Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 30 End Season 1, akan dilanjutkan Kisah Liam dan Georgia Jasmine


__ADS_3

End season.


Hari-hari mereka lalui dengan bahagia.


Lee benar-benar menjelma menjadi suami dan ayah siaga.


Dia juga menjadi jauh lebih bersemangat bekerja.


Dia selalu bilang bahwa sekarang penyemangatnya bertambah. Dan itu luar biasa.


Gia juga lebih fokus dengan kehamilannya.


Dia sesekali akan membacakan buku cerita kepada anaknya yang masih dalam kandungan.


Terkadang, Lee akan mengintip sedikit dari ruang kerjanya.


Dia tersenyum sangat cerah setiap kali melihat Gia berbicara kepada perut buncitnya.


Waktu terasa cepat sekali berlalu.


Hari kelahiran tinggal menunggu waktu.


Perlahan Lee mengeluarkan kotak kecil dari brankas ruang kerja di rumahnya.


Dia menyimpang sebuah surat yang masih terlihat sangat rapi.


Sebuah surat yang diberikan oleh Boy untuknya.


Sebagai kado pernikahannya dan Gia.


Lee memang tidak memberi tahukan tentang surat itu.


Dia khawatir Gia akan bersedih lagi.


Dari luar, Lee sayup-sayup mendengar suara erangan.


Lee tersentak mengingat waktu kelahiran yang tinggal menghitung hari.


Dia berlari tergesah menuju arah pintu kamarnya.


Dugaannya benar. Itu Gia.


Gia langsung meraih tangan Lee erat.


Sesekali dia menggenggam tangan itu erat, beberapa saat lalu melepaskannya.


Terus berulang. Ritmenya sama. Gia akan melahirkan.


Dia sudah berlatih untuk siaga.


Hanya saja, entah mengapa, Lee tetap tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


Apa yang sudah dibaca, didengar, bahkan dipelajarinya bersama dokter kandungan seolah hilang lenyap terhembus resah.


Sopir khusus Lee datang. Dia paham betul apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


Dia mengambil tugas mengantarkan Tuan dan Nyonya nya ke Rumah sakit.


Agak jauh, mengingat Gia yang sudah berencana melahirkan dengan dokter khusus yang menangani kehamilannya.


Pak sopir lebih terlihat tenang.


Mungkin, dia mengerti karena pengalaman.


Saat Lee panik ingin cepat sampai.


Sang sopir justru bilang bahwa tidak akan terjadi apa-apa.


Lee sekali lagi berteriak.


Namun sang sopir tetap tenang.


“Kontraksi melalui beberapa fase, Tuan. Tidak akan langsung melahirkan. Semua akan baik-baik saja. Tenanglah” sang sopir tetap merespon sopan.


Lee bahkan tidak bisa berpikir jernih saat ini.


“Tenanglah, Sayang. Jika kau panik, akupun ikut panik. Hmm?” Gia menyela.


Sekali lagi, Lee menangis.


“Dia benar-benar cengeng” Gia masih sempat terkekeh dalam hati.


Gia menggenggam erat tangan Lee.


Dielusnya sedikit tangan itu. Lee gemetar.


Siapa yang akan melahirkan, siapa yang ditenangkan. Begitulah yang terjadi.


Sesuai prediksi, Dokter bilang, Gia masih di fase bukaan ke 4. Perjalanan masih panjang rupanya.


Jika berjalan normal, mungkin Gia paling cepat akan melahirkan menjelang fajar nanti.


Bisa juga lebih cepat atau lebih lambat.


Gia berbaring miring, dia diinstruksikan begitu.


Saat sakitnya mereda, Gia bisa tertidur sebentar.


Terus berulang.


Hari ini Gia merasa rasa sakitnya bertambah. Ritmenya juga mencepat.


Dokter bilang, sudah bukaan 8. Gia sudah masuk ruangan tindakan.


Ternyata, melahirkan normal butuh waktu tunggu selama ini. Begitu pikirnya.


Di melihat Lee ikut masuk. Suaminya itu berencana akan mendampingi.


Benar saja. Semua berjalan lancar walaupun ada beberapa drama Lee yang menangis sesegukan.


Gia hampir terbiasa dengan tingkah Lee yang seperti itu.

__ADS_1


Saat anaknya lahir pun, Lee justru menangis semakin kencang.


“Aah.. bagaimana bisa dia tidak menampakkan sedikitpun rasa lelahnya dulu. Saat Gia belum membuka hatinya untuk Lee” Gia membatin setelah perjuangan melahirkan yang melelahkan.


Bayi kecil itu juga menangis. Dia bayi perempuan yang cantik.


Sekencang itu sang putri menangis, sekencang itu pula sang Ayah merintih.


Dokter bahkan hanya menggeleng pelan melihat tingkah pasiennya kali ini.


“Tuan, apa anda mau lomba siapa yang menangis paling kencang?”


Perawat dan bidan yang ikut menangani Gia terkekeh pelan.


Lee mengusap matanya pelan. Dia benar-benar tak sanggup menahannya.


Dia menangis lagi.


Kali ini, satu ruanganpun ikut tertawa.


******””


“Camelia Adea Albert” Nama cantik yang tertulis dalam lembaran surat itu.


“Pemberian yang terbaik dari Tuhan untuk Albert”.


Yaa.. Albert adalah nama keluarga Lee.


Dia tersenyum cerah membaca tulisan itu.


Tulisan yang dia baca dari surat pemberian Boy.


Gia tersenyum. Dia sangat menyukai nama itu.


Dulu, sewaktu masih bersama Boy, lelaki itu pernah bilang bahwa dia ingin memiliki seorang anak perempuan bernama Adea.


Tanpa membacanya pun, Gia tau. Itu pemberian Boy.


“Kau tidak penasaran siapa yang memberikan nama putri kita, sayang?”


“Aku tau.. Adea, nama yang sering digumamkan oleh Boy. Bukan begitu?” Gia tersenyum lembut.


Membelai pelan pipi bayi mungil dalam gendongannya.


Lee ikut tersenyum.


“Nanti kita ajak Adea berkunjung ke makam Ayahnya yang lain.”


Gia hanya mengangguk pelan.


“Terima kasih Boy, kau memiliki cinta yang besar untukku. Kau senang disana? Ini anak kami. Anggap anakmu juga” Gia berbisik dalam hati.


Season Gia-Boy-Lee selesai..


Akan dilanjutkan Kisah Liam dan Georgia Jasmine. Masih ingat siapa Georgia Jasmine? Hihi

__ADS_1


__ADS_2