Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 3


__ADS_3

Ada rasa tak nyaman saat sedekali berpapasan dengan Nadia. Bukan apa-apa. Aku rasa dia hanya tidak perlu mengkhawatirkan aku akan merebut Boy darinya. Seperti kubilang, aku bersama dengan Boy sudah hampir 6 tahun belakangan. Dan nyatanya, tak ada cinta diantara kami. Setidaknya sampai detik ini.


Aku hanya merasa kehilangan, benar-benar kehilangan. Kehilangan seorang sahabat yang biasanya bersamaku.


Sedih sekali.


*********


Wawancara hari ini berjalan lancar. Aku diterima di perusahaan cukup besar. Mungkin setara dengan perusahaan multinasional. Aku diterima sebagai anggota sekretaris kantor cabang.


Ternyata, sekretaris di kantor itu bukan cuma satu seperti dugaanku. Kesekretariatan punya banyak sekali anggota. Dan aku merasa beruntung bisa memulai karir sesuai dengan keinginanku. Meskipun, level yang kudapat juga tidak terlalu tinggi sebagai calon sarjana baru.


Aku sengaja belum memberi tahu Boy tentang kabar baik ini. Aku tak mau mengganggu konsentrasinya atau bahkan membuatnya gugup.


Tapi kurasa, Boy pasti bisa menanganinya. Boy adalah anak yang sangat pintar, dan juga pintar berbicara.


Sore menjelang.


Seperti dugaanku. Aku dengar Boy diterima pada posisi yang lebih baik. Dia mendapat kesempatan menjalani Management Trainee (MT). Artinya, Boy akan dididik sekitar 3 sampai 6 bulan untuk menjadi pegawai tetap perusahaan. Biasanya, yang melewati MT, akan ditempatkan diposisi yang cukup penting dan mempunyai bawahan juga.


Tentu saja, aku mendengar kabar baik ini bukan dari Boy langsung. Aku rasa, Boy bahkan sudah melupakanku.


*******

__ADS_1


Kupandangi celana jins yang ku jemur di belakang kost-kostan ku.


Celana yang punya cerita kelam tentang pipis di atas motor di waktu yang lalu.


Tidakkah kau ingat Boy? Aku tetap temanmu.


Besok adalah hari yang menentukan.


Walaupun sidang akhir skripsiku masih seminggu lagi, tapi perusahaan tempatku nanti bekerja sudah sibuk memanggilku untuk melakukan beberapa pembekalan dasar.


Aku dan beberapa teman yang lain, yang juga berhasil lolos sebagai anggota di bagian sekretaris berjumlah enam orang.


Aku adalah yang paling tinggi dari ukuran tinggi badan dibanding yang lain.


Rambutku juga satu-satunya yang bergelombang. Teman-teman yang lain, nampak cantik sekali dengan rambut lurusnya. Tapi tak mengapa. Aku rasa bergelombang juga menarik. Iya kan?


Mereka bilang, beliau sangat sibuk. Bahkan, sesuatu yang sangat luar biasa bagi beliau untuk bisa memberikan sedikit ucapan selamat datang. Yang kurasa, mungkin tidak sampai 5 menit saja.


Beliau sangat ramah. Setidaknya itu tanggapanku dilima menit perjumpaan kami.


Karyawan lain memanggil beliau dengan Pak Lee.


Beliau sangat muda untuk takaran pimpinan perusahaan. Umur beliau sekitar 30 atau 32 tahunan.

__ADS_1


Aku tidak tau pasti. Yang jelas, beliau sangat tampan.


******


Sidang skripsiku sukses.


Aku bisa langsung mengurus sisa kelengkapan untuk mengajukan wisudah di Universitas.


Artinya, sebentar lagi aku akan memasuki dunia kerja.


Sekali lagi, aku benar-benar bersyukur bisa langsung bekerja.


Teman-teman yang lain, yang tidak lolos seleksi wawancara harus berjuang lagi mendaftar kesana-sini.


Aku hampir terbiasa tanpa kehadiran Boy.


Dia pernah mengirimiku satu pesan, mungkin sekitar sebulan yang lalu.


Boy bilang, Nadia agak sedikit posesif dengan apa yang Boy lakukan. Boy memintaku untuk tidak mengiriminya pesan apapun kecuali memang benar-benar terdesak.


Terdengar benar-benar jahat bukan?.


“Boy, aku ini temanmu kan?” begitu lirihku sesaat setelah membaca pesannya.

__ADS_1


Dan begitulah hubungan kami mulai menjauh, sampai sekarang.


*********”


__ADS_2