
"Namaku Azura" ucap gadis kecil itu memperkenalkan diri.
Khanza hanya diam saja.
"kakak kenapa bisa ada di dunia ini?" tanya Azura.
"Entahlah ada seseorang Nenek yang tanpa alasan jelas membawa aku kesini. Nenek yang sok ramah menjebakku disini selama dua puluh sembilan hari. Aku harus mengumpulkan tiga buah potongan Berlian untuk dapat kembali," jawab Khanza.
"kenapa Kakak bisa di bawa kesini ya? Apa salah kakak sampai di antar, bahkan oleh Nenek Rosselin sendiri?. Padahal menurut ku kakak baik sekali." komentar Azura dengan wajah serius.
"kakak tenang saja. Kakak pasti bisa mendapatkan tiga buah potongan Berlian itu dengan mudah karena kakak adalah orang yang baik." ujar Azura.
Khanza tersenyum bangga dengan yang telah di ucaokan oleh Azura. Ni
'itu pasti' ' ucap Khanza dalam hati.
"Kak Heny!" panggil Azura setiba di depan pondok Kilau.
Seseorang berumur sekitar dua puluhan itu menoleh.
"Hai Azura. Kamu dari mana saja? Kehujanan? Cepet ganti bajunya dulu."
Azura hanya mengangguk. "Oya kak, aku datang bersama seorang gadis yang beberapa waktu lalu djbicarakan oleh Nenek Rosselin." kta Azura.
Kak Heny memandang Khanza, lalu tersenyum.
"Halo" sapa Khanza pada wanita pengurus pondok Kilau.
"Namaku Khanza Zahara." ucap Khanza sambil menjulurkan tangan kanan nya.
"Selamat datang Khanza" kak Heny tersenyum ramah sambil membalas salaman dari Khanza.
"Terima kasih." jawab Khanza.
"kak Khanza, aku pergi dulu ya!" ujar Azura sambil tersenyum lebar.
Iya pergi saja sana mengganggu saja
__ADS_1
Ucap Khanza dalam hati memandang tidak senang.
"bajumu juga kotor dan basah. Mari ku antar ke dalam." kata kak Heny.
\==================================================
"ini kamarmu nomor 29."ujar kak Heny ketika berhenti didepan kamar no 29.
Khanza hanya mengangguk.
" Hallo! "sapa dua orang gadis sebaya Khanza serempak dari dalam kamar.
Kak Heny tersenyum." kamu akan sekamar bersama mereka" ujar kak Heny.
"Oh.." jawab Khanza. "Namaku Khanza Zahara."
"aku Fenita dan yang di sebelah ku ini, Emerita," ucap gadis berambut pendek.
"Baiklah selamat memulai kehidupan mu di sini. Aku harus pergi. Sampai jumpa." ucap kak Heny kemudian berlalu.
Khanza menyapu pandangan ke seluruh sisi samar. Tidak ada yang istimewa. Bahkan sederhana sekali. Tempat tidur nya terbuat dari kayu yang terlihat kusam. Lemari pakaian nya juga begitu. Khanza tidak yakin bisa bertahan. Tidak ada televisi, tidak ada komputer.
"ada apa?" tanya Fenita yang memperhatikan ekspresi Khanza.
"kamu yakin aku harus tinggal disni? Selama dua puluh sembilan hari di kamar ini? Tidak ada kah tempat yang lebih layak untuku?" tanya Khanza memandangi sisi kamar.
Emerita langsung menatap Khanza tajam. Fenita hanya sedikit terkejut.
"Hmm.. Aku hanya tidak yakin bisa bertahan dengan kamar yang seperti ini. Kalian bahkan tidak memakai kan sarung bantal dan gulingnya. Semuanya kuno." lanjut khamza.
"TIDAK TAU TERIMA KASIH! Yang penting, kamu itu bisa tidur dan bertahan hidup. Masih untung kamu punya tempat tinggal. Berhenti menghina kamar kami," jawab Emerita tidak terima sambil menatap tajam.
__ADS_1
Khanza tidak peduli. Tapi keluhanya tidak bisa dia lanjutkan, tiba-tiba saja kepala Khanza berat. Sekelilingnya terasa berputar. Pusing sekali. Gadis itu berpegangan pada dinding yang ada didekatnya.
Apa yang terjadi? Apa aku.. Baru saja kehilangan potongan berlian?
Tidak lama, Khanza merasa kan pusing itu. Satu menit kemudian semuanya kembali Normal.
"kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Emerita dengan emosi yang sudah menurun.
"sudahlah kamu boleh mengubah kamar ini sesuai yang kamu mau. Tapi lakukanlah sendiri. Jangan meminta kepada kami." ucap Fenita pada Khanza.
Khanza hanya diam.
"kita keluar saja yuk. Cari udara segar." ajak Fenita.
Fenita berjalan keluar kamar. Emerita mengikuti Fenita dari belakang. Dan Khanza dengan langkah pelan, juga berjalan keluar.
"pondok kilau ini memiliki 3 lantai, dan empat puluh sembilan kamar. Enam belas kamar lantai satu itu untuk para pengurus pondok kilau,ruang makan, ruang berkumpul, dan banyak lainnya. Sedangkan lantai dua ini terdapat tiga belas kamar untuk perempuan golongan anak remaja. Dan lantai tiga untuk laki-laki golongan anak anak dan remaja. " Fenita menjelaskan.
" aku sudah tau. Kamu kira kak Heny tidak menjelaskan padaku tadi? Atau kamu pikir ingatanku begitu tumpul? " jawab Khanza.
Fenita menatap Khanza penuh makna. Sambil berbisik di dalam hatinya.
Aku sudah mendengar banyak tentang orang orang yang dikirim kesini karena sifat buruk yang ada pada diri mereka masing-masing. Kukira, aku sudah banyak tau dan mengerti mereka mengenai sifat buruk mereka. Tidak kusangka ketika benar-benar berhadapan dengan mereka, mereka sungguh membuat kesabaran habis.
"Kita mau kemana lagi kali ini?" tanya Khanza.
"Kita kehalaman belakang saja," jawab Fenita
"pasti mereka sedang berkumpul" sambungnya.
Ketiga gadis itu menuruni tangga, lalu berjalan menuju belakang pondok Kilau. Halaman itu amat luas dipenuhi dengan pohon pohon besar, beserta bangku yang ada di bawahnya.
__ADS_1
"Hei kalian!" panggil seseorang dari sebelah kanan.