira akan mampu berkembang sepesat ini.
Aku bersyukur sekali, memiliki teman, Gia yang dulu suka belajar bahasa baru.
Kadang, kebiasaan Gia membuatku tertarik.
Aku juga sering iseng mempelajarinya.
Ternyata, kemampuan berbahasa orang akan sangat berguna. Seperti yang aku dapatkan sekarang.
Kesibukanku semakin hari semakin meningkat.
Terkadang, aku harus menahan sakit dan sesak di dadaku yang sebenarnya tidak terlalu aku pedulikan.
Dulu, aku pikir, itu hanya karna aku terlalu kelelahan.
Aku pernah tak mengunjungi Gia selama satu bulan.
Kau takkan bisa bayangkan betapa rindunya aku pada gadis mungil itu.
Aku beberapa kali harus terpaksa mengecek kesehatan yang aku rasa semakin memburuk. Itulah alasanku.
__ADS_1
Nafasku terkadang sesak. Punggung bagian kananku terkadang terasa tertusuk menyakitkan.
Dan, disinilah aku. Yang mengetahui bahwa jantung ini berdetak lebih lambat dari biasanya.
Awalnya, aku tidak terlalu khawatir. Dan aku tak perlu khawatir.
Aku hanya perlu teratur minum obat agar semuanya baik-baik saja.
Terkadang, ingin sekali bercerita pada gadis mungil itu.
Dia, terkadang sangat menggemaskan. Sampai aku tak tega berbicara tentang apapun.
Dia sangat perhatian, walaupun belum menerimaku dengan sepenuhnya, dia tetap memperlakukanku dengan baik.
Terkadang, aku cemburu akan kedekatannya dengan Lee. Si tuan direktur itu.
Dia jelas-jelas memandang Gia berbeda.
Aku mengetahuinya, karna memang sesekali aku bertemu dengannya.
Semakin hari, aku semakin sulit untuk bekerja terlalu keras.
Pernah sekali aku terlalu lama menunggu Gia di luar apartemennya.
Saat itu, aku sengaja ingin melihat Lee dengan mata kepalaku sendiri.
Tapi, ternyata itu berdampak fatal untuk kesehatan jantungku.
Lee tau. Dia tau semuanya saat aku tak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit saat di London.
Aku memberinya satu kesempatan untuk mendapatkan Gia.
Aku tau betul aku mungkin tak bisa selalu bersamanya.
Dia, perempuan baik itu, harus mendapat pendamping yang sehat bukan?
__ADS_1
Gia harus bahagia.
Aahh.. ini sungguh menyakitkan untuk berkata begitu.
Sial..
*****”
Aku meminta sedikit waktu kepada Lee setelah memberikannya kesempatan.
Aku ingin menikahi Gia. Aku ingin bersamanya, walau sebentar saja.
Aku berjanji tidak akan menyentuh Gia terlalu jauh.
Sebagai gantinya, Gia harus bahagia. Dia, perempuan kesayanganku itu harus bahagia bersamanya. Nanti. Setelah aku tak ada.
Dia pria yang baik. Aku ingin sekali berada diposisinya. Kau tau?
Di luar dugaanku. Dia malah pergi meninggalkan aku sendiri. Terpaku menatap punggungnya di ujung taman menjauh.
*****”
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan. Cepat sekali waktu berlalu.
Sekarang, bahkan sudah musim semi. Mengapa waktu terlalu cepat bergulir?
Lee hampir setiap hari akan menanyakan keadaanku.
Dia aneh sekali. Pria aneh yang menyebalkan.
Dia seharusnya mendoakan aku cepat mati bukan?
Tapi tidak. Dia sudah seperti kakak yang dengan setia membantuku mencari perawatan terbaik. Tentu agar aku lekas sehat.
Aku tau. Waktuku tidak lama. Seharusnya dia tau itu.
__ADS_1
Ahh.. aku lega.. setidaknya, kesayanganku, Gia, akan bersama dengan orang yang tak kalah mencintainya.
******”