
Beberapa saat sebelumnya.
Derap langkah menjauh dari halaman apartemen milik Gia.
Pria itu duduk di kursi seberang jalan sejak keluar dari apartemen itu.
Memandang jauh menuju jendela atas dimana Gia berada.
Sekilas, dia melihat seorang pria lain berjalan tergesah. Memakai sendal rumah.
Baju tipis yang dia pakai dicuaca sedingin ini, menunjukkan betapa terburu dia kesini. Serampangan sekali.
Pria itu mendengkus beberapa kali.
“Rupanya kau benar-benar menyukainya”
"Ahh.. akulah orang ketiga. menyedihkan"
Boy. Pria itu adalah Boy.
****”
Matahari menelisik melalui celah tirai yang tak rapat tertutup.
Perasaan sang tuan rumah sudah jauh lebih baik setelah menangis lama.
Menumpahkan perasaan dengan menangis ternyata sangat membantu sekali.
Hari ini, Gia merasa lebih siap menghadapi hari.
Toh, semua harus dihadapi. Tidak hanya kali ini. Tapi juga nanti.
Dia perlahan menekan tombol nomor 4 di handphone nya lama.
“Halo” suara di seberang memecah keheningan.
“Boy, bisakah kau mengajakku berkeliling hari ini?”
Tak terdengar jawaban apapun dari Boy setelahnya.
“Jika tak bisa, tak apa Boy. Aku hanya bosan sedikit. Aku akan ke perpustakaan saja jika kau tidak bisa. Jangan khawatir” Gia menambahkan.
“Boy, apa kau mendengarku?”
“Ya.. ya Gia, maafkan aku. Apakah tak apa jika kau ke perpustakaan hari ini? Aku mungkin akan sedikit sibuk. Ada pertemuan dengan importir baru. Ku rasa, usaha kali ini, bisa bermanfaat untuk masyarakat di kecamatan lain juga. Kau tak apa?”
“Oh, tak apa Boy.. hal itu lebih penting. Baiklah. semoga harimu menyenangkan”
****”
__ADS_1
Di penginapan, Boy menggosok pelan layar handphone dengan jempolnya. Berulang.
Beberapa kali terdengar helaan nafas berat darinya.
Dia menekan ulang nama Gia di benda pipih itu. Dan beberapa kali pula mengurungkannya.
Dia telah memutuskan. Memutuskan untuk memberi waktu Gia memikirkan semuanya.
Memantapkan hati tentang siapa sebenarnya yang ada di hatinya.
“Bukankah itu adil, Gia?” Boy berucap pada foto di layar depannya.
*****’
Tuan Lee masih enggan beranjak dari sofa tempatnya tertidur.
Sesekali dia mengerjap, menutup matanya dengan lengan kanannya.
Handphone di atas meja beberapa kali berdering.
“Halo?”
Orang di seberang tidak menjawab.
Tuan Lee melihat kembali nomor handpone penelpon. Lalu menempelkannya lagi ke telinga.
“Aku memberimu waktu hanya satu minggu” Tuan Lee mengenali suara itu.
“Apa maksudmu?”
“Aku hanya memberimu waktu satu minggu untuk membuat Gia menyadari perasaannya padamu. Aku cukup yakin kalian saling mencintai. Bukankah begitu?”
Tuan Lee terdiam sesaat. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
“Apa ini benar kau Boy?” Seru Tuan Lee bersemangat.
“Kau tak perlu berbahagia atas izin ini, Tuan. Ini adalah hadiahku untuk Gia”
“Apapun itu, terima kasih Boy”
“Ahh.. kau juga tak perlu berterima kasih. Aku hanya memberimu waktu satu minggu. Setelahnya, jika kau gagal. Aku takkan membiarkan Gia dekat denganmu lagi. Mengerti, Tuan?”
“Tidak tidak.. aku tetap berterima kasih”
“Terserah kau saja, Tuan. Ingat. Waktumu hanya seminggu. Dimulai dengan hari ini. Kau tau, dia hari ini akan ke perpustakaan kota”
“Ahh.. apa kau bercanda? Halo.. haloo? Boy?”
“Ah, dia mematikan telponnya. Sial”
__ADS_1
****’
Boy menyesap kopi hangatnya lagi.
Dia sudah duduk disini cukup lama.
Bisa terlihat dari ujung jarinya yang memerah. Kedinginan.
Dia selalu menghabiskan waktu di pelataran depan cafe ini jika sedang tidak bersama Gia.
Nama cafe ini cantik, sesuai dengan nama pemilik hatinya. "Gia's Cafe".
Bukankah itu sebuah kebetulan?
Letak cafe ini agak jauh dari penginapan dimana Boy bermalam.
Boy sangat menyukai tampilan depannya.
letaknya yang berada di sudut kota, membuat cafe ini memiliki cukup halaman untuk pohon-pohon besar.
Sebelumnya, Pohon di depan cafe ini penuh berwarna orange.
Sekarang sudah gugur. Pertanda musim dingin akan segera tiba.
Lebih lambat ketimbang hatinya yang serasa telah membeku. Lama.
Boy memejamkan matanya beberapa kali.
Sebenarnya, tak ada kesibukan apapun hari ini. Terkecuali pikiran dan hatinya.
Takdir suka sekali bermain.
Hatinya sangat penuh. Sesak.
Kunjungannya kali ini, sebenarnya untuk membawa Gia bersamanya.
Ahh, mungkin bukan fisiknya, tapi hatinya.
Mengajaknya menikah, dan berharap bahwa Gia akan membuka sedikit hatinya.
Ternyata tidak.
“Kurasa, aku harus kembali ke Indonesia dengan tangan hampa. lagi..” gumamnya kali ini.
“Kau tau? Memiliki seseorang yang menerima mu tanpa mencintaimu itu sungguh menyakitkan?” Boy tersenyum miris.
“Sampai kapan kau akan berpura-pura, Gia?”
*****”
__ADS_1