Glitter Of Diamonds

Glitter Of Diamonds
Episode 28


__ADS_3

"Terbukalah! TERBUKALAH!" Teriak Berry sambil memukul pintu.


Berry tiba tiba saja merasakan hawa panas dari belakang tubuhnya. Dan,Β dia membelalak kan matanya ketika menoleh kebelakang. Api berkobar hebat. Keluar dari sekitar tongkatpenyangga yang tadinya tempat berlian hitam di tancapkan.


Berry panik. "KELUAR KAN AKU DARI SINI!"


Berry tidak bisa berpikir panjang lagi. Hanya satu yang memenuhi kepalanya, dia harus selamat. Tanpa sengaja pula, Berry melempar potongan berian hitam itu ke pintu. Tidak di sangka sangka, pintu itu terbuk walaupun hanya sedikit.


Berry berhasil keluar. Sedangkan potongan berlian hitam ditinggalkan nya begitu saja, hingga termakan api bersuhu tinggi. Berry tidka perduli. Dia menarik napas dalam dalam.


Selanjutnya, gempa h3bat mengguncang seketika. Menjalar kekuatan nya dengan cepat. Berry terjatuh dan lutut nya menabrak baru. Dia berusaha amat keras untuk bangkit lagi.


γ€€


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Orang orang sesang membersihkan halaman belakang. Kegiatan itu biasanya di lakukan sebulan sekali. Khanza dan Fenita memotong rumput, sedang kan Emerita duduk malas di bawah pohon.


"Bagaimana kalau kak Yenita datang? Kamu tidak takut dengan hukuman nya?" Fenita mengingatkan


"Tidak ada kak Yenita. Dia, kan, sedang pergi ke hutan Bleiz."


Fenita jengkel melihat Emerita yang seenk enak nya bersantai.


Khanza menghela napas sambil menatap langit. Dia mengerutkan kening menatap langit yang gelap.


"Aku baru sadar kalau sedang mendung," ujar Khanza.


"Ah, iya, aku kira sejak tadi panas terik," jawab Fenita.


Emerita mengerutkan kening, dia mengingat jelas kalau tadi memang cerah. Kenapa cepat sekaliberubah jadi gelap?


"Sudah, selesai kan saja urusan kita," ujar Khanza sambil kembali melanjutkan.


Fenita hendak mencabut rumput kembali, tapi tiba-tiba tanah terasa bergoyang hebat. Khanza juga merasakan nya. Dan ketikakedua gadis itu menatap di sekitar mereka, tanah semakin terasa miring kekiri, lalu berbalik lagi miring ke kanan.


"GEMPA!" pekik Emerita.


Orang orang langsung menyadari nya. Mereka berkumpul di tengah halaman.

__ADS_1


Khanza, Fenita dan Emerita saling berpegangan tangan. Lima menit berlalu, gempa itu juga belum hilang.


"Apa yang terjadi?" orang orang bertanya.


"Gempa apa ini?"


Perlahan pula, hujan turun. Hujan turun langsung dengan lebatnya. Dan, getaran gempa perlahan semakin berkurang.


"Hujan apa ini?" orang orang bertanya lagi.


"Tetes air nya besar".


Zeyn dan Azura yang tidak jauh dari sana, mengerutkan kening. "Jangan jangan ini....," gumam keduanya, lalu berlari menuju rumah Nenek Roselin.


Petir rendah menggelegar. Langit semakin gelap. Bahkan, kini seperti malam hari. Hujan makin besar, di tambah dengan angin kencang. Nenek Roselin baru datang lima menit kemudian.


Dengan wajah gelisah, Nenek Roselin menghampiri orang orang di halaman bersama Zeyn dan Azura.


"Ini apa, Nek?apa yang terjadi?. " tanyaZeyn pada Nenek Roselin.


Nenek memandang sekelilingnya. "Aku bisa merasakan nya. Udara dingin ini. Hawa mengerikan ini. Aku ingat... Aku pernah merasakan nya berpuluh puluh tahun yang lalu. Potongan berlian hitam di ruang pusat itu dalam bahaya." ujar Nenek Roselin.


"Nenek tunggu!" Zeyn mengejar, Azura juga mengikuti dari arah belakang.


Orang orang yang melihat Nenek Roselin berlari langsung ribut bertanya tanya ingin tahu.


Nenek Roselin menghampiri Om Gold dan Om David. Lalu, berbisik, "Bawa semuanya keruang bawah tanah. Cepat!" ujar Nenek.


Keduanya mengangguk.


"Perhatian!" ujar Om David, lalu mulai menjelaskan dan meminta semua nya pergi keruang bawah tanah.


Nenek Roselin berlari lagi. Dia berusaha keras, meski tahu tubuhnya cepat lelah.


'Seandainya pelindung dan perangkap berlian itu kubuat lebih kuat, semua ini tidak akan terjadi begini. Ini salah ku juga,'ucap Nenek Roselin dalam hati, Pikirny menyalahkan diri sendiri.


Fenita dan Emerita mulai bergerak mengikuti orang orang yang berjalan menuju bawah tanah. Khanza melihat dari kejauhan, Nenek, Zeyn, dan Azura sedang berlari. Dia berlari menghampiri.


"Khanza kamu mau kemana?" tanya Fenita.

__ADS_1


Khanza tidak menjawab pertanyaan dari Fenita.


"Nenek!" panggil Khanza yang hampir mendekat dengan Nenek.


Nenek Roselin menoleh.


"Apa yang terjadi Nek?"tanya Khanza ingin tahu.


" Kamu pergi saja keruang bawah tanah bersama mereka. Tidak perlu ikut dengan kami, "ujar Zeyn.


Nenek Roselin diam beberapa detik." Tidak apa apa, ikutlah bersama kami. "ujar Nenek.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


.


.


.


.


.


* \~typo bertebaran\~*


**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya.Β **


Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian


γ€€


**Terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2