Glitter Of Diamonds

Glitter Of Diamonds
Episode 30


__ADS_3

" Disana! Sedikit lagi." ujar Khanza sambil menarikkedua kaki nya terus bergerak.


Satu langkah lagi. Tepat ketika Khanza menjulurkan tanganya, hendak mengambil, angin besar menyerbu, kali ini tepat ke arah Khanza. Gadis itu terdorong beberapa meter.


Zeyn juga terdorong angin tapi tidak terlalu jauh. Dia langsung berpegangan pada pohon yang berada di sebelah nya.


Zeyn meneriakan nama Khanza, tapi tidak terdengar. Kalah oleh suara gemuruh alam. Khanza berusaha bangkit, meski punggungnya dan kakinya terasa amat sakit.


"Aku tidak akan pernah menyerah secepat ini. Aku bukanlah penakut. Aku akan terus berusaha. Sekali bertekad, maka tidak seorang pun bisa mencegahnya. Guamam Khanza sambil bangkit berjalan lagi.


Khanza berjalan dengan kaki kiri yang diseret. Dia tidak peduli rasa sakit apapun. Hanya fokus pada tekadnya. Dia semakin tertantang untuk berhasil.


Khanza terus berjalan menuju sumber kilauan. Angin besar di kanan dan kiri nya tidak mematahkan semangat Khanza. Dia semakin kuat setelah jatuh tadi.


"KHANZA!" teriak Zeyndari depannya, disisi kanan.


Khanza menatap Zeyn.


Zeyn berlari menghampiri. "Awass!" pekiknya tiba-tiba.


Zeyn buru buru manrik tangan Khanza. Dan... Pohon yang tumbang itu jatuh amat keras di posisi Khanza berdiri tadi nya.


Khanza memandang pohon yang tumbang. Semua berlalu amat cepat. 'Kalau saja tidak ada Zeyn.. Kalau saja Zeyn telat menarik kuu.. '


"Hampir saja" ujar Zeyn.


Khanza masih bengong menatap batang pohon itu.


"Mulai sekarang, jangan lakukan hal hal berbahaya sendirian. Aku akan membantu mu." ujar Zeyn.


Khanza mengangguk pelan.

__ADS_1


"Jadi, di mana kalung itu?" tanya Zeyn.


Khanza mengarahkan jari telunjuk nya kedepan, di seberang nya. "Aku melihat kilau nya di sana." ujar Khanza.


Zeyn menyipitkan matanya. "Aku tetap tidak bisa melihat nya. Tapi, coba kita lihat saja."


Khanza berjalan mendekati kalung, diikuti Zeyn. Berjalan dengan berpegangan dari satu pohon ke pohon lainya, melawan angin.


Khanza akhirnya berada satu langkah di belakang kalung. Menjulurkan tangan nya untuk mengambilnya. Tapi sesaat, angin besar menyerbu kembali. Khanza terdorongΒ  ke belakang, lalu menabrak pohon besar.


"Aku tidak apa apa, cepet ambil saja kalung itu." ujar Zeyn.


Khanza menelan ludah. Dia melangkah kembali dengan gemetaran. Perlahan menjulurkan tangannya. Dan, langsung menarik kalung itu.


Bertepatan saat kalung itu ada di geng gaman Khanza, hujan perlahan lahan mengecil. Angin besar tidak ada lagi. Petir petir menghilang begitu saja.


Khanza menoleh ke arah Zeyn. Ternyata, dia sudah bangkitΒ  kembali dan sedang berjalan mendekati Khanza.


Zeyn tersenyum. "Kamu hebat!"


Keduanya menatap langit. Awan gelap sudah luntur, langit biru kembali menyapa.


Khanza mengerutkan kening. "Aneh. Kenapa tiba-tiba berhenti?."


Azura tiba-tiba berlari dari belakang. "Kakakk!"


Keduannya menoleh. "Kakak mendapatkan nya?"


Khanza tersenyum, "Iya, ini milikmu, kan?"


Azura ikut tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih bangak kak Khanza! ."


Azura memeluk tubuh Khanza.


"" Terima kasih juga kak Zeyn. "


Zeyn mengangguk." Nenek Rosselin pasti berhasil memasang potongan kecil berlian hitam cadanganya pada pusat energi. Kita harus mengejar nya kesana. "ujar Zeyn.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


γ€€


Ketika Khanza, Zeyn dan Azura tib, ada lima orang sedang mengelilingi Nenek Rosselin. Nenek Rosselin terbaring lemas dengan luka di punggung nya.


" Nenek! "panggil ketiga nya sambil berlari mendekati. Khanza, Azura, dan Zeyn menganga.


.


.


.


.


.


* \~typo bertebaran\~*


**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya.Β **


Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian

__ADS_1


γ€€


**Terimakasih**


__ADS_2