
"terima kasih kakak" azura tersenyum penuh penghargaan.
"kaka baik sekali" lanjut Azura.
Khanza mengangguk senyum tulus
Azura memasang kembali kalung itu. Khanza membantu Azura memakaikan kalung.
"Kenapa kamu masukan kalungmu ke kantong boneka itu sebelum nya?" - Khanza
"Karena aku tidak suka," jawab Azura
"Sejujurnya, aku memang tidak pernah memakai kalung ini. Aku selalu memasukannya dalam kantong bonekaku. Tapi sekarang tidak lagi.aku sadar, aku begitu membutuhkan kalung ini. Aku telah dipercaya untuk menjaga, maka aku akan menjaganya." lanjut Azura.
"Siapa yang memberikan kalung indah ini?". - Khanza.
"Nenek Roselin," jawab Azura.
"oya kak.....," ujar Azura sambil merogoh saku rok nya.
"Aku punya sesuatu untuk kakak," lanjut gadis kecil itu sambil menyodorkan tanganya yang menggenggam sesuatu.
"Apa itu?". Khanza memperhatikan lebih dekat.
Azura membuka perlahan kepalan tangannya. Dan, ada pancaran kilau yang keluar. Begitu indah. Terbentuk dari pantulan sinar matahari pada berlian kecil itu.
Mata Khanza berkaca kaca dia tertegun. Satu detik. Lima detik.
Azura tersenyum "Potongan berlian yang akan membantu kakak untuk pulang. Kakak pantas mendapatkan kannya." - ucap Azura
Khanza menatap Azura dengan penuh makna. Tidak percaya semua inj amat mengejutkan.
"Inii...," ucap Khanza sambil memandangi kembali potongan berlian itu.
'tidak kusangka gadis kecil ini adalah orang yang memberikan potongan berlian pertamaku. Dia yang tadinya amat kubenci, ternyata baik sekali terhadap aku'. Khanza berbicara dalam hati.
__ADS_1
Khanza dengan mata berlinang, melukis senyum lebar. Perlahan tangan kanannya meraih potongan berlian itu. Gadis itu menatap lamat lamat berlian pertama nya. Dan tanpa sadar, saking terharu nya air matanya jatuh.
"Terima kasih, Terima kasih banyak, Azura." - ucap Khanza, lalu Khanza memeluk erat gadia kecil itu.
"Kakak tidak perlu berterima kasih, ini memang layak menjadi milik kakak." - ujar Azura.
Senyum Khanza terukir mamin lebar.
⛋⛋⛋
Khanza yang baru 15 menit berbaring dikasur karena kelelahan, bangkit berdiri. 'aku akan berusaha lebih memaksimalkan. Aku pasti bisa, menyelesaikan tugas disini aku pasti bisa mengumpulkan dua potongan berlian yang lainnya.. Aku harus terus semangat. Semangatt!' - ucap Khanza dalam hatinya.
Fenita bersama Khanza berjalan keluar dari kamar.
"Ehh.. Kenapa kalian tidak mengajakku?" tanya Emerita yang tadinya bermalas malasan di atas kasur kini sudah bangkit.
"Kalau aku mengajak mu, apa kamu akan menurutinya langsung seperti Khanza?" - tanya Fenita.
"Ah... Baiklah, aku tidak akan bermalas malasan lagi, tapi, tunggu aku Fenita." ujar Emerita.
Fenita tersenyum dan terus berjalan diikuti Khanza.
"Hei aku bilang tunggu aku....!" ujar Emerita sembari berteriak.
Di dapur, Khanza memulai banyak membantu didapur. Dia mulai tau banyak dan sangat berminat untuk tahu lebih banyak. Tetapi tetap tidaklah mudah dalam menyenangkan hati orang lain. Apalagi, setelah sikap buruknya yang membuat mereka yang ada di dapur waktu itu tidak nyaman. Semua butuh waktu masing masing-masing.
__ADS_1
⛋⛋⛋⛋⛋⛋
"Dimana Berry?" tanya Fenita..lagi lagi, Berry tidak bersama Zeyn diruang makan
"Dia masih di atas. Dia bilang akan segera menyusul." ujar Zeyn.
"ohhh" jawab Fenita.
Lima menit kemudian, makan malam dimulai. Khanza menatap makanan makanan yang ada didepan nya.
* \~typo bertebaran\~
**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **
Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian
**Terimakasih **
__ADS_1