
" Nenek! "panggil ketiga nya sambil berlari mendekati. Khanza, Azura, dan Zeyn menganga.
Salah satu dari lima orang dewasa tadi menjelaskan. Bahwa, tepat ketika Nenek Roselin memasang potongan kecil berlian hitam cadangan, angin besar untuk terakhir kalinya datang. Mendorong Nenek Roselin hingga menabrak tembok kemudian runtuh. Kelima orang yang memang sedang berada di satu ruangan tidak sempat menolong. Fisik Nenek Roselin dengan umur setua itu memang sudah lemah.
Khanza memperhatikan sekitar nya. Tembok tembok di sekeliling runtuh. Tapi, tidak ada sedikit pun retakan tanah, padahal pusat gempanya pastilah di situ.
Dia juga memperhatikan tongkat penyangga berlian yang masih utuh, tanpa cacat sedikit pun. Keajaiban, bisiknya dalam hati.
Nenek Roselin memang terbaring amat lemas. Dia berusaha keras membuka mata. Berusaha keras mengatakan sesuatu. Tiba-tiba, seseorang menghampiri nya. Berjalan dengan gemeteran.
"Semua nya salah ku. Bukan salah kalian. Aku yang paling berdosa!" teriaknya.
Semua orang terperangah, Berry?
Berry berjalan mendekat. Lalu, duduk di samping Nenek Roselin.
"Nenek... Aku memang paling tidak berguna. Aku memang orang paling bodoh. Aku memang orang paling memyedihkan. Aku bersalah, Nek. Aku amat bersalah. Aku telah menghancur kan semuanya. Aku sungguh minta maaf. Tidak apa-apa kalau Nenek membenciku. Aku pantas mendapatkan nya. Hukum aku, Nek. Nenek berhak mengutuku", ucap Berry sambil menangis dalam.
Nenek menggerakkan kepalanya sedikit untuk menatap Berry. "Tidak," jawab Nenek pelan.
"Ini memang sudah waktu ku... Semua sudah di tentukan sejak awal. Berhenti lah menyalahkan diri sendiri. Aku minta kalian untuk tidak larut dalam masalah dan musibah ini. Kalian hatus bangkit. Kalian harus terus menatap masa depan."
Semua yang mendengar penuh makna.
" Berry..., "ucap Nenek Roselin lembut.
" Kamu tahu? Meski kamu gagal dalam dua puluh sembilan hari, kamu tidak selamanya tinggal disini. Suatu hari, saat orang orang dengan tulus menyayangi mu, kamu akan kembali. Dunia di sini memang bukan dunia mu, bagaimana pun kamu harus kembali."
__ADS_1
Berry tercengang dan menangis semakin keras. Ucapan Nenek tidak pernah ia sangka.
" Aku punya permintaan terakhir kepada kalian semua" ucap Nenek Roselin.
Semua nya bersiao mendengar kan.
"Potong an berkian cadangan itu terlalu kecil untuk menjaga keseimbangan alam. Tidak akan bertahan lama. Sekalipun di gabung dengan berlian berlian biasa lainnya, tidak akan bisa. Hanya satu berlian dengan kekuatan yang sama yang bisa membantu. Berlian biru. Aku ingin kalian mendapat kannya sebelum alam mengamuk kembali. Waktu kalian yidak banyak."
"Berlian biru? Dimana kita bisa menemukan nya?" ujar salah satu dari kelima orang dewasa.
Khanza dan Zeyn ingat ucapan Nenek Roselin saat menyerahkan buku sejarah itu.
"Aku tahu tempat nya biar aku, Khanza Dan Berry yang mengambilnya." ujar Zeyn.
"Kamu yakin?" tanyanya.
Semua setuju. Azura ikut bersama kelima orang dewasa tadi, kembali ke pondok.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
"Zeyn kamu yakin kita bisa menemukan kanya? Kita memang tahu tempat itu di mana, tapi Nenek Roselin sendiri bilang, kalau bangunan itu hanya bisa dilihat mata saat ada pendatang barubaru yang datang." ujar Khanza.
"Nenek menyuruh kita mengambilnya, bukankah itu berarti Nenek yakin kita bisa menemukan kanya? Sudahlah coba dulu." jawab Zeyn.
__ADS_1
Ketiga nya berlari cepat hingga tiba di tengah hutan Filley. Ketiga nya berhenti. Menatap bangunan tua yang hanya sekali pernah mereka lihat sebelum nya. Bangun nan itu bergerak menembus tanah. Sekeliling nya bergetar.
" Kita harus cepat masuk," ujar Berry.
"Bagaimana kalau kita justru tenggelam bersamanya kebawah?" tanya Khanza khawatir.
Berry berlari masuk ke bangunan, lewat pintu besar yang setengah nya sudah lenyap dalam tanah.
.
.
.
.
.
* \~typo bertebaran\~*
**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **
Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian
**Terimakasih**
__ADS_1