Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 20


__ADS_3

Ponsel Ryan berdering cukup kuat.


Laki-laki itu sudah siap menunggu Tuannya lebih dari 30 menit lalu.


Satu panggilan sudah cukup untuk membuat rencana hari ini batal.


Sedikit tidak masuk akal.


Pesawat perusahaan sudah disiapkan. Sang pilot telah sedia dengan penerbangan kali ini.


Nampaknya, dia harus mengatur ulang jadwal penerbangannya.


“Boy, kita ke rumah sakit ya.. aku akan memesan taxi. Kau tunggu disini sebentar ya” Gia beranjak.


Boy menarik lengan baju Gia pelan. Gia berbalik.


“Ada apa? Tidak mau? Mau terus demam? Iyaa? Kita ke rumah sakit sekarang. Jika kau menolak, aku tidak mau membuka kancing bajuku lagi untukmu. Kau dengar” Gia mengancam.


Bibir pucat itu tertawa mendengar ancaman Gia.


“Jika aku sembuh, bersiaplah untuk hamil Gia. Aku sudah tidak sabar”


“Tidak, tidak ada ciuman, kecupan, pelukan, tidak ada. Kau tidak mau ke dokter bukan? Berarti jangan harap” Gia mengancam dengan hal yang sama lagi.


Boy tertawa lagi.


“Peluk aku, kau obatku Gia. Aku tidak butuh dokter. Besok aku harus pergi. Aku ingin dirawat olehmu sehari. Rampungkan tugas akhirmu. Dan jemput aku nanti, Oke?”


“Tidaakkk.. kau dengar, tidakk..” Gia mencebik dengan tangan tetap mengompres Boy telaten.


Boy tertawa lagi.


Ucapan dan tindakannya bertolak belakang.


*****”


“Kita tidak bisa menundanya lebih lama, Tuan. Jika bisa, hari ini sudah dilakukan tindakan intensif pada pasien” Dokter itu menunduk hormat.

__ADS_1


“Baik, kita akan berangkat besok. Apapun yang terjadi”


“Baik, Tuan” Pria tua dengan setelan jas putih itu undur diri.


******”


Pagi-pagi sekali, Lee dan Ryan sudah muncul di apartemen Gia.


Mereka agak tergopoh.


Gia membuka pintu. Terpaku. Heran.


“Izinkan mereka masuk, sayang” Suara dari kamar memecah keheranan Gia.


“Oh, iya iya Tuan. Silahkan masuk.”


Gia membuka pintu itu dengan lebar.


Lee bahkan tidak menatap Gia sedikitpun. Dia hanya mengepalkan tangannya kuat. Berjalan menuju Boy tanpa dipersilahkan.


“Tuan, suamiku sedang sakit. Bisakah menunggu di ruang tamu?”


“Maaf, Nona. Ini mungkin agak membingungkan. Tapi, kami akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Boy” Ryan menunduk hormat pada Gia.


Gia berbalik menatap Boy. Mata itu, seakan bertanya apa yang terjadi. Jelaskan apa ini.


Sungguh, perasaannya sudah tak karuan bahkan saat melihat Ryan dan Lee datang.


“Sayang, mereka hanya dua pria iseng yang berharap aku sembuh” Boy tersenyum


.


“Yang satu itu, sudah jelas mencintaimu. Tapi dia tak mau aku sakit. Dia pria aneh” Boy terkekeh sambil mengarahkan tunjuknya pada Lee.


“Hei.. kau bisa bicara apapun. Tapi kau harus sembuh. Kau mengerti? Dasar laki-laki tak tepat janji”


“Tuan, pesawatnya sudah siap. Kita harus segera berangkat.” Ryan menutup Gadgetnya. Setelah membaca pesan yang baru masuk.

__ADS_1


“Baik. Aku menunggumu di luar. Kau mengerti? Ajak istrimu” Lee menunjuk Boy.


Lee dan Ryan berjalan keluar.


Gia sudah menangis sesegukan. Bahkan sebelum langkah Ryan dan Lee benar-benar keluar dari ruangan itu.


Sungguh, dia mengerti semua tidak baik-baik saja. Dia tau suaminya tidak baik-baik saja.


Gia hanya terus menangis. Dia tahu betul apa yang harus dilakukan.


Dia mengemas pakaiannya dan pakaian Boy ke dalam koper.


Dia mengemas semuanya dalam tangis yang semakin deras.


Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya.


Dia bahkan tidak sanggup bertanya pada siapapun.


Dia cukup takut untuk mendengar apa yang terjadi.


“Sayang, jangan menangis. Mau kuceritakan sesuatu?”


“Tidak perlu. Kau hanya perlu sembuh. Aku tak butuh cerita apapun. Kau dengar? Jangan bercerita tentang apapun” Gia bicara bahkan tidak menatap Boy sedikitpun.


“Kita harus segera pergi. Lee dan Ryan sudah menunggu” Gia mengoceh lagi. Memakaikan mantel kepada boy.


Tangan kecil itu bahkan memakaikan syal di leher Boy.


Mengecup kening Boy hangat.


"Tinggallah disini sebentar. selesaikan tugas akhirmu oke? tinggal sedikit lagi bukan?"


"Wah, kau benar-benar tak ingin menghamiliku rupanya. Beraninya tak mengajakku" Gia melipat tangannya.


"Lee pria baik, Gia. Dia akan menjagaku. mulutnya memang jahat. tapi, dia memperlakukan aku dengan baik."


"Aku tetap ikut" Gia memapah Boy keluar.

__ADS_1


Dia bahkan benar-benar tidak memperdulikan ucapan Boy.


__ADS_2