
Bel apartemen Gia berbunyi untuk kesekian kalinya.
Gia masih tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Hatinya masih gusar dengan panggilan terakhir yang ternyata terjawab. Sangat lama. Durasinya benar-benar lama. Bahkan baru beberapa saat yang lalu dimatikan oleh Gia.
Dia menangis. Sesak sekali. Tapi untuk apa?
“Bukankah itu tak masalah jika Tuan Lee tau tentang semuanya? Boy memang kekasihku, kan? Jadi kenapa aku merasa bersalah?” Gia membatin sambil menghapus jejak sisa air matanya
Bel masih terus berbunyi. Mungkin, jika bisa. Sang tamu akan berteriak keras agar pintu cepat terbuka.
Gia berjalan perlahan menuju pintu depan.
Beberapa kali terdengar helaan nafasnya sebelum dia berhasil membuka pintu itu dengan perasaan bekecamuk.
“Kau.. kau kenapa lama sekali? Apa terjadi sesuatu? Ada orang di dalam? Kau kenapa? Mengapa matamu begitu?” Tuan Lee langsung memberondong pertanyaan.
“Masuklah, Lee” Gia berjalan meninggalkan Tuan Lee tanpa menjawab satupun pertanyaannya.
“Duduklah disini sebentar Lee. Aku akan membawakanmu coklat hangat. Udara di luar dingin. Kenapa kau berpikir kesini tanpa memakai pakaian tebal?” Gia berjalan tanpa berusaha mendengar Tuan Lee menjawab.
Tuan Lee tak beranjak. Membiarkan Gia sibuk dengan urusannya. Ahh tidak, mungkin yang sibuk itu adalah hatinya.
Tuan Lee menunduk lama.
Marah? Kesal? Cemburu? Mungkin. Tapi dia bisa apa.
“Ahh, aku berlebihan. Aku bukan siapa-siapanya untuk sekarang” Suara Tuan Lee terdengar lirih sekali.
Gia membawa secangkir coklat panas.
Aromanya, bahkan sangat pekat di ruangan kecil ini.
__ADS_1
“Jadi, ada perlu apa Lee?”
Lee tak menjawab. Dia menyesap sesekali coklat panasnya.
Mereka duduk dalam diam. Lama.
“Gia, maukah kau mendengarkan aku?”
Gia tersenyum. Sendu.
“Biacaralah, Lee”
“Maukah kau mendengar kisah cintaku?”
******”
POV Tuan Lee.
“Aku pulang, Gia”. Aku berbisik sendiri.
Aku bahkan lupa mengingat bahwa cuaca kali ini benar-benar dingin dengan pakaian setipis ini.
Kuhidupkan pemanas mobil sesaat setelah aku memasukinya.
“Ahh, bahkan hangatnya pemanas ini tidak mampu menghangatkan hatiku. Miris sekali” Tuan Lee bergumam.
Di rumah, aku merebahkan tubuh di sofa tempat dimana Gia duduk siang tadi.
Aku ingin sekali memeluknya.
“Gia, aku harus bagaimana? Bisakah kau rasakan itu kamu?” Tuan Lee mulai menangis.
Menumpahkan apa yang tertanam sejak tadi. Sesak. Sesak sekali.
__ADS_1
****”
POV Gia
Dia menceritakan kisah cintanya.
Bolehkah aku sedikit percaya diri, bahwa gadis dalam ceritanya itu adalah aku.
Dia yang ternyata menyimpan perasaan yang dalam pada seorang yang menolongnya dulu.
“Aku bertemu dengan seorang gadis yang duduk di bawah pohon” Gia mengingat kalimat Tuan Lee saat pertama bercerita.
“Dia duduk disana dengan motor yang terparkir sembarangan. Aneh sekali”
“Kau tau Gia? Dia benar-benar aneh. Hari itu, adalah hari tersedih sepanjang hidupku. Tapi dengan melihatnya sekilas saja. Hatiku menghangat” Tuan Lee bercerita, dengan posisi yang sama. Menunduk di depanku.
“Kau tau siapa namanya, Lee?” Aku bertanya.
Tuan Lee mengangkat kepalanya. Tersenyum.
“kau mengenalnya, Gia”
“Baiklah, kisahku akan kuselesaikan nanti. Aku harus pulang. Ini sudah larut. Semoga keadaanmu lebih baik besok”
Tuan Lee pergi dengan bibir tetap tersenyum.
Tapi, tatapan apa itu? Matanya berkata lain.
“Lee, ku harap kau akan bahagia nanti” Lirihku dalam hati setelah Tuan Lee pergi.
Rupanya, suara tangisan tak terbendung itu, tetap terdengar dari dua orang di tempat yang berbeda.
******”
__ADS_1