
Gia datang tepat jam 11 siang.
Lee juga datang hampir bersamaan.
Lee menggenggam tangan Gia erat. Menggandengnya menuju lift yang akan membawa mereka dimana Liam berada.
Di lantai atas, Sekretarisnya Liam dengan segera membukakan pintu untuk mereka.
Ruangannya disusun apik. Ada bau khas cendana yang membuat ruangan ini terasa nyaman.
Sedikit bau citrus juga menyeruak begitu saja.
Liam mengatur ruangan ini dengan sempurna.
Semua normal dan teratur.
Hanya ada satu yang berbeda. Sesuatu yang aneh dari orang yang menggandeng Gia.
Lee agaknya sedikit berubah.
Biasanya, dia lebih terlihat cool dibandingkan dengan Boy yang periang.
Mereka, dulu, benar-benar berkepribadian yang bertolak belakang.
Hari ini, Gia baru memperhatikan.
Ahh, rasanya hampir setahun ini Gia tak melihat siapapun.
Lee, berusaha berubah.
Lee berceloteh panjang lebar. Dia terlihat sekali seperti ingin meniru gaya seseorang.
Dia bahkan sesekali tertawa persis seperti bagaimana Boy tertawa.
Gia dan Lee cukup lama menunggu kedatangan Liam.
Lee tetap saja mengoceh entah tentang apa saja. Gia bahkan hampir lupa.
Sesekali dia akan merespon dengan senyuman tipis.
__ADS_1
Perlahan Gia meraih tangan Lee di atas meja.
Dia tau persis pria di depannya ini sangat mencintainya.
Gia hanya belum siap untuk memulai kehidupan baru saat hatinya hancur dan terluka.
Saat kenangan indah bersama yang terkasih, justru melekat dengan sempurna.
Gia tak bisa.
Lee melihat tangan mungil yang menggenggam tangannya.
Dia tak melihat cincin bermata merah muda itu lagi.
“Lee, jadilah dirimu sendiri. Kau cukup manis dengan gayamu sendiri”
Lee terdiam. Terpaku.
Dia menunduk.
“Aku hanya ingin kau tersenyum. Jangan bersedih lagi. Orang yang pergi, biarlah pergi. Dia akan tetap hidup dalam ingatan. Tapi orang yang datang, biarkan datang, Gia. Aku ingin kau melihatku” Lee bergumam pelan.
Begitulah.
Kadang, luka akan lebih cepat jika disembuhkan bersama-sama.
Gia tau. Lee juga sangat terluka atas kepergian Boy.
Entah sedekat apa mereka.
Hanya Lee dan Boy yang tau.
Tapi, gurat kesedihan itu, masih terlihat jelas di wajah Lee.
Terakhir, saat melihat Lee menggosok sedikit ujung matanya ketika melihat foto Boy waktu SMA.
Gia sadar. Lee juga berduka.
Lee memang selalu begitu.
__ADS_1
Dia diam, dan tak pernah menunjukkan rasa sakitnya.
Terkadang, orang seperti inilah yang justru menyimpan luka lebih dalam.
Gia menggosok lengan Lee pelan.
“Boy sudah bahagia Lee.. Doa warga desa akan selalu bersama dengannya. Maafkan aku karena tak memahamimu, emm?”
Lee terdiam.
Dia mendongak lagi. Dengan alasan memperhatikan plafon lagi.
"Padahal, aku sudah bilang padanya dia harus hidup. Tapi dia tetap tak menurut." Lee masih mendongak.
aah, air mata itu benar-benar hampir jatuh.
“Sudahlah, plafonnya baik-baik saja” Gia terkekeh.
Lee masih terus mendongak bahkan sampai saat Liam datang.
Mata Lee yang memerah, tak bisa di tutupi dengan apapun.
Gia mengambil tisu di atas meja. Mengelap sudut mata Lee yang basah.
“Sudah, lihat aku. Nanti kita ke taman ya” bujuk Gia.
Lee menatap Gia lama
“Baiklah” Lee tersenyum lagi.
Hari ini, setelah setahun Gia mengubur diri. mereka akhirnya berkumpul. Mereka berbicara cukup lama.
Bersama Liam, Gia banyak tau bahwa usaha yang dikembangkan Boy sudah semakin maju saat mereka mengambil alih.
Gia terdiam terpaku mendengar laporan dan penjelasan dari Liam yang sangat detail.
Lee juga menanggapi beberapa hal.
“Boy, kau berhasil sayang” Bisik Gia dalam hati.
__ADS_1
******”