Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 26


__ADS_3

Hari ini, Gia merasa semua menjadi lebih baik.


Dia juga sudah seperti sedia kala.


Cinta itu masih bersemayam, jika kau bertanya.


Hanya saja, hidup harus berlanjut.


Melihat kabar bahwa pak Hendri, Ayah Boy, yang tetap semangat menghidupkan mimpi anaknya.


Melihat Liam, Ryan dan Lee yang berusaha mati-matian menggerakkan perusahaan milik Boy.


Sungguh, hal itu membuatnya malu.


Dia berjalan di pinggiran taman kota.


Disini, memang terasa lebih segar dibanding tempat lain di kota.


Gia memilih satu tempat yang tidak terlalu ramai.


Dia memejamkan matanya sejenak.


Menikmati hembusan lembut angin membelai wajahnya.


Dia sangat suka tempat seperti ini.


Dulu, di London juga ada.


Tempat ini juga menyimpan banyak kenangan indah bersama Boy. Dulu, jauh saat waktu mereka masih kuliah.


Gia masih mengingatnya.


“Sayang, besok aku akan mulai bekerja. Di perusahaanmu. Kau dengar?”


Gia berbisik sambil tersenyum saat hembusan angin meniup rambutnya lagi.


Seakan-akan Boy menyapanya hangat.


Sungguh, rindu ini tak berujung


Gia meneteskan air mata lagi.


Memori-memori dulu teringat kembali.


Gia menghapus air matanya pelan.


“Heii.. aku merindukanmu..”

__ADS_1


“Haruskah aku membuka hatiku Boy?” Gia berbisik lagi..


Gia tersentak, saat tangan lembut memegang bahu nya.


“Kau disini juga, Gia?”


“Lee? Kau disini?”


Lee mengangguk..


“Aku jadi lebih sering kesini sejak setengah tahun lalu, saat aku kembali. Ini, tempat favoritku”.


“Mau kuceritakan lanjutan kisah cintaku?”


Gia tersenyum.


“Tidak.. aku sudah tau”


“Jika begitu, aku akan menceritakan tentang orang yang ada dalam pikiranmu, Boy”


Gia terdiam, tak bergeming.


Sungguh, saat ini, rasa penasaran itu kembali menyeruak.


“Kuanggap diammu, sebagai jawaban iya..” Lee tersenyum hangat. Di menyentil sedikit ujung hidung mungil Gia dengan telunjuknya.


“Aku mengenalnya sudah lama.. jauh sebelum kau bertemu dengannya di singapore”


Gia terheran. Dia seakan berbisik. Bagaimana bisa?


“Heii.. dia orang yang jenius, mau tau?”


Lee terkekeh.


“Kami jadi tidak terlalu dekat saat aku melihatnya melamarmu, dulu, di bandara”


“Ahh.. itu masa lalu..” dia menambahkan.


“Aku... Emm.. bisa dibilang cukup dekat dengannya. Tidak sedekat dengan Ryan tentunya. Hanya saja, dia orang yang cerdas. Dia juga baik.. Dia adik kecil yang baik”


Lee menghela nafas panjang.


“Dia pernah terlibat kerjasama pekerjaan dengan Liam. Kau ingat? Dia pernah bekerja. Perusahaan itu, adalah perusahaan Liam, kakakku”.


“Kau masih mau mendengarkannya?” Lee tersenyum.


Gia mengangguk.

__ADS_1


“Dia bilang jika dia punya mimpi untuk membangun perusahaan khusus untuk membantu petani. Saat itu, Liam menyambut dengan antusias niat baiknya. Liam membantu sebisanya saat awal-awal dia merintis usahanya dulu”


“Aku berkenalan dengannya tidak lama dari itu. Kami menjadi cukup dekat, karena Boy sering bertemu dengan Liam. Dan terkadang, aku ikut. Kami jadi semakin dekat. Dia, orang yang periang, jadi, cocok sekali ditengah-tengah antara orang kaku seperti kami. Membuat suasana hidup”


“Aku dulu, berharap, bahwa cintamu bukan Boy yang itu” Lee tersenyum.


“Aku cukup marah, dulu, saat tau bahwa Boy tiba-tiba melamarmu. Ahh, rasanya menyebalkan sekali harus bersaing dengan orang terdekatmu. Aku mulai menjauh. Bodoh” Lee merutuki tingkah kekanakannya.


“Bagaimana mungkin aku bersikap seolah tak mengenalinya lagi ketika aku tau, dia mencintaimu. Maafkan aku”


“Aku tau dia sakit, karena tak sengaja mengunjungi dokter lama ibuku. Ibuku pernah dirawat disana, di London”


“Aku melihat Boy disalah satu bangku taman, pandangannya saat itu menerawang jauh. Aku tau, dia tidak baik-baik saja”


“Boy menceritakan semuanya. Tentang sakitnya, cintanya, kisahnya, semuanya. Dia juga menjanjikan hal gila kepadaku, kau tau?”


“Dia tak akan menyentuhmu, dengan syarat, bahwa aku akan menjagamu sampai akhir. Saat dia sudah tak ada”


Gia terisak.


“Gia, aku tak ingin membebanimu dengan janji itu. Aku. Aku mencintaimu, aku tak ingin memaksakan jika kau tak mau bersamaku. Aku memahaminya. Aku akan menjagamu dengan cara yang lain” Lee memeluk Gia erat.


Gia mendongakkan kepalanya.


Dia melihat Lee yang dengan setia menunggunya.


“Apakah bisa, kita memulai semuanya dengan perlahan, Lee?”


Lee tersenyum.


“Tentu saja. Menikahlah denganku, Gia. Kita akan memulai dari ikatan pernikahan agar kau terbiasa. Kau mau?”


Gia mengangguk.


“Maka, aku akan mengurus semuanya” Lee tersenyum lebar. Menghapus jejak sisa air mata Gia.


“Tak apa kau tak melupakan Boy, Gia. Jangan bebani dirimu dengan itu. Menetap di sepotong hatimu yang lain saja, sudah sebuah keberuntungan untukku. Jadi tersenyumlah”


Gia tersenyum


“Terima kasih pengertianmu, Lee”


Lee mencium bibir Gia lembut.


Gia tersentak, tapi dia tak menolak.


“Bukankah aku telah berjanji untuk membuka hati” Bisiknya dalam hati.

__ADS_1


******”


__ADS_2