
Lee dan Ryan datang saat hari menjelang malam.
Dia setengah berlari di dalam lorong rumah sakit besar di kota ini.
Gia bahkan telah selesai menyuapi sedikit bubur pada Boy.
Hari ini, entah kenapa, Boy terlihat lahap sekali.
Sesuatu yang sangat luar biasa untuk Gia.
Sungguh, melihat Boy makan dengan lahap saja sudah mampu memperbaiki hatinya sedikit.
“Cepatlah pulih Boy. Kau ingat, seharusnya kita punya anak nanti. Kita akan membesarkannya bersama, bukan?” Air mata Gia menggenang.
“Bukankah kau ingat saat kau pipis di atas motor waktu hari hujan Boy? Aku masih menyimpan celana yang kupakai waktu itu” Kepala Gia semakin tertunduk.
Sepertinya, Gia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.
Boy, pria itu, hanya mengelus puncak kepala Gia pelan.
“Boy, kau harus mengajakku keliling dunia bukan?” Gia meraih tangan yang mengelus kepalanya.
Digenggamnya sedikit erat. Berharap rasa sakit Boy bisa berpindah sedikit pada tubuhnya.
Tangan Boy sangat dingin. Dia hanya tersenyum.
Lee masuk sesaat setelahnya.
Dengan Ryan yang menundukkan kepala hormat pada mereka.
Gia berdiri sejenak, mengikuti langkah kaki Sekretaris pribadi Lee keluar ruangan.
Dia pikir, Boy butuh waktu bersama Lee.
Bukankah itu yang dimintanya saat menginginkan pria itu datang?.
******”
Gia sudah sesak menahan semua tangisnya dalam ruangan tadi.
Bahkan kakinya sudah tak sanggup terlalu jauh mengikuti Ryan yang sepertinya mengajak untuk ke taman samping Rumah sakit.
Ryan pikir, Gia butuh sedikit merilekskan pikiran.
Dia paham, tidak mudah bagi Gia untuk menerima semua rasa sesak itu dalam waktu yang begitu cepat.
Ahh, sesekali dia menyesal mengapa bersedia menyembunyikan semuanya dari Gia, permpuan yang sudah dia anggap seperti muridnya.
Ryan bukan pria yang mampu menunjukkan perhatiannya.
Meski dia tau rasa sakit yang menggerogoti Gia, mungkin tidak bisa terbayang oleh apapun.
Ryan berbalik melihat perempuan itu duduk berjongkok. Memeluk lututnya.
Punggungnya sedikit bergetar.
Dia tau, Gia menangis.
Ryan menghampiri Gia perlahan.
__ADS_1
Membiarkan Gia mengeluarkan semuanya.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu.
Sesekali Ryan mengusap pucuk kepala Gia.
Ternyata, hal itu malah membuat tangisnya semakin terisak.
Ryan bingung.
Dia belum pernah menangani perempuan yang menangis.
******”
Di ruanganan, Boy terlihat sangat letih.
Dia memaksakan diri terlihat biasa di depan Gia.
Dia tau, tubuhnya sudah tak cukup mampu bertahan lebih lama.
Beberapa patah kata yang ingin diucapkan Boy pada Lee bahkan harus tertahan karena nafasnya yang tersengal.
“Ingat janjimu Lee?”
Boy meraba dadanya dengan tangannya.
“Kau harus menjaga Gia. Aku tak pernah menyentuhnya lebih jauh Lee.. anggap itu hadiahku untukmu, karena janjimu untuk menjaga wanita kesayanganku”
Lee tertunduk. Dia bahkan tidak tau harus bicara apa.
Lee masih berharap Boy bisa sepenuhnya pulih.
Perasaan itu muncul begitu saja.
Meski Lee sangat mencintai Gia. Dia tetap rela memberikan apapun asal Boy bisa sembuh seperti sedia kala.
“Dia gadis yang ceria. Terkadang dia sangat konyol. Tapi dia sumber kebahagiaan orang disekelilingnya. Tidakkah kau sadar, Lee? Banyak kehangatan untuk orang lain saat Gia berada disana”
“Aku tau kau sangat mencintainya Lee. Maka jagalah dia sepeninggalku nanti”
“Hei.. kau tidak bisa berucap seperti itu, bodoh. Aku tak mau menjaganya. Kau harus menjaganya sendiri. Jadi kau harus sembuh, Boy” Mata Lee memerah.
Dia, benar-benar laki-laki melankolis ternyata. Begitu pikir Boy.
“Kau melihat apa, Lee” tanya Boy terkekeh. Dia melihat Lee berusaha keras menahan tangisnya.
Dia melihat ke atas lama. Sesekali, Lee akan mengedipkan matanya. Berharap air mata itu tidak turun.
Ahh, kegiatannya terbaca sekali.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya suka dengan plafonnya. Putih bersih. Aku akan buat rumahku seperti ini” Kilah Lee cepat.
“Kakak, kau harus berjanji. Kau dengar kan? Kau harus menjaga Gia Kak” Boy mengubah panggilannya pada Lee.
Siall.. umpat Lee dalam hatinya.
Air matanya tak bisa terbendung.
Lee menangis sejadi-jadinya. Dia tak peduli lagi dengan apa yang sedang dia coba tahan.
__ADS_1
Semua keluar begitu saja seiring mengerasnya suara tangisan.
“Kak, tolong panggilkan Gia. Aku ingin melihatnya”
Lee mengangguk.
Isakannya masih terdengar.
Dia beberapa kali menghela nafas meredam semua emosi jiwanya yang ada.
Dia tak ingin terlihat seperti itu. Dia khawatir Gia akan lebih cemas nantinya.
Belum sempat Lee membuka pintu, Gia sudah mengetuk, meminta izin untuk masuk.
Matanya terlihat sembab.
Dia sekilas menatap Lee yang berdiri membuang muka.
Mata Bos nya itu bahkan lebih merah dari matanya. Mungkin bisa dibilang begitu.
Gia menatap Boy. Pria itu tersenyum. Menepuk-nepuk tempat tidurnya. Berharap Gia mendekat.
“Naiklah. Aku ingin memelukmu”
Boy berusaha keras menggeser tubuhnya.
Gia naik perlahan.
Badan Boy semakin dingin.
Gia memeluknya erat. Semakin erat, dan erat.
Begitu pula dengan Boy.
“Berbahagialah kesayanganku. Aku mencintaimu”
Gia terisak mendengar itu.
“Lee akan menjagamu. Cobalah untuk memahami dan menerimanya nanti Gia. Dia sangat mencintaimu”
“Lee tidak perlu menjagaku, Boy. Kau yang harus bertanggung jawab menjagaku. Kau dengar?”
Boy mengecup puncak kepala istri kecilnya.
Pelukannya mengendur.
Seiring dengan isakan Gia yang semakin keras.
Dia tau, Boy sudah tidak ada.
“Aku mencintaimu, Boy” Dia mengeratkan pelukannya.
“Baiklah. Kau ingin tidur? Tidurlah. Aku akan menjagamu. Kau harus bangun besok. Kau dengar?”
Dokter masuk seiring dengan Lee dan Ryan.
Lee bergegas memanggil dokter setelah tau nafas Boy yang mulai tersengal tadi.
Boy, dia benar-benar telah pergi.
__ADS_1