Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 11


__ADS_3

POV Tuan Lee


Hari ini adalah hari yang menyedihkan untukku. Entahlah, aku merasa sangat sedih saat kakak bilang hanya bisa menggantikan posisiku tahun depan. Itu artinya, aku tidak bisa kuliah bersama Gia tahun ini.


Dia besok akan berangkat. Aku dengar Boy mengantarnya. Boy, si pria itu. Dia baik, sangat baik, tapi aku membencinya. Bisakah dia tidak ada? Aku selalu berpikir begitu.


Aku tidak bisa mengantarnya hari ini. Aku dan Ryan harus mengadakan pertemuan penting. Lagipula, aku mendengar Boy sudah menjadi kekasihnya, ahh aku kalah satu langkah.


Ryan adalah sekretarisku, sekaligus sahabatku. Dia tak banyak bicara. Tapi dia tahu persis perasaanku pada Gia. Baru kali ini aku jatuh cinta. setidaknya cinta monyet saat SMA tidak perlu aku hitung. Bukankah begitu?


Dia adalah gadis yang mengantarku ke rumah sakit lima tahun lalu. Aku sangat beruntung saat itu. Dia begitu baik mau membantuku. Mungkin bisa dibilang begitu polos. Dia mau membonceng orang lain. Padahal aku hanyalah orang asing yang mungkin saja berniat buruk. Dia tak berpikir sejauh itu rupanya.


Berkatnya, aku bisa sampai tepat waktu. Tepat sebelum wanita berharga memejamkan mata untuk selamanya. Orang yang paling aku kasihi meninggal tepat dihari itu juga, Ibuku.


Aku terjebak macet, pikiranku kacau. Aku hampir tidak mampu mencerna keadaan.


Aku melihat Gia duduk di kursi trotoar, tepat di bawah pohon yang daunnya baru menghijau setelah gugur di musim kemarau.


Aku sebenarnya sudah melihatnya dari saat dia memarkirkan motor di depannya. Dia manis sekali. Dia terlihat lucu saat itu.


Sejenak, pikiranku kembali. Itu berkat melihatnya. Ajaib sekali.


*****”


Setahun Gia berada di London.

__ADS_1


Aku masih sering mengiriminya email. Tentu saja melalui email Ryan. Aku terlalu gengsi untuk menanyakan kabarnya melalui akun ku sendiri.


Dia sering bercerita tentang kuliahnya. Dia juga bercerita sesekali tentang Boy dan kegiatan mereka. Aku berpikir mungkin mereka sekarang sudah tinggal bersama.


Hatiku makin gusar.


Ryan, Dia mendaftarkanku ke universitas dan jurusan yang sama dengan Gia. Dia bilang “Cinta harus di kejar”.


Aku sepakat . Kali ini, aku akan mengejarnya.


****”


Sesampainya di London, aku melihat seorang gadis duduk di kursi tunggu bandara. Dia memakai mantel yang cukup tebal.


Lucu sekali.


Aku berseru, mungkin saja dia menungguku. Bukankah aku mengiriminya pesan akan kedatanganku waktu itu?. Aku tersenyum.


Dia memelukku erat. Sayang sekali, nama yang disebutnya bukan aku. Tapi dia, Boy, si pria yang aku harap hilang selamanya.


Aku mengkonfirmasi, aku harap dia sadar kalau ini aku.


Dia malah tersenyum. Aku luluh.


Semudah itu.

__ADS_1


Dia memelukku lebih erat. Erat sekali. Sekilas, aku melihat Boy berjalan di belakangnya. Aku terdiam, aku ingin egois, sebentar saja.


Gia masih tak mau melepaskan pelukannya. Tak apa, aku suka sekali harumnya.


Boy berjalan menjauh. Wajahnya tak menyiratkan rasa suka.


Seharusnya, dia menarik Gia saja. Itupun jika memang dia tak suka.


Dia tak melakukannya. Berarti, aku tak sepenuhnya salah juga.


****”


Ku ajak Gia ke apartemen ku.


Aku sedikit menggodanya agar mengajakku berkeliling. Dia setuju. Diluar dugaanku.


Mengingat, di London juga ada Boy, kekasihnya.


Dia berjanji akan mengajakku berkeliling besok.


Kurasa, ini waktu yang tepat menyatakan cinta padanya.


Dia beberapa kali mengecek ponselnya. Aku masih memperhatikan jari manis kecilnya. Cincin itu, cincin bermata merah muda pemberian Boy masih melingkar disana.


Aaah ternyata aku masih saja sesak melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2