Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 19


__ADS_3

Suara burung akan terdengar bersahutan jika duduk di taman tengah kota.


Jika berjalan agak jauh, kita bisa melihat lapangan luas dengan banyak burung merpati disana.


Cuaca hari ini cukup terik.


Gia beberapa kali mengelap keringatnya dengan punggung tangannya.


Hari ini, Gia sengaja memilih taman untuk menyelesaikan tugas akhir yang mungkin sebentar lagi akan rampung.


Dari kejauhanan Boy menenteng sebuah paperbag ukuran sedang.


Senyumnya sudah sangat lebar, bahkan saat menyadari perempuan yang tengah duduk itu adalah Gia.


Boy mengulurkan tangannya, dan menempelkan minuman dingin di pipi Gia.


Dia tertawa. Menawan sekali.


Sungguh, Boy adalah laki-laki yang nyaris sempurna.


Jika diingat-ingat lagi, wajar saja mantan pacarnya, Nadia, dulu sangat khawatir jika Boy tetap dekat denganku.


Aku terkekeh dalam hati.


Boy dengan sigap membukakan kemasan burgernya.


Dia telaten sekali menyuapi Gia.


Boy sudah seperti tangan yang lain untuknya.


Jika sedang berada di London, Boy akan terus seperti ini.


Setiap minggu, Boy akan mengajak Gia berkeliling kota London.


Tempat favorit mereka tentu saja taman kota.


Sehabis pulang, biasanya Gia akan membuatkan Boy sup makaroni hangat.


Itu benar-benar kesukaan Boy sepanjang musim.


Boy benar-benar seperti menghabiskan waktunya hanya untuk menempel pada Gia.


Sesekali, Georgia, sang pemilik cafe, akan mendatangi Boy untuk menggoda.


Dia pikir, Boy bisa berpaling hanya dengan rayuan semu nya.


Tidak, Boy bukan laki-laki seperti itu.


Kehadiran Georgia di tengah hubungan Boy dan Gia seperti sebuah parasit. Namun, Gia bersyukur. Setidaknya, Gia bisa melihat Boy itu laki-laki seperti apa.


Bagia Gia, seorang Georgia Jasmine tak lebih sebagai seorang penguji kesetian seorang suami tanpa bayaran. Hanya seperti itu.


Boy melingkarkan tangannya pada pinggang kecil Gia. Dia, lebih tertarik pada Gia ketimbang dengan sop makaroni itu.

__ADS_1


Dia memang selalu begitu.


Gia akan dengan senang hati mematikan kompornya, berbalik, dan mengecup bibir Boy sekilas.


Jika sudah begitu, Boy akan membalas Gia dengan ciuman yang dalam.


Dan setelahnya, seperti biasa, Gia akan tertawa.


Momen seperti ini, adalah momen yang paling disukai oleh Gia.


Hari ini, Boy terlihat agak pucat.


Mungkin, Boy benar-benar kelelahan.


Badannya tidak panas, tapi terlihat sekali jika Boy tidak terlalu baik.


Gia menurunkan suhu Air Conditionernya.


Membuat suhu yang pas dan nyaman.


Dia menyelimuti Boy dengan telaten, memeluk laki-laki itu pelan. Tak ingin mengganggu Boy yang tengah tertidur.


Gia membaringkan badannya di samping Boy.


Meringkuk melihat Boy yang masih setia terpejam.


Hampir lima belas menit mereka dalam posisi begitu.


Perlahan Boy membuka matanya, tersenyum. Seakan menyadari apa yang terjadi.


Mendekap perempuan itu lama.


Dia kali ini mencium Gia lama. Seperti biasa, Boy akan sedikit membuka kemeja Gia, menciumi apapun yang menarik untuknya pada tubuh Gia.


Hanya satu hal yang memang tidak pernah dilakukan oleh Boy, meminta hak nya sebagai seorang suami.


Dia hanya akan melakukan sebatas itu. Setiap hari. Benar-benar setiap hari.


Boy bilang, dia khawatir tidak bisa mengontrol untuk tidak membuat Gia mengandung.


Bukankah perempuan itu bilang begitu. Belum mau hamil?


Cukup masuk akal. Walaupun Gia tetap tak bisa menerima.


Sesekali Gia akan bertanya. Dan jawaban Boy selalu sama.


“Kau terlalu menggoda untuk tidak dihamili, Gia..” bisiknya sambil memberi sedikit kecupan di leher Gia.


“kitakan bisa pakai pengaman, Boy” rengek Gia.


Jika begitu, Boy hanya akan tersenyum.


“Nanti, sebentar lagi, saat kuliahmu rampung. Aku berharap, nanti, kita bisa kembali ke desa. Menikmati hari bersama dengan anak-anak kita. Jika itu terjadi nanti, kau harus berhenti bekerja Gia. Aku cukup sanggup memberikan keperluan kita” Boy kembali dengan aktivitasnya.

__ADS_1


Kali ini, lebih banyak kancing Gia yang terbuka.


*******”


Di tempat lain, Lee berjalan tergopoh di lorong rumah sakit.


Dia beberapa kali menghubungi Ryan untuk mendapat akses fasilitas kesehatan terbaik di dunia.


Dia frustasi, mengacak rambutnya dan sedikit berteriak.


“Kau harus membantuku, dok. Aku akan bayar berapapun. Aku mohon” Dia setengah berteriak pada dokter senior itu.


Sang dokter, sudah terbiasa. Pengalaman menahun membuatnya tetap tenang diperlakukan pasiennya seperti itu.


Tangan dokter tua itu terayun sedikit. Menggapai bahu Lee yang sedikit bergetar, menangis.


Dia menepuknya hangat.


“Semua akan baik-baik saja, Tuan”


********”


Hari ini adalah hari yang baru.


Boy bilang, dia harus pergi agak lama kali ini, banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Begitulah alasannya.


Gia melepas kepergian Boy dengan sedikit tak rela.


Keceriaan Boy, perhatiannya, dan semua yang diberikan Boy membuat Gia seakan tak bisa menjauh dari laki-lakinya.


Boy tersenyum simpul. Sedikit mengecup kening Gia dengan hangat.


Tunggu, dia benar-benar hangat.


Tubuh dan bibir yang mengecup itu memang hangat.


Boy demam.


“Kau tidak boleh pergi Boy, kau demam” Gia merengek. Matanya sedikit melotot menatap Boy.


Gia mendongakkan kepalanya mencoba menatap lelaki yang memang jauh lebih tinggi darinya.


tangan kecil Gia tetap setia melingkar di pinggang orang di depannya.


"aku tak mau kau pergi. tidak.. dengar, aku tidak mau. kau harus tetap disini."


Boy hanya tersenyum.


"Aku juga ingin begitu, sayang"


Boy memeluk Gia lagi erat.


Dari kejauhan, orang yang lain, menggenggam setir mobilnya keras.

__ADS_1


Dia bahkan yang lebih dulu menangis melihat itu.


Dia, seperti laki-laki penakut. Cengeng.


__ADS_2