Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 17


__ADS_3

Perlahan Boy menarik tengkuk Gia.


Dia mencium bibir pucat itu.


Tangisannya berhenti. Ternyata, ciuman adalah obat yang sangat ampuh untuk meredakan marah dan tangis Gia sekaligus.


Boy mencium Gia lama.


Ciuman kali ini benar-benar terasa dihati keduanya.


Hangat sekali.


Boy tersenyum saat melihat Gia menunduk malu.


“Jadi, bisakah kita memulai lagi dari awal? Aku ingin kita bisa sehangat ini” Boy mengusap pelan sudut bibir Gia dengan ibu jarinya.


“Jangan menatapku. Kau membuatku malu Boy”


“Baiklah.. aku akan memejamkan mataku saja. Biar yang lain yang bekerja” Boy mencium Gia lagi.


Dia benar-benar menikmatinya. Lama, sangat lama.


*****””


Matahari menyingsing. Gia melihat Boy tidur disampingnya.


Ini, sungguh pemandangan yang berbeda.


Hatinya gusar namun menghangat.


Perlahan Boy terbangun.


“Kurasa, kita harus segera menikah.. Aku tak mau kau berubah pikiran lagi nanti”


“Besok, aku akan segera pulang. Aku harus mempersiapkan pernikahan kita. Setidaknya, kita harus segera mengawalinya meskipun belum dengan resepsinya. Atau kau mau sekalian? Aku tak masalah” Boy memeluk Gia hangat.

__ADS_1


“Kau belum melamarku. Aku juga belum berkata iya” Gia mendengkus kesal. Mendorong Boy menjauh.


Lelaki itu tersenyum. menahan tubuhnya dengan lengan itu. Menatap Gia lama.


Tertawa. Dia sekarang malah tertawa mendengar ucapan Gia.


Hatinya menghangat. Kali ini, yang dia dengar seperti penolakan. Tapi mata yang dia tatap, getaran hati Gia yang dia rasakan, berbeda. Boy sangat bahagia.


“Setahun ini, setiap hari aku melamarmu Gia.. kemarilah, biarkan aku memelukmu..”


Gia beranjak mendekat. Memeluk lelaki itu dengan erat.


Sesekali dia melirik keluar jendela yang tirainya memang tak tertutup rapat.


“Saljuuu.. Boy, ada salju” Gia girang.


*****”


Boy kembali ke Indonesia. Awal musim dingin ini dia bergegas ke negara asalnya.


Memang dia berencana terbang sehari sebelumnya.


Hanya saja, cuaca musim dingin di London sedang tak bersahabat kemarin.


Riyuh rendah penginapan terdengar renyah sekali.


Ada tawa, lelucon, bahkan nostalgia cerita Gia dan Boy dimasa lalu.


“kau ingat, Ayah pernah menjual sepetak sawah untuk membelikanmu motor. Kalau tau jodohmu itu Gia, kubelikan mobil saja sekalian..” Pak Hendri tertawa sambil menunjuk Boy yang mematung.


“Untung paman tak membelikannya mobil. Jika motor bisa mengundang satu pacar, kalau mobil.. Ahh tak bisa kubayangkan” Gia tersenyum menatap Boy lagi.


“Oh ya? Siapa pacarnya ?”


“Sudah-sudah, saatnya kembali ke penginapan kita.” Boy beranjak. Menghentikan cerita tentang pacar masa lalunya.

__ADS_1


“Ini akan jadi masalah jika diteruskan” Boy bergumam dalam senyumnya.


Lucu sekali.


*****””


Hari ini, Salju masih turun. Udara dingin menguap dalam ruangan berperapian hangat ini.


Sebuah gedung tua di persimpangan jalan.


Sederhana sekali.


Bentuk arsitektur klasik eropa menambah kesan sakral untuk hari yang sangat dinantikan oleh keduanya.


Pernikahan dilakukan sangat sederhana namun sakral. Cukup membuat hati Boy dan Gia berbahagia.


Dari kejauhan dibalik jendela transparan itu, terlihat banyak sekali anak-anak berlarian dengan mantel hangatnya.


Sepatu boots melekat ditiap kaki mereka.


Ada beberapa dari mereka terlihat seperti kesusahan berlarian membawa sebongkah bola salju besar.


Sesekali, tangan-tangan mungil itu akan menepuk beberapa bagiannya.


Pemandangan ini adalah hal yang paling disukai Gia dari musim dingin.


Dari samping, Boy merangkul pundak Gia.


“Apa kau ingin segera punya satu yang seperti itu? Aku tak keberatan” Dia berbisik membuat Gia mendelik.


“Kuliahku masih satu tahun lagi Boy. Kau harus bersabar lagi” Gia tertawa.


“Ahhh.. baiklah.. aku memang orang paling sabar. Kau tau?”


Gia menggeleng, tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2