Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 6


__ADS_3

Setelah berbicara banyak tentang perkembangan perusahaan. Tentunya setelah mengalihkan pembicaraan tentang ojek online, aku keluar dari ruangan Direktur Utama.


Sorot mata mulai melihatku dari karyawan lain yang heran kepadaku.


Ternyata hampir satu jam aku di ruang direktur. Pantas saja mereka terlihat heran. Mengingat direktur yang super super super sibuk itu.


Hari ini adalah hari yang mengejutkan.


Aku meminta izin pulang lebih awal.


Lebih awal maksudku adalah jam 4 sore. Yah, begitulah aku. Pergi pagi pulang malam. Begitu biasanya.


Aku berencana mengunjungi kedua orang tuaku. Mumpung masih di Indonesia. Mereka sudah pindah ke tempat yang lebih baik di tengah kota.


Dengan uang yang aku miliki, aku sekarang sudah mampu membawa kedua orang paling berjasa untukku ini Ke tempat yang fasilitas kesehatannya lebih dekat untuk dijangkau.


Mereka berdua memang sudah tua. Aku khawatir untuk kesehatan mereka jika hidup jauh di desa.


Aku juga sengaja tidak membawa mereka ke Singapura. Bahasa yang berbedalah yang menjadi alasan. Ku rasa, ibu kota sudah cukup baik dalam hal fasilitas kesehatannya juga.


Hari ini, aku kembali ke Singapura. Aku mengambul penerbangan pagi. Aku berharap sudah bisa tiba di kantor jam 9 pagi.


Tepat seperti rencanaku, jam 8 lebih 55 menit, aku sampai di ruanganku.


Trriinnggg.. triiinnggg..


“Halo, ya harry. Ada apa?” sesaat aku mengangkat telepon dari sekretarisku yang baru, Harry.


Pria muda yang cukup cekatan menurutku. Berpotensi untuk dididik jadi lebih baik lagi.


Mendidik bawahan agar bisa berkembang adalah salah satu kesukaanku. Aku berharap mereka akan menjadi orang sukses di masa yang akan datang, bahkan jika bukan bersamaku.


“Ada tamu meminta bertemu anda Nona”


“Siapa? Biarkan dia masuk.”


“Baik, Nona”


Kriieeett..


Suara pintu terbuka.

__ADS_1


Aku sontak berdiri menghampiri.


“Maafkan kelancangan sekretaris saya Tuan, silahkan duduk Tuan” aku menunjukkan sofa di ruanganku.


Aku agak terkaget melihat Tuan direktur datang ke departemen kami.


“Harry, tolong ambilkan minum untuk Tuan Direktur Utama. Ku harap kau tidak mengecewakanku” aku menelpon harry kembali


“maafkan kesalahan saya nona, saya akan mengantarkan pesanan nona segera”


______


“Sekali lagi maafkan kelancangan sekretaris saya tuan, dia adalah sekretaris baru. Belum mengenali siapa anda tuan” aku mencoba memulai pembicaraan.


“bagaimana bisa dia mengenaliku. Kau saja tidak mengenaliku. Aku kesini ingin mengembalikan helm mu dulu”


Dia menunjuk helm di genggaman sekretaris utama.


Aahh, aku baru sadar, dia memegang helm.


“Ahh, terima kasih banyak tuan.”


“Keluarlah Ryan. Katakan pada sekretarisnya jangan antarkan apapun sebelum aku keluar dari ruangan ini. Dan kunci pintunya” Tuan Lee memerintah sekretarisnya, Ryan.


Ryan berlalu.


“Mohon maaf tuan, ada apa ya tuan? Sampai harus mengunci pintu?”


“ah, tidak.. aku hanya ingin bersantai sejenak. Ruanganmu nyaman”


Tuan Lee mengangkat kakinya ke atas sofa, mengambil bantal kursi, dan berbaring.


Dia gila. Yah, kurasa dia gila


*******


Tuan Lee membuatku beratus kali berdecih kesal. Bagaimana tidak. Dia dengan enaknya tidur di sofa ruanganku.


Aku? Jangan ditanya. Kesulitan bekerja karena akses pintu ke ruang sekretaris ku di tutup.


Beberapa pertemuan dengan departemen lain juga terpaksa dibatalkan. Mungkin sudah setengah harian ini Tuan Lee di ruanganku.

__ADS_1


Dia sesekali bangun, mengecek HP, dan tidur lagi. Persis sekali orang pengangguran jika tidak memakai setelan jas itu.


“Kau dari tadi menggeleng terus. Apa ada yang salah?”


Aku mengangkat kacamataku ke atas kepala. Terheran mendengar pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Tuan Lee. Setelah sampai tengah hari ini dia sibuk sendiri.


Tuan Lee terdiam. Dia menatapku lama. Dia memang aneh sekali.


"Apakah ada sesuatu di wajahku?" aku membatin.


“Ah, mungkin perasaan tuan saja. Apa Tuan tidak lapar? Mau saya ambilkan makan? Atau mungkin tuan ingin membeli sesuatu? Biar sekretaris saya yang mencarikan”


“Tidak, aku sudah pesan”


Tok tok tok


Pintu terbuka


“Tuan, ini pesanan anda.” Ryan masuk dengan orang-orang berpakaian koki. Mereka juga mendorong meja beroda besar.


Dia gila.. aku rasa dia benar benar gila..


“Baik, keluarlah, kunci pintunya lagi”


“baik tuan muda”


Sekali lagi, Tuan Lee memerintahkan perintah aneh bin ajaib.


“ayo makan.. kau lapar bukan? Kau berangkat pagi sekali hari ini”


Dia tau.. aahh.. Tuan muda ini tau.. Tapi, bagaimana?


“ayo kemari.. jangan kira aku bukan bos mu”


“baik tuan. Tuan mau saya bantu siap kan?”


Dia terdiam sejenak. Mengelus dagu dengan telunjuknya.


“bukan bantu siapkan, tapi suapkan. Suapi aku”


“Apaaa?”

__ADS_1


*******


__ADS_2