Glitter Of Diamonds

Glitter Of Diamonds
Episode 11


__ADS_3

"Masih sepi ..." komentar Khanza.


"Tentu saja. Waktu makan malam masih satu jam lagi" timpal Fenita.


"lalu apa yang akan kita lakukan disini?." tanya Khanza.


"Membantu menyiap didapur." jawab Fenita.


Khanza menganga.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya  Fenita.


'orang tuaku saja tidak pernah meminta bantuan untuk memasak di dapur, kenapa aku harus membantu orang orang asing ini?.'  


Keluh khanza dalam hati.


' Eh tidak tidak. Aku tidak boleh menolak nya, aku harus bersikap baik terhadap mereka. Aku hatus bisa membuat mereka senang. '


Khanza tersenyum. "siapa bilang aku tidak mau? Aku bersedia kok?.


" Kalau begitu ayok, " ajak Fenita sambil menarik lagi tangan Khanza le dapur.


" Kami sudah datang" ujar Fenita


Tiga orang wanita dan dua laki-laki pengurus pondok serta dua remaja putri didapur itu menoleh, ke arah Khanza dan Fenita.


"baguslah kalian sudah datang," jawab kak Yenita, sambil sibuk melakukan banyak hal.


"Fenita tolong kamu letakan dan tata piring piring serat alat makan lainya ke ruang makan." suruh kk Yenita kepada Fenita.


Fenita hanya mengangguk.


"Dan kamu.. Pendatang baru itu?." tanya kak Yenita.


Khanza mengangguk, sambil tersenyum. Sebaik mungkin mencoba ramah.


"aku khanza"


Kak Yenita tidak membalas senyuman, sambil meneruskan pekerjaan dia berujar. " tolong kamu cucikan dan potong buah buahan yang ada disana ya."


Mencuci buah buahan? Kenapa Fenita hanya ditugaskan meletakan alat alat makan sedang kan aku Mencuci buah buahan? Jahat sekali, memberikan pekerjaan yang berat langsung pada orang baru. '


Omel Khanza dalam hati.


Tetapi dengan cepat khanza teringat lagi.


Ah tidak boleh. Aku harus hentikan keluhan ku. Aku tidak mau kehilangan potongan berlian itu lagi. 


Khanza tetap tersenyum dan menjawab " Baiklah"


Khanza menghampiri meja dipojok kiri.


"Ini buah apa? Bentuknya bulat, warnanya biru, sebesar genggaman tangan?."


Khanza mengerutkan kening tapu beberapa saat kemudian mengabaikan nya. Yang penting tugasnya selesai, secepat nya. Biar orang orang kagum padanya.


Begitulah yang dipikrkan Khanza.

__ADS_1


" Buah buahan ini dipotong di mana? "Khanza menghampiri kak Yenita dan kak Kanya.


" Cepat sekali kamu sudah selesai. Di letakan di meja sana" kak Kanya yang menjawab.


Khanza mengangguk.


"Eh tunggu" ujar kak Yenita.


Khanza menoleh lalu menghampiri.


"ah kamu ini mencuci nya saja tidak benar!" ujar kak Yenita memperhatikan lebih jelas.


"Ini bekum bersih. Jangan hanya mengguyur dengan air, kamu juga harus menggosoknya. Mencuci buah buahn ini tidak mudah." ujar kak Yenita.


"karena tidak mudah kamu seharusnya mengahargaiku." ujar Khanza.


Jawab Khanza dengan nada tinggi, emosi nya langsung naik.


"Kamu..." kak Yenita tidak sempat melanjutkan karena Khanza langsung menyela.


"Aku orang baru disini. Mana aku tau cara mencuci nya? Nama buah buahan ini saja aku tidak tau! Kenapa kamu suruh aku." bentak Khanza.


Orang orang yang ada di dalam ruang makan menoleh tertarik menyimak kejadian itu.


Kak Yenita menatap tajam Khanza.


"Tidak sopan. kamu pikir kamu siapa membentak orang yang delapan lebih tua dari kamu?."


Khanza hendak melontarkan kalimat lebih kasar, tetapi kak Yenita angkat bicara lagi.


"Baik aku akan pergi." jawab Khanza, laku berjalan dengan kaki yang disentak keras.


"Semuanya dengar. Jangan biarkan anak itu makan malam disini. Bahkan jangan ada yang membawakan makanan untuknya." perintah kak Yenita.


Khanza semakin kesal mendengar nya. Dia mempercepat jalannya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Kepalanya terus pusing dan amat sakit. Untuk ketiga kalinya.


Khanza terjatuh terduduksambil memegangi kepalanya. Kali ini dua kali lipat lebih sakit dan lama.


"Hentikan hentikan  hentikan aku mohon!." Khanza memukul kepalanya sendiri.


Beberapa saat setelah itu, barulah rasa sakit itu hilang. Khanza kembaki berdiri dan berjalan dengan pelan. Menaiki anak anak tangga menuju ke lantai dua.


 


 


******


 


 


Khanza tiba- didepan kamar dan ketika menggerakkan daun pintu dia sadar kalau pintu kamarnya dikunci nya dan Fenita.


Ahh sial!  


Keluh Khanza dalam hati.

__ADS_1


Khanza memilih untuk menunggu didepan kamar ssaja. Dan melamun.


Aku menyadarinya. Potongan berlian itu pasti hancur lagi. Aku... Gagal lagi,.      


Ucap Khanza dalam hati.


Kalau begini terus kapan aku bisa kembali? Aku benar-benar lelah dengan ini semua.


Setengah jam berlalu, mulai terasa perutnya mengamuk ingin diberi makanan, gadis itu mengeluh.


"gara gara kakak jahat itu perutku harus menderita." keluh Khanza.


"Kasihan sekali.. Ckckck." ucap seseorang sambil mendekati Khanza.


Khanza menoleh. "Eh apa yang kamu lakukan disini?." tanya Khanza


"kamu sendiri ngapain disini?" Zeyn membalikan pertanyaan nya.


Khanza menundukan kepala.


"Aku..." gadis itu bingung bagaimana harus menjelaskan.


"Pasti kamu sudah membuat masalah dengan orang lain didapur" tebak Zeyn.


Khanza hanya diam mendengar ucapan Zeyn


"tebakanku benar lagi kan?." ujar Zeyn.


"Mau apa kamu kesini." Khanza mengalihkan pembicaraan.


"Untuk memberikan mu ini."


 


 


 


 


 


 


 


**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **


 


 


Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian.


 


**Terimakasih **

__ADS_1


__ADS_2