Glitter Of Diamonds

Glitter Of Diamonds
Episode 7


__ADS_3

"Hei, kalian!". Panggil seseorang dari sebelah kanan.


Fenita dan Emerita menoleh, Khanza ikut menoleh.


"ah disan!" ujar Emerita, lalu berlari menghampiri arah suara.


Fenita dan Khanza berjalan cepat mengikuti Emerita.


Menghampiri dua laki-laki sebayanya yang salah satu nya memanggil.


"Kalian sedang apa disini." tanya Emerita


"Beristirahat sejenak, tadi hujan besar, jadi kami berhenti kan pekerjaan ini," jawab laki-laki berkaus biru, yang tadi memanggil mereka.


Emerita mengangguk. ke dua laki laki mengarahkan pandangan ke Khanza.


"Hei apa ini yang dimaksud Nenek Rosselin waktu itu?" bisik laki-laki berkaus biru itu kepada Emerita.


Emerita mengangguk dan dalam waktu yang sama remaja laki-laki lainnya berujar,


"Kamu pendatang baru ya? Salam kenal aku Zeyn."


"Hm.. Iya makasih aku Khanza."


"aku Berry." sahut laki-laki berkaus biru


Khanza hanya mengangguk.


"Jadi.. Apa masalah mu sampai kamu dikirim kesini?" tanya Berry, yang beberapa detik kemudian di tegur lewat injakan kaki kanan Emerita.


"Kenapa kau menanyakan itu?" Emerita melotot kepada Berry.


Berry mengeluh.


"Ah.. Kamu ini.. Memang nya salah jika aku menanyakan hal itu?"


Khanza mengerutkan kening.


"Sudahla, kita jangan perduli kan mereka," ucap Zeyn, menanggapi ekspresi Khanza.

__ADS_1


"Apa setiap orang yang dibawa kesini memiliki banyak masalah?". Khanza tidak bisa menahan rasa keingin tahuannya.


"Tentu saja. Mangkanya kau menayakan hal itu kepada mu, Kamu punya masalah apa?." jawab Berry.


Emerita menginjakan kaki Berry untuk yang kedua kalinya


Khanza diam sejenak, memikirkan.


"Tapi aku merasa tidak mempunyai masalah apapun. Hidupku baik-baik saja. Amat baik sampai seorang Nenek Nenek mengantarku ke tempat mengerikan ini." ujar Khanza.


Khanza lupa semua kejadian yang dialaminya beberapa saat sebelum Khanza tertidur. Khanza lupa apa yang dia dengar dan dia lihat sebelum nya dirumah Erica.


" Tempat mengerikan? Memang, apa yang kamu simpulkan tentang tempat aneh ini. Hmm.?" Berry tidak terima.


"Tempat aneh dengan orang-orang yang tak kalah aneh. Sulit dimengerti." jaeab Khanza tanpa berpikir panjang sebelum berbicara.


"Aneh?" Berry ingin penjelasan lebih detail.


Khanza mengangguk.


"Kenapa aku harus tinggal disini dan mengumpulkan tiga potongan Berlian? Apa hubungannya dengan masalah yang aku punya? Dan kenapa aku harus tinggal di pondok kuno itu? Pondok Kilau... Dari namanya saja terdengar norak sekali. Nama Negeri Berlian juga tidak kalah noraknya dengan nama pondok ini. "ujar Khanza.


" KALAU KAMU TIDAK TAU APA-APA, DIAMLAH!! JANGAN SEENAKNYA MENGHINA! "


Fenita dan Emerita mendengar bemtakan Berry.


Zeyn mencoba menghentikan. Tapi, Berry tetap dalam lingkaran kemarahannya itu.


" pergi saja kamu! Jangan bergabung dengan kami kalau kamu memang tidak suka. "Berry mendorong pundak Khanza.


Khanza tidak terjatuh, dia hanya kehilangan keseimbangan sedikit dan langsung berdiri dengan kuat lagi.


" Kamu menyuruhku pergi? Memang nya siapa yang membawa aku kesini? Bukankah kalian juga semua penduduk di daerah yang aneh ini, yang menariku kesini! Kalau benci keberadaan aku, kamu saja yang pergi!".Jawab Khanza tidak kalah kencangnya dari suara Berry, Khanza berteriak. Bahkan sambil mendorong bahu Berry tiga kali lipat lebih kuat.


Berry terjatuh kebelakang, bahkan kepalanya membentur batu yang cukup besar. Tetapi benturan itu tidak terlalu keras karena sebelum menyentuh batu, Berry menahan tubuh dengan kedua siku tangannya.


Fenita, Emerita, dan Zeyn terkesiap melihat apa yang baru saja dilakukan Khanza. Tapi, dengan cepat Zeyn membantu Berry berdiri.


"Kamu benar-benar bermasalah! Penyakit harimu sudah kronis!" Berry membentak.

__ADS_1


Berry melepas kasar tangan Zeyn yang baru saja membantunya berdiri. Kemudian pergi dengan hati tidak hanya kesal, tetapi dendam.


Fenita, Emerita, dan Zeyn memperhatikan kepergian Berry. Saat itu bertepatan dengan Khanza jatuh terduduk. Dia menahan sakit di kepala nya yang dirasakannya teramat pusing.


Zeyn yang lebih dahulu melihat Khanza menahan sakit, menghela napas.


"Sebagai orang baru disini, nyalimu benar-benar.... Ugh,!"  ucap Zeyn.


Emerita juga kesal. "gadis yang menyebalkan!."


"Dia yang melakukannya lebih dulu. Dia pantas untuk mendapatkan balasannya." Khanza tidak terima disalahkan.


"Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu ingin membelanya? Kamu mau kita bertengkat juga?" lanjut Khanza tidak merasa takut sedikitpun.


"Jadi kamu menantangku!? Percaya diri sekali kamu. Kamu kira hanya kamu yang hebat disini?. Emosi Emerita semakin memuncak.


" Sudahlah Emerita kita kembali saja ke kamar"ajak Fenita, sambil menarik tangan Emerita dengan erat.


"Lepaskan Fenita urusanku belum selesai!" Emerita berusaha melepaskan cengkraman Fenita.


 


 


-


-


-


-


*Halo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya,


Mohon berikan like dan dukungan nya dan silahkan pilih episode favorite kalian, trimakasih.*


 


 

__ADS_1


__ADS_2