Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 9


__ADS_3

Mood Tuan Lee mulai membaik sedikit setelah dua hari terakhir.


Kurasa beban pekerjaannya semakin bertambah. Mungkin Hal itu juga yang membuatnya jauh lebih sensitif tentang apapun.


Dalam perjalanan pulang, aku membelikan Tuan Lee dan Ryan roti kecil. Aku memang sangat suka roti ini. Aku biasa membelinya saat tinggal di Singapura.


Tuan Lee tersenyum.


Entah mengapa, aku lega melihatnya tersenyum begitu. Kuharap, dia akan selalu bahagia.


Aku juga mulai sedikit dekat dengan Tuan Lee.


Ternyata dia memiliki kepribadian yang berbeda dari Ryan.


Tuan Lee lebih sering berbicara dan bertanya.


Satu jam perjalanan kami di pesawat menjadi tidak terasa.


Dia sering melirik cicin di jari manisku. Kurasa, cincin ini memang cantik. Sampai membuatnya tertarik.


Aku bercerita padanya tentang Boy dan kejadian pipis di atas motor.


Dia tertawa lepas.


Kurasa, aku baru kali ini melihat Tuan Lee tertawa begitu.


Aku juga bercerita padanya bahwa aku berencana off dari pekerjaan untuk sementara.


Entahlah, aku masih mencoba menyeimbangkan pekerjaan dan pendidikan.


Aku ingin sekali mengambil gelar S2. Aku ingin pergi ke London, mengambil jurusan Management Bisnis. Kurasa, aku membutuhkannya.


Tuan Lee ternyata memiliki keinginan yang sama. Universitas tujuan kami pun sama.


Hanya saja, Tuan Lee agak sedikit berbeda.


Dia tidak bisa serta merta melepaskan posisinya sepertiku, meskipun untuk sementara.

__ADS_1


Dia bilang, mungkin saja bisa. Jika kakaknya bersedia menggantikan posisinya untuk 2 tahun ke depan.


Aku hanya berdoa yang terbaik untuknya.


Selain itu, Tuan Lee ternyata lebih muda dari dugaanku.


Waktu pertama kali kami bertemu, umurnya ternyata baru 27 tahun. Artinya, sekarang umurnya sudah 32 tahun. Selisih 5 tahun dariku dan Boy.


*****


Aku pulang ke rumah.


Boy ternyata ada disana.


Dia tidak banyak berbicara juga. Dia hanya memberikanku sebuah kotak kecil.


Aku rasa isinya mungkin jam tangan.


Dugaanku benar. Isinya memang jam tangan.


Katanya, itu hadiah karena selama ini dia belum pernah memberiku apapun.


Hari dulu, adalah hari yang indah.


*****”


Boy sudah pergi.


Ibu memberikan sebuah nasihat yang kurasa cukup patut untuk dipertimbangkan.


Ibu menyarankanku untuk menerima Boy.


Selain sudah mengenalnya dengan baik, Boy juga laki-laki bertanggung jawab.


Dia membantu banyak orang di desa.


Itu adalah poin yang paling membuatku sedikit condong kepadanya.

__ADS_1


*****”


Seminggu berlalu.


Cuti off untuk sekolahku diterima perusahaan.


Hubunganku dengan Tuan Lee juga cukup hangat.


Aku sudah terbiasa berbicara santai dengannya saat diluar pekerjaan.


Sesekali Ryan menanggapi percakapan kami sambil tersenyum cerah. Tidak sampai tertawa sepertiku dan Tuan Lee.


Aku juga sudah mulai terbiasa memanggil Tuan Lee dengan namanya saja, Lee. Aku jadi merasa seperti kembali bertemu dengan Lee si penakut itu.


Lucu sekali.


Ryan berencana akan membantuku mendaftar kuliah.


Dia ternyata alumni dari universitas itu juga.


Pantas saja dia terlihat cekatan sekali saat berhubungan dengan orang-orang universitas.


Aku bisa diterima di universitas, kurasa sembilan puluh persen karenanya.


*****”


Sehari sebelum keberangkatanku, aku menerima pernyataan cinta Boy.


Tidak langsung menikah seperti permintaannya. Aku masih butuh waktu untuk itu.


Kami memutuskan untuk berpacaran saja.


Dia cukup puas dengan hubungan ini.


Dia juga memperhatikanku dengan baik


Dia bilang, dia akan terus menungguku sampai kapanpun.

__ADS_1


Hatiku menghangat melihatnya bahagia. Walau tak sampai sebahagia saat aku melihat Tuan Lee tersenyum.


Ahh, aku berpikir apa? Dia hanya bos ku saja.


__ADS_2