
Musim di Indonesia tetap sama.
Dari kejauhan, cuaca terlihat menggelap hitam.
Boy baru saja dikebumikan.
Gia bahkan tak sanggup hanya untuk berbaur bersama yang lainnya.
Dia memilih duduk.. meremas foto yang dari tadi ada dalam pelukannya.
“Ahh.. aku lebih suka kau pergi menghilang seperti dulu, Boy.. Daripada harus ditinggalkan olehmu seperti ini” Gia bergumam .
Air matanya sudah tak bisa turun lagi. Mengering sekering hatinya sekarang.
Pak Hendri mendekat dari kejauhan.
Dia duduk lama di samping Gia, menantunya.
Mencoba bicara sesaat, lalu diam lagi.
Dia berusaha keras menahan tangisnya.
Hampir sepuluh menit mereka dalam posisi yang sama.
Pak Hendri, yang walaupun dia petani di desa. Tapi wajahnya tak pernah terlihat mengguratkan rasa lelah.
Kali ini, wajah itu sendu. Berubah.
“Nak, Boy memberikan kita pesan. Kau tahu?”
Gia menggeleng. Terdiam.
“Boy ingin kau dan Tuan Lee mengelola perusahaan yang Boy punya. Ayah tidak terlalu mengerti bagaimana caranya. Itu, dia bilang untuk warga desa”
Gia terisak.
Boy, pria bodoh itu masih sempat memikirkan orang lain.
Gia mengangguk dalam tangisnya.
“Nak, Ayah tau ini berat. Tak ada yang mampu menggambarkan betapa sakitnya Ayah melihat Boy seperti itu. Tapi kau tau nak? Ayah kadang berpikir. Mengapa bukan Ayah saja? Aku sudah tua, Ayah sudah tak butuh apa-apa lagi. Kenapa bukan Ayah saja?” Pak Hendri meraung menangis disamping Gia.
“Ayah jangan seperti itu. Gia yang salah. Gia tak pandai merawat Boy. Gia bersalah. Maafkan Gia, Ayah”
Pak Hendri menggeleng. Sesaat setelahnya ada tangan lembut yang menyentuh bahunya.
“Pak, ayo kita pulang, Pak. Ibu sudah tidak kuat. Ibu ingin istirahat saja, lama. Mau kan pak?” Bu hendri berucap lirih.
Dia sejenak duduk disamping lain disisi Gia.
“Nak, kau harus kuat ya nak. Kau satu-satunya anak ibu sekarang. Kau harus sehat-sehat disini. Ibu akan pulang. Ibu ingin istirahat sebentar. Ibu rasa, ibu terlalu lelah dengan keadaan ini nak. Kau pulanglah, ya?”
“Ibu, Ibu istirahat saja ya bu. Ibu duluan ya. Gia sebentar lagi akan pulang. Ibu jangan khawatir” Gia berucap, menggenggam foto Boy erat.
Pak Hendri berjalan memapah istrinya menjauh.
Kedua orang itu, hatinya telah hancur hari ini. Tidak ada yang benar-benar tau, sampai kapan keadaan akan membaik setelah kepergian Boy.
Gia menyandarkan punggungnya.
Hari mulai rintik. Lalu perlahan berubah menjadi deras.
“Boy.. mengapa kau membuat kenangan tak terlupa disaat hujan Boy? Aku harus hidup bagaimana? Jika hatiku hancur setiap hujan tiba?” Ucap Gia lirih.
Dia menunduk sangat lama. Merasai setiap tetasan hujan yang seakan ikut menangis merasai lukanya hati Gia saat ini.
Saat merasakan hujan tak mengguyurnya lagi, dia mendongak.
Lee ada disana. Berdiri di depannya melindungi Gia dari terpaan hujan.
Dia tak bicara. Hanya menatap lekat Gia.
Mata gadis itu masih sayu. Dia menangis lagi. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
“Boy.. dia, dia jahat sekali, Lee”
******”
Setahun telah berlalu.
__ADS_1
Gia dan Lee telah menyelesaikan kuliahnya.
Hanya saja, saat Lee kembali ke Indonesia, Gia tidak ikut.
Entah apa alasannya. Gia tak pernah ingin membicarakannya.
Lee hanya mengangguk.
Dia tak mau terlalu memaksa Gia.
Mungkin Gia butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkan lukanya.
****”
Di Indonesia, Lee dibuat semakin sibuk.
Selain harus menangani perusahaannya, Lee juga harus mengelola perusahaan yang ditinggalkan oleh Boy begitu saja.
Kakak Lee, Tuan Liam mencoba mengintegrasikan perusahaannya dengan perusahaan milik Boy.
Amanat Boy yang menginginkan perusahaan itu menjadi wadah untuk masyarakat desa, cukup sesuai dengan profil perusahaannya yang memang di bidang pertanian.
Pak Hendri, di desa, selalu semangat untuk mengkoordinir dan mengawasi petani desa agar mampu menghasilkan produk berstandard ekspor.
Dia sangat paham seluk beluknya. Itu sangat memudahkan untuk Liam melakukan sortir bahan ekspor.
Setelah setahun kepergian Boy, warga desa bahkan tetap bisa merasakan perjuangan yang Boy lakukan dulu.
Liam agak sedikit berbeda dengan Lee.
Umur mereka hanya terpaut satu setengah tahun.
Tidak terlalu sulit juga bagi mereka untuk saling memahami.
Hari ini, Gia berniat untuk pulang ke Indonesia.
Dia tau, dia tak bisa terus bersembunyi terlalu lama.
"Boy, ajak aku bersamamu saja" Bisik Gia dalam lamunannya.
*****’
Ryan menjemput Gia di bandara.
Gadis bertubuh mungil itu, berjalan sedikit berlari menghampiri Ryan.
Ryan dengan sigap menarik koper yang dipegang oleh Gia.
Setelah setahun, ternyata dia belajar sedikit untuk memahami cara memperlakukan wanita.
Mereka berjalan beriringan.
“apa hanya ini yang kau bawa, Gia?”
“Emmm.. Boy membelikanku apartement yang kami tempati saat dulu. Aku tinggalkan barang kami disana. Aku akan ke London sesekali”
Ryan hanya mengangguk.
Dia membukakan pintu depan samping kemudi.
“kau mau langsung pulang? Atau menyapa Tuan Liam? Yang mengambil alih perusahaan Boy?”
“Aku rasa, aku ingin tinggal di apartemen lama ku saja sebelum beraktivitas kembali, Ryan. Apa boleh?”
Ryan tak menjawab. Dia mengantarkan Gia ke apartemennya dulu. Itu sudah menjadi jawaban ‘iya’ untuk Gia.
******”
Pukul tujuh malam, pintu apartemen Gia diketuk oleh seseorang.
Dia tau.
Itu mungkin Lee.
Dan benar saja. Itu memang Lee.
Lee datang sendiri malam ini. Dia membawa beberapa buah khas daerah tempat tinggal Gia.
Lee pikir, mungkin Gia merindukan rasanya.
__ADS_1
Gia meletakkan semua buah itu di atas meja di dapurnya.
Saat kembali ke ruang tengah, Gia sudah membawa jus dingin dari salah satu jenis buah yang dibawa oleh Lee tadi.
Mereka terdiam cukup lama.
Tidak ada foto apapun yang menempel disini.
Hanya ada satu foto masa lalu Gia dengan Boy sewaktu masih SMA.
Lee mendekati sudut ruangan. Tepat dimana foto itu terbingkai rapi membungkus indah kenangannya. Terlihat sekali seperti itu.
Gia hanya diam saja.
Dia tak menghalangi Lee untuk melihatnya.
“Kau lucu sekali ternyata ya, Gia” Suara Lee memecah keheningan.
“Lihat laki-laki bodoh ini, dia hitam sekali saat SMA. Kenapa bisa begitu ya?” Lee terkekeh lagi melihat foto Boy disana.
“Kami anak petani, jika kau lupa. Kami pasti hitam karna membantu ayah di sawah” Gia beranjak ke dapur. Mengambil pisau dan buah untuk dikupasnya.
“Hei, lihat.. Dia mirip denganku kalau begini ya. Hanya saja dia hitam. Aku putih. Dia memang adikku” Ucap Lee yang membuat Gia mendelik.
“Sedekat apa sebenarnya Lee dan Boy, sampai Lee menganggap Boy sebagai seorang adik” gumam Gia di dalam hati.
“Makanlah buah ini Lee..” Gia menunjuk piring yang telah berisi potongan-potongan buah. Lee mendekat.
“Gia, maafkan aku tak menjemputmu di bandara.”
“Emmm” Gia tetap mengupas buah lain di tangannya.
“Gia, kau ingin bekerja lagi bukan? Supaya pikiranmu teralihkan sejenak. Aku tak ingin kau sakit memikirkan Boy. Kau tau? Dia mendapat banyak doa dari warga desa.” Lee berucap dengan senyumnya.
Gia berhenti mengupas. Terdiam cukup lama.
“Aku ingin istirahat, Lee.. Jika kau mau, kau bisa tidur di sofa ini. Hari akan hujan. Tetaplah disini”
Gia berjalan menuju kamarnya. Menutup pintu itu rapat.
Lee menghela nafas berat.
“Harus bagaimana lagi menyembuhkan lukanya?”
****””
Di perusahaan, Liam sudah menerima pesan dari Ryan bahwa Gia akan berkunjung siang nanti.
Mungkin, jika tidak ada kendala, Lee juga akan menyusul.
Perasaan Gia hari ini jauh lebih baik.
Dia juga memberi tahu Lee bahwa dia mungkin akan berada di perusahaan Liam jam 11 Siang nanti.
Saat jam makan siang.
Gia juga meminta Lee untuk datang, tentu jika tidak mengganggu.
Kegiatan tidak terlalu formal. Gia hanya ingin berkenalan dengan orang yang bersedia mengelola perusahaan Boy demi warga desa.
Lee mengosongkan jadwalnya. Setelah setahun, akhirnya Gia mengiriminya pesan. Tentu sangat luar biasa untuknya.
Dia sedikit lega saat Gia sudah belajar membuka lagi lembaran baru hidupnya.
itu awal yang baik.
Gia mengubur diri dalam duka sudah cukup lama.
Tapi hidup harus berlanjut. Begitu pikirnya.
Sejenak pikirannya menerawang jauh ketika ibunya meninggal dulu.
Semua juga terjadi tiba-tiba.
Mereka memang telah meninggal, tapi kenangan akan terus abadi dalam ingatan.
Lee menghela nafas kasar.
Hanya saja, kadang, kenangan manislah yang justru bisa berubah begitu menyakitkan.
__ADS_1
Saat rindu datang menyerang.
“Bagaimana aku bisa mendapatkan Gia, Boy? Jika yang kau berikan hampir semuanya kenangan Indah” Lee bergumam.