
Ninda mencoba mengendalikan emosi nya. " Khanza, lihatlah dirimu sendiri. Siapa yang memulai semuan ini?"
Khanza pura-pura tidak mendengar yang di ucap kan oleh Ninda. "Cukup sudah cukup! "
lalu khanza berlari keluar. Berlari dari rumah dengan orang orang yang mengerikan otu. Tapi, dia tidak bisa berlari dari dalam kesedihan hatinya.
Khanza berlari semakin kencang. Setibanya dirumah dia mendorong pintu kamarnya, lalu melempar badan nya kekasur.
Menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak keras.
"Aaaarghh! Jahat!! Kalian jahat sekali. Jadi, selama ini yang kalian lakukan hanya sandiwara? Berpura-pura tersenyum untuku, tertawa untuku, bahagia untukku, sampai aku merasa kalian lahyang paling baik didunia ini setelah orang tua ku. Tidak kusangka, dibalik semua ini justru kalian lah yang psling jahat!." ucap Khanza masih dengan sedikit isakan.
" sahabat macam apa kalian? Di depan ku bersikap amat baik, di belakangku bersikap amat mengerikan! " teriak Khanza.
" salah apa aku? Kenapa Kalian sakiti aku? Selama ini aku perhatikan kalian tidak pernah sedih karena aku! Kejam kalian kejam. Tidak fau terima kasih!. Lanjut Khanza.
**Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal lagi. Dengan perasaan negatif bercampur aduk. Beberapa menit kemudian ia tertidur karena lelah. **
Mama mengetuk pintu sambil memanggil manggil nama Khanza. Karena tidak ada jawaban, mama masuk dan melihat putrinya tertidur pulas.
"Khanza pasti sedang ada masalah. Dia menangis sampai sampai ketiduran." ujar mama Khanza memandang putri satu satunya..
"Bagaimana ma? Apa Khanza mau ikut?" tanya papa Khanza sambil berjalan menghampiri.
"dia terlihat sangat lelah sekali. Sebaiknya tidak usah. Lagi pula kitakan tidak terlalu lama perginya." ujar mama Khanza. Lalu disetujui oleh papa.
Khanza membuka mata nya perlahan, lalu beranjak duduk, sambil memegangi kepalanya yang agak pusing.
"apa aku kesiangan?" tanya Khanza sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul 10 pagi.
Beberapa detik kemudian, barulah Khanza ingat kalau dia tertidur sepulang dari rumah Erica. Dia sangat ingat pertengkaran dengan sahabat sahabat nya itu.
"sahabat? Mereka tidak pantas lagi disebut sahabat!" ujar Khanza.
**Khanza berdiri. Lalu menatap cermin disebelah meja riasnya kemudia tersenyum lebar . **
__ADS_1
"mereka pasti membenci ku karena aku punya segalanya yang tidak mereka miliki. Aku cerdas, punya wajah cantik, tinggal sebagai putri di kalangan atas, dan hampir berbakat hampir di segala bidang". Khanza tersenyum mengerikan. Hatinya semakin gelap.
"kalian irikan pada ku! Kalian iri atas apa yang semua kumiliki," teriak Khanza dengan penuh dendam.
Kini emosi Khanza memuncak. Hawa panas mengelilinginya. Beberapa detik kemudian, gadis itu malah tertawa.
"aku tahu aku adalah orang paling beruntung di dunia ini. Tapi aku baru tahu ternyata kalian memiliki rasa iri yang begitu besar terhadap ku! Aku benar-benar hebat membuat kalian semua seperti itu."
Ujar Khanza sambil menyeringai.
Khanza tersenyu. Puas, sambil menatap wajahnyadi depan cermin. Semakin berbangga diri. Tapi tiba-tiba, muncul titik hitam yang perlahan membesar dan membentuk pusaran dari tengah cermin.
Khanza tersentak. Suasana seketika berubah menjadi mengerikan. "apa... Apa yang terjadi? Itu.. Titik apa itu yang berada di situ?"
Tanya Khanza Sambil melangkah mundur pelan pelan.
Pusaran hitam itu semakin membesar dan menarik Khanza ke dalamnya. Khanza tidak sempat lari. Khanza terbawa ke dimensi lain.
Khanza membuka mata, lalu menyipitkan sambil memandang sekitar. Penglihatan yang remang kembali jelas. Dia kini berdiri di dalam bangunan tua. Gadis itu mengerutkan kening. Lalu berjalan menuju pintu keluar yang terlihat beberapa langkah didepan nya.
Saat khanza melepaskan pijakan kaki di bangunan tua itu, tanah bergetar. Khanza membalikkan badanya. Dilihat nya bangunan itu perlahan tenggelam ke dalam tanah.
"selamat datang di negeri berlian" ucap seseorang dari belakang nya.
Khanza tersentak seketika membalikan badan "siapa kamu?. Mau apa?" tanya Khanza.
Nenek itu tersenyum hangat "aku akan menjelaskan padamu, peraturan mainya." jawab sang nenek.
__ADS_1
__ADS_1