Gia, Love In London

Gia, Love In London
BAB 22


__ADS_3

Dari atas, awan perlahan berarak berjalan tartiup angin.


Cahaya matahari yang mulai meninggi, memberi sedikit kilauan keemasan diujung tiap benda putih itu.


Tak terhitung sudah berapa kali helaan nafas berat telah Gia keluarkan.


Sesak.


Sesak itu tetap tidak hilang.


Sesekali dia akan melirik pada laki-laki disampingnya.


Boy terlelap sepanjang perjalanan.


Dia, mungkin tidak akan sadar untuk beberapa lama.


Tentu saja, karena pengaruh obat yang diberikan dokter tadi.


Ah, Gia bahkan tak sempat bertanya siapa nama dokter itu, Orang yang ternyata telah merawat Boy sejak di London.


“Inikah alasanmu tidak mau menyentuhku, Boy?” lirih Gia mengusap air yang tidak mau berhenti keluar dari matanya.


*******”


Disini, rumah sakit ini, Gia sesekali akan keluar ke balkon kamar rawat sang suami.


Belum ada pergerakan apapun dari arah suaminya terbaring.


Dari sini, Gia dapat melihat banyak bunga putih dan merah muda yang bermekaran.


Ahh, wanginya bahkan tercium begitu memabukkan.


Jepang. Negara ini adalah jepang.


Sampai waktu merangkak naik, Gia masih betah duduk bersandar disini.


“Boy, kau bilang ingin keliling dunia bersamaku” isak Gia lagi.


Gia berjalan cepat menghampiri Boy yang bahkan mungkin, keadaannya semakin memburuk.


“Boy, lihat bunga itu? Ayo bangun.. Musim semi ini cantik Boy, tidakkah kau mau melihatnya? Kita belum pernah kesini” Kalimat itu bahkan keluar terbata dari mulutnya.


Laki-laki itu terlihat lelah.


Mukanya yang selalu ceria, hilang lenyap tertelan rasa sakit di dada.


Warna hitam di bawah matanya, bibir pucat dam kulit yang mengabu, seolah terlukis jelas akibat rasa sakitnya.


Gia kembali terisak. Tak sanggup membayangkan betapa menderitanya Boy selama ini.


“Istri dan sahabat macam apa aku ini, Boy?” Seduh sedan semakin memecah semua keheningan.


*****”

__ADS_1


Hari ini, pak Hendri datang bersama sang istri.


Gia dapat melihat dengan jelas wajah sembab sang ibu mertua.


Dia bahkan tak menatap siapapun. Tidak juga menatap Boy, anaknya.


Sesekali dia hanya keluar ke balkon kamar. Persis seperti yang Gia lakukan.


Pak Hendri duduk terpaku disamping tempat Boy terbaring.


Sesekali dia menggosok ujung matanya dengan tissue yang mungkin sudah sangat basah terkena air matanya.


Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.


Hanya deru nafas yang kadang terdengar seperti isakan pelan.


Gia tak berani mendekat.


Dia bahkan tak akan sanggup melihat kedua orang itu. Dia memilih duduk di sofa, memandang dari jauh punggung sang ayah mertua.


Pintu perawatan perlahan terbuka. Dokter mengecek keadaan pasiennya.


Gia mendekat dan bertanya beberapa hal pada pria bersetelan putih itu.


Bu Hendri mengerutkan keningnya sedikit.


Entah apa yang dibicarakan Gia dan sang dokter.


Mereka bahkan menggunakan bahasa jepang untuk berdiskusi.


Di Luar, Lee kembali menuju ruangan rawat inap Boy.


Sudah seminggu semenjak kedatangan mereka membawa Boy untuk dirawat disini.


Di hari ketiga, Lee dan Ryan pergi mengurus beberapa hal yang memang sangat sulit untuk ditinggalkan.


Dan dihari itu juga Boy tak sadarkan diri lagi.


Terhitung hari keempat semenjak mata itu belum juga terbangun.


Wajah sayu dari ketiga orang yang berjaga, sudah cukup mengisyaratkan dalamnya duka.


Sulit. Sulit sekali mendapatkan donor jantung baru untuk Boy.


Dihari kelima, mata Boy akhirnya terbuka.


Dia menatap kepala yang tertunduk di samping bed perawatannya.


Dia tau, itu Gia.


Tangan Boy perlahan bergerak menyusuri rambut Gia yang tergerai.


Lemah, sangat lemah.

__ADS_1


Gia tersadar dengan pergerakan. Lee yang tertidur di sofa sontak terbangun mendengar suara ramai perawat dan dokter yang masuk.


Boy. Dia sadar.


*****”


Hasil pemeriksaan kali ini memberi angin segar.


Keadaan Boy mulai membaik.


Dia, Boy, masih membutuhkan donor itu.


Tapi setidaknya, dia sudah sadar.


Kondisinya sedikit lebih stabil dari kemarin.


Lee bahkan bisa bernafas lega dan pergi untuk urusan kuliahnya.


Dia berjanji akan datang lagi dalam waktu tiga hari kedepan.


Tak mengapa pikirnya, biarlah Gia dijaga oleh kedua mertuanya.


Disisi lain, Boy sudah bisa disuapi.


Selang makannya dan nafasnya sudah dilepas.


Alat yang menempel banyak di tubuhnya juga sudah di lepas.


Gia mendorong kursi roda yang diduduki Boy menuju balkon.


Boy harus mendapatkan sedikit mentari dan udara pagi.


Gia memakaikan sweter pada Boy.


Boy bilang, hari itu dingin sekali.


Gia mengernyit heran.


Tapi tak apa. Boy pasti baik-baik saja.


“Gia, apa Lee akan datang? Aku ingin berterima kasih” ucapnya dengan bibir pucat itu.


“Besok, mungkin Lee dan Ryan akan datang. Entahlah. Apa kau ingin mereka datang Boy?”


Boy mengangguk.


Gia mengambil ponsel yang berada di atas nakas.


Menelpon orang yang entah sedang berada di belahan bumi yang mana.


Sesaat setelah berbicara sedikit, Gia mematikan telponnya.


“Sayang, Lee akan datang” ucap Gia menggenggam tangan kiri Boy.

__ADS_1


******”


__ADS_2