
" Lalu apa untungnya bagiku? Aku tidak merasa di untung kan disini? Jelaskan apa yang menguntungkan bagiku? " tegas Khanza.
"Kamu harus mencari tahu sendiri." celetuk Zeyn.
"Ah, akui saja, kalau aku memang hanya dirugikan disini." - Khanza.
"Kamu tidak dirugikan kok. Karena setidaknya kamukan bertemu dengan ku." - Zeyn tersenyum bangga.
Khanza tertawa mengejek. "Apa hebatnya bertemu denganmu." ujar Khanza.
Zeyn tertawa.
"Percayalah selalu ada hikmah di balik semua yang sudah kita jalani ataupun kejadian yang menimpa kita,"
ucap Zeyn beberapa detik setelah tertawa.
Khanza diam. Entahlah.
"Kalau boleh tau sudah berapa banyak Berliannyangvsudah kamu pecahkan?." tanya Zeyn.
"Yang ku pecahkan? Pertanyaan mu terdengar seolah olah sedang mereendahkanku." jawab Khanza.
"Aku tidak suka jawaban 'tidak ada', makannya aku tidak menanyai 'berapa banyak potongan berlian yang sudah kamu kumpukan'." jawab Zeyn.
"Apa aku sungguh terlihat payah? Sampai sampai kamu tahu kalau aku memang belum mendapatkan potongan berlian itu? Atau kamu memang peramal?." - Khanza.
Zeyn terkekeh. "Ternyata trbakanku benar lagi ya. Jadi, sudah berapa banyak potongan berlian yang sudah menghilang?." tanya Zeyn.
Khanza mencoba mengigat dan menghitung. Beberapa detik kemuadin khanza menjawab "Dua".
"Hmm lumayan". Komentar Zeyn.
"Lumayan kalau setiap harinya kamu pecahkan dua, tidak sampai dua puluh sembilan hari waktu mu berakhir dan kamu benar-benar akan tinggal disini." lanjut Zeyn.
"Meski aku telah memecahkan dua potongan setiap hari nya, dalam tiga hari saja saja aku akan kembali." Khanza tersenyum lebar, Khanza sukses membalas komentar Zeyn.
Zeyn hanya tersenyum.
"Berhati hatilah. Kamu harus bisa menahan emosi negatif yang di hatimu itu. Jaga sikap dan juga jaga sikap mu." - Zeyn.
"Tunggu...," Khanza mulai merenungi.
"Kenapa kamu bersikap baik terhadapku? Mengantarku kesini dan menjelaskan hampir semua nya, padahal teman teman mu saja pergi menjauh dariku."
"Karena aku tidak ingin kamu gagal." - Zeyn.
Khanza tertegun, kemudian tersenyum.
"Kurasa di banding siapapun, kamulah yang paling tahu apa yang sedang aku pikirkan." - Khanza
"Karena memang akulah yang mempunyai pengalaman lebih. Hahaha." jawab zeyn.
"Aku pernah mempunyai temannyang seperti kamu, dikirim kesini untuk mengumpulkan potongan potongan berlian itu juga. Sayang nya. Dia gagal karena tidak bisa menguasai sifat pendendamnya. " - jelas Zeyn.
"Dia gagal? Berarti sekarang dia tinggal disini?" tanya Khanza.
"Benar. Tepat saat dia bergabung menjadi penduduk, dia berubah menjadi sosok lain yang bukan dirinya, sosok yang lebih baik. Karena itu, kuanggap dia adalah orang berbeda, tidak mirip sedikit pun kecuali secara fisik." - jawab Zeyn.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Khanza dengan penasaran.
Zeyn tersenyum ke arah Khanza.
"sayangnya, itu juga rahasia." - jawab Zeyn.
Khanza manyun. "Banyak sekali rahasia kamu." Zeyn tersenyum melihat reaksi Khanza.
"Ini sudah semakin larut ayo kita balik ke pondok Kilau" ajak Zeyn.
Lalu mereka pergi dari tempat itu. Berjalan menyusuri jalan yang sudah dilalui mereka sambil berbincang.
******
Khanza membuka pintu kamar nomor 29. Dilihat nya Emerita yang sedang duduk mengobrol dengan Fenita yang sedang merapikan kamar.
Emerita dan Fenita segera menyadari kedatangan Khanza.
"Hanya berjalan jalan di sekitar pondok." jawab Khanza. Dia ingat kalimat terakhir Zeyn kalau dia harus merahasiakan temoat itu, makadia tidak menjelaskan secara detail.
Fenita hanya mengangguk
Khanza berjalan pelan menghampiri tempat tidur nya. Duduk ditepian tempat tidurnya. Khanza berpikir dan merenungi. Dia kemudian menolehkan kepalanya, menatap Fenita dan Emerita. Emerita masih keliatan kesal.
' memangnya yang aku lakukan keterlaluan? Apa ucapan ku berlebihan? Bukankah aku hanya menyebutkan kenyataannya? Apakah mereka tidak menyadari kenyataan itu?' . Ucap Khanza dalam hatinya.
Dia masih membela dirinya dalam egonya.
' tapi aku harus membuat mereka gembira dengan adanya diriku, jika ingin segera pergi dari sini. Baik yang perlu kulakukan hanya mengucapkan kalimat 'maafkan aku'.
"hmm teman teman...," ujar Khanza pelan, tapi cukup untuk menegur Emerita dan Fenita.
"Aku.... Aku minta maaf." Khanza menundukan kepala nya.
Fenita tersenyum. 'ternyata gadis ini cepat juga sadarnya ya. '
Emerita sedikit tercengang. "Kamu meminta maaf?"
Khanza mengangguk kecil.
__ADS_1
"Aku tahu kalau aku yang salah. Lain kali pasti kujaga emosiku itu lebih baik bukan?."
Emerita diam beberapa saat, kemudian menghela napas.
"Baiklah, kali ini aku memaafkan mu."
"Terima kasih" Khanza.
senyum palsu.
"Oya waktu makan malam sebentar lagi akan tiba. Kita harus keruang makan, sebelum kak Yenita mengomel," ujar Fenita.
Emerita mengeluh panjang.
"Aku sedang malas. Nanti saja saat sudah waktunya makan malam."
"Kamu selalu saja begini. Merpika tempat tidur tidak mau, merapikan kamar tidak mau, membantu menyiapkan makanan juga tidak mau" omel Fenita.
"Sudahlah. Ayo, Khanza kita pergi lebih dulu." Fenita pergi keluar dari kamar sambil menarik tangan Khanza.
Khanza dan Fenita turun ke lantai satu dan masuk keruang makan.
"Masih sepi ..." komentar Khanza.
**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **
Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian.
**Terimakasih **
__ADS_1