
Boy hampir beranjak dari tempat duduknya.
Cukup menyenangkan memandang sisa-sisa daun kecoklatan yang masih berusaha gugur dipenghujung musim ini.
Udara dingin masih menusuk kulit.
Mungkin takkan berapa lama lagi musim dingin akan tiba.
Bau pumpkin pie tercium dari rumah berdempet seberang sana.
Aah.. benar-benar musim ternyaman sejauh ini.
Udara dingin dan kering. Bau makanan khas dan gemerisik suara daun kering terinjak menjelma menjadi terapi yang cukup baik untuk Boy.
Halaman cafe yang cukup luas, membuat anak-anak bisa berlarian. Sangat menyenangkan.
Bibir Boy terangkat keatas membentuk lengkungan yang sempurna.
Bisa terlihat sedikit gigi putihnya yang menambah indah untuk dipandang.
Tak terbaca sedikitpun perasaan sedih dari hatinya.
Wajah itu tetap sama. Dia memang selalu begitu.
Dari jauh sayup-sayup terdengar suara mobil yang cukup berisik datang dan terparkir asal di depan cafe.
“Yah, kurasa terapiku berakhir disini” Boy bergumam.
“Suara mobil yang sangat mengganggu” Dia menambahkan lalu bersiap beranjak.
“Dasar mobil sialan.. “ umpat seorang perempuan setelah menutup kasar pintu mobilnya.
Pandangannya asal, menggeleng sekilas, lalu terpaku ke depan.
Boy, dia melihat Boy untuk kesekian kalinya lagi.
“Tunggu Tuan, apa kau tak mengenalku? Bisakah kau membantuku memperbaiki mobil ini?” Gadis itu meminta permintaan aneh kepada Boy yang hampir berlalu.
“Maafkan saya Nona. Saya tidak yakin saya bisa membantu. Saya tidak cukup baik dalam hal ini” Boy terkekeh.
.
__ADS_1
“Ahh, begitu rupanya.. Oh iya, aku cukup sering melihatmu disini. Apa kau tinggal disekitar sini?”
“Tidak juga, saya hanya menyukai tempat ini. Khususnya dimusim gugur”
“Sering-seringlah kesini. Aku Gia. Georgia Jasmine. Kita pernah bertemu sebelumnya di taman kota. Aku pemilik cafe ini”
“Ahh, Senang bertemu denganmu. Saya Boy. Kau bisa memanggilku begitu. Seleramu bagus dengan desain cafe ini” Boy menyambut salam perkenalan Georgia.
“Kapan-kapan saya akan kesini lagi” Tambahnya.
“Kau akan sangat senang jika kesini lagi. Aku akan memberikanmu diskon khusus. Dan berhentilah terlalu formal kepadaku” Georgia tertawa renyah.
“Tentu saja. Baiklah.. Aku harus segera pergi.”
Boy tersenyum dan berlalu dengan Georgia yang masih terpaku.
Sekali lagi, setelah sepuluh meter, Boy berbalik melambaikan tangannya lagi.
“aku akan kembali mengambil diskonku” Teriaknya menjauh.
Dari sini, di depan cafe ini, Georgia masih setia terpaku. Melihat punggung laki-laki yang selalu dinantinya datang sampai tak terlihat lagi.
Kedatangan Boy yang cukup sering, rupanya telah menautkan hatinya kepada pria ini. Entah sejak kapan itu terjadi. Mungkin sudah setahun ini.
Di perpustakaan, Gia masih sibuk bersama Tuan Lee. Rupanya, kedatangan Tuan Lee cukup merepotkan. Dia tidak berhenti bicara pelan.
Yah, walaupun pelan, suara itu akan tetap cukup terdengar dalam ruangan sesunyi ini.
“Hei Anda.. Kurasa Anda bisa keluar saja untuk bicara” Nyonya penjaga mulai mengoceh sambil menunjukkan mistar panjangnya ke arah Tuan Lee.
“Tepat seperti dugaanku” Gia bergumam.
“Nyonya, maafkan kami. Kami akan segera keluar. Sekali lagi mohon maaf” Gia menarik tangan Tuan Lee menjauh. Cukup jauh sampai ke halaman parkir samping perpustakaan.
Tarikan kasar Gia tak membuat Tuan Lee marah atau bersedih. Terbukti dengan ekspresi bahagianya yang lebih seperti ekspresi tanpa dosa.
Dia tetap tersenyum memandang tangan mungil yang hampir tertutup semua oleh sweter pink pucat itu.
Lucu sekali. Begitulah pikirnya.
Sesekali terbersit niat untuk menarik Gia ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Tapi rupanya, dia belum seberani itu.
“Hei, jangan marah begitu. Maukah kau kuceritakan cerita cinta lanjutanku? Ayo ikut aku ke taman. Aku membawa mobil. Aku parkirkan disana. Ayo kesana” Tuan Lee menunjuk bagian pojok depan parkir perpustakaan.
“Heii.. aku disini untuk menyiapkan penelitianku, kau tahu?” Gia menggerutu.
Tubuh mungil itu rupanya tak cukup tenaga menolak tarikan dari Tuan Lee.
Dia membawa Gia tepat ke taman tengah kota.
Disini, beberapa pohon masih setia dengan warna daun orangenya. Cukup menarik dengan warna cerah yang menggoda.
“Boy harus melihatnya” Gia berbisik dalam dirinya.
“Baiklah.. ayo kita mulai lagi..” Tuan Lee tersenyum cerah sesaat setelah berhasil mendudukan Gia di kursi pinggir taman itu.
“Maka, cepat ceritakan. Aku tak ingin cerita ini akan terus mengganggu tugas akhirku” Gia melipat tangannya. Kakinya diangkat bersila menghadap Lee.
Unik. Tuan Lee tertawa.
“Gia.. aku mencintaimu. Kau tau, kaulah orang itu” Tuan Lee memulai.
Sejenak, dia menunduk menunggu respon dari perempuan yang telah bersemayam dihatinya lama.
“Aku tau.. Jadi, Cuma itu?” Tuan Lee sedikit terkejut. Dia tak menyangka Gia akan seberani itu.
“Ahh.. kau mau aku bagaimana? Melamarmu? Atau.. Menikahimu langsung saja?” Tuan Lee tertawa lagi. Ada keseriusan dalam tawanya.
“Tidak.. Kau tidak perlu.. aku sudah punya kekasih. Dia bahkan melamarku setiap hari. Kau tau?” Jawab Gia menunjukkan cincin dengan permata pink nya. Manis sekali.
“Hei, kau harus memberikan kesempatan padaku. Boy saja memberikan kesempatan itu. Kenapa kau tidak? Aku akan membuktikan ucapanku Gia. Kau akan jadi milikku.” Ucap Tuan Lee yang cukup membuat hati Gia terhenyak.
Bagaimana tidak. “Boy, si bodoh itu, belum pintar juga” Gia tersenyum miris.
“Lee.. kau terlihat manis jika begitu. Kurasa, kau harus sering-sering dibonceng dengan kecepatan penuh” Gia berlalu..
“Giaa.. Heii.. tunggu aku” Tuan Lee berusaha mengejar.
“Aku harus pergi.. Pulanglah.. aku akan menemuimu nanti.. byee Leee. Oh ya, Kerah swetermu, harus kau naikkan sediki. Dingin” Gia melambaikan tangannya dan terus menjauh.
“Aku menunggumuu”
__ADS_1
“Gia, aku menunggumu” Lee tersenyum.