
“Apaaa?”
Tuan Lee hanya tersenyum menunduk. Dia mulai memakan makanannya.
“Jadi, duduklah nona. Makanlah bagianmu.. kau bisa makan sebanyak yang kau mau. Saya sudah pesan sebanyak ini. Habiskan”
“Ahh.. hehe, perut saya tidak akan muat jika makan sebanyak ini Tuan. Boleh kita panggil yang lain juga?”
“Tidak.. saya tidak mau cuti sehariku diganggu”
Aku hanya mampu menghela nafas pelan. Cuti yang aneh. Begitu pikirku. Aku mulai mengambil sedikit makanan yang lebih dekat ke arahku.
“Terserahlah..Nikmati makananmu Giaaa” aku membatin.
“Jadi, kau sudah bekerja lima tahun di Initial.Corp?”
Ternyata Tuan Lee masih sempat bertanya.
“Iya Tuan. Ini tahun ke lima saya berada di perusahaan yang sama. Lebih tepatnya, lima tahun lebih sedikit” aku merespon setelah meletakkan sendokku.
“Bagaimana kau bisa berpikir membeli saham perusahaan ini?”
“sudah kuduga, ini pasti berkaitan dengan sahamku yang 3 persen itu” aku mulai bicara dengan pikiranku sendiri.
“Jangan berpikir yang macam-macam. Aku hanya bertanya” Tuan Lee tersenyum lagi.
Ramah sekali rupanya.
“Ah, itu tuan. Awalnya saya hanya coba-coba. Belajar sedikit saham dari rekan sedesaku dulu. Dia sangat pandai. Anggap saja aku mendapat sedikit bantuan dari orang-orang hebat. Keberuntungan pemula”
“Aku ingin kau memegang peranan lain. Pekerjaanmu disini saya anggap selesai. Berkemaslah. Kembali bersamaku malam nanti. Kau akan bekerja di perusahaan utama”
Aku rupanya tidak terlalu bodoh untuk mencerna kalimat.
“Ahhh.. aku naik jabataaaann” teriak hatiku kegirangan.
“Hei.. sesenang itukah kau berdekatan denganku Nona? Tutup mulutmu itu.. kau tersenyum terlalu lebar”
__ADS_1
“Ahh.. maaf Tuan, saya hanya bahagia bisa kembali ke Tanah Air.”
“Baiklah.. kemasi barangmu.. penerbangan kita malam ini tepat jam tujuh malam. Hubungi Sekretarisku. Kau akan dijemput”
Tuan Lee berlalu.
Diluar, semua karyawan menunduk hormat kepada Tuan Lee..
Bahagianya aku mendapat posisi baru. Aku tidak perlu lagi berjauhan dengan orang tuaku. Benar-benar hari baikku. Hehe.
"Indonesia, I'm comiingg"
*******
Jam 6 sore jemputanku menuju bandara sudah tiba. Aku tak mengira, ternyata bukan sekretaris Ryan yang menjemputku. Tak masalah, bukan itu poinnya.
Di bandara, aku menunggu sendirian.
“Hei..”
“Aku melihatmu dari tadi. Sudah lama ya..”
Dia tak menatapku. Pandangannya kosong, lurus ke depan.
Orang ini, aku mengenalnya. Iya, dia si bodoh itu. Masih ingat aku rupanya.
Aku tak menjawab.
“Aku merindukanmu, Gia”
******
Perjalanan dari Singapura ke Jakarta tidak terhambat. Kami mendarat sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
Sesampainya di Jakarta, aku tidak langsung menuju rumah orang tuaku.
Yah, aku mempunyai sebuah apartemen dekat bandara. Tidak terlalu mewah. Tapi cukup besar untuk tinggal sendirian.
__ADS_1
Aku rasa, aku butuh waktu menyendiri hari ini. Boy, si bodoh itu datang lagi. Dia butuh waktu lima tahun rupanya untuk mengingatku kembali.
Tak masalah.
Hanya saja, kedatangannya kali ini mengacaukan hati dan pikiranku.
******
“Aku merindukanmu Gia”
“Yaa.. kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan nadia?”
“Maafkan aku Gia, aku bersalah. Aku dulu terlalu bodoh untuk mengerti ikatan sederhana antara cinta dan persahabatan”
“Hmm.. kupikir kau masih bodoh seperti dulu”
Boy menghela nafas pelan..
“yahh.. mungkin saja..’”
Kami terdiam sesaat.. mencerna sebuah pertemuan kembali yang tak terduga. Di tempat yang tak terduga juga.
Kubiarkan Boy menggenggam sebelah tanganku.
Dia aneh sekali kali ini.
“maukah kau ikut denganku Gia? Ku rasa, sekarang aku cukup pintar mengenali perasaanku. Hiduplah bersamaku Gia.. menikahlah denganku.. aku mencintaimu Gia.. aku mencarimu.. 3 tahun ini, aku mencarimu”
“Apaa? Kau bilang apa Boy?” aku menatapnya lekat..
Boy tak sempat menjawab.
“Apa aku tak sengaja membuat rencana lamaran untuk orang lain disini?”
Dia, Tuan Lee, sudah datang.
******
__ADS_1