
23 Desember.
Dua hari setelah pernikahan berlangsung, wajah cerah Boy semakin terlihat.
Melihat sang istri yang berbaring tidur disampingnya menjelma menjadi sebuah kebahagiaan yang tak pernah dibayangkannya.
Mimpinya menjadi kenyataan. Setelah bertahun lamanya.
Dia beranjak, meninggalkan sisa-sia parfum musk yang menempel di bagian tempat tidurnya.
Memulai rutinitas baru membuat seduhan jahe panas kesukaan Gia dimusim dingin.
Gia hampir saja melupakan janjinya untuk menemui Tuan Lee.
Begitu pula Boy. Dia hampir lupa dengan diskon yang ditawarkan Georgia, pemilik cafe favoritnya.
Bahkan sudah sebulan dari pernikahan mereka.
Gia dan Boy masih terlena dengan hubungan baru mereka.
Di tempat yang lain, Tuan Lee menghela nafas kasar.
Kabar pernikahan diam-diam Gia tentu sangat mudah dia dapatkan.
Boy dengan sukarela meminta maaf untuk kesempatan yang diberikan kemudian dicabutnya.
Musim dingin kali ini, benar-benar mengusiknya.
Tak mudah menghilangkan gundah jika salju terus turun seperti bumbu penguat.
Aroma musim dingin terasa benar-benar memuakkan.
Berbeda sekali dengan yang dirasakan Boy dan Gia.
“Boy, kau seharusnya memang tak pernah kembali” Lee mengumpat.
Satu sudut bibirnya meninggi, sinis.
“Aku belum berjuang, tapi telah kalah” Satu pesan terkirim ke email Ryan, Sahabatnya di ujung bumi yang lain.
****””
Hari-hari berlalu.
Gia masih setia dengan tugas akhirnya yang mungkin bisa rampung dalam beberapa bulan ke depan.
__ADS_1
Latar belakang Gia yang memang telah terbiasa dengan data dan pengembangan bisnis, membuat semuanya berjalan sangat lancar.
Semesta seperti mendukungnya.
Beberapa kali Boy harus terbang ke Indonesia juga negara lain.
Pekerjaannya sebagai eksportir membuatnya harus sering bertemu rekan dari negara yang berbeda.
Boy cukup berani untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Tentu saja dengan berkolaborasi dengan berbagai mitra dari daerah berbeda.
Tak apa, makin banyak daerah terlibat, makin maju Indonesia. Itu adalah mimpi besarnya.
Sesekali Boy akan datang ke London. Tentu saja dengan durasi yang lebih lama ketimbang saat masih pacaran dulu.
Hari ini, Boy sengaja meminta Gia untuk beristirahat sejenak.
Mengajaknya berjalan ke cafe langganannya.
Gia harus tau tempat itu.
Tempat dimana Boy berkunjung sendiri, namun dengan Gia di dalam hati.
Boy sampai lebih dulu.
Dia sengaja datang lebih cepat. Dia tak ingin tempat duduk favoritnya sudah diduduki orang lain.
Sesekali dia mengeluarkan kotak bludru berwarna biru tua.
Ada kalung cantik di dalamnya, sebuah hadiah untuk Gia atas keberhasilan kerjasama barunya.
Dari kejauhan, perempuan berambut kemerahan itu datang lagi.
Dia memang sengaja menguncirnya tinggi kali ini.
Dia memang menyukai musim semi seperti ini.
Hangat matahari membuatnya merasa hangat.
Dia melihat Boy dari sana.
Bahagia. Tentu saja.
Dia berlalu kecil menuju orang yang paling ditunggunya.
“Maafkan aku, apa itu lama?” Gia tergopoh dengan berbagai macam buku di lengannya.
__ADS_1
“Itu berat. Kenapa mengangkat buku sebanyak ini?” Boy meletakkan buku Gia disamping tempat duduknya.
"Lihat rambut manis mu ini. Kenapa berantakan, Emm?" Tangannya membelai lembut rambut Gia. Favoritnya.
“Aku harus segera kesini, aku dengar, pemilik cafe ini sangat cantik. Aku tak mau kau tergoda”
Keluhan Gia membuat Boy tertawa renyah.
Gia sekarang ternyata menjadi lebih bodoh dari Boy yang dulu.
Gia lupa, jika kunci hati Boy sudah ditangannya. Sejak dulu. Sejak mereka masih dengan motor butut itu.
Perempuan dengan rambut kemerahan berhenti dan menyetop langkahnya.
Boy memang ramah. Tapi, dia tak mungkin seramah itu kepada orang lain jika bukan orang spesialnya.
Dia berjalan gugup meneruskan langkahnya.
“Boy, kau datang?” Dia memberanikan diri merangkul pundak Boy dan duduk di sampingnya. Menggeser buku-buku Gia hingga ke sudut tempat duduknya.
Gia terpaku.
Dia tak pernah melihat Boy sedekat itu dengan perempuan lain. Bahkan dulu, saat Boy berpacaran dengan Nadia.
Tapi sekarang? Ahh sudahlah.. mungkin itu hanya perasaanku saja. Benak Gia menunduk.
“Jangan begitu.. Kau harus mengenal perempuan hebat ini” Boy berdiri dan duduk di samping Gia.
Memeluk pinggang kecil itu hangat.
“Dia adalah istriku. Aku sengaja membawany ke tempat favoritku. Disini indah, terlebih di musim gugur. Kau pernah melihatnya di musim gugur, sayang?” Boy mengerti perasaan Gia.
“Ahh, tidak.. aku belum pernah kesini, baru satu kali musim gugur terlewati di London. Aku belum sempat melihat berbagai macam tempat” Gia menggeleng lemah.
Perasaannya, jauh lebih baik sekarang.
“Baiklah, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat lain di dunia. Kau tau? Aku ingin melihat dari tempat yang sama bersamamu.” Boy bicara, seakan lupa dengan keberadaan Georgia.
Perempuan itu, bahkan sudah *******-***** ujung kemejanya.
Matanya merah memanas.
"Tidakkah kau melihatku Boy" Geramnya dalam hati.
******”
__ADS_1