
Saat Khanza melepaskan pijakan kaki di bangunan tua itu, tanah tiba-tiba bergetar. Khanza membalikkan badanya. Dilihat nya bangunan itu perlahan tenggelam ke dalam tanah.
"selamat datang di Negari Berlian." ucap seseorang dari belakang Khanza.
Khanza tersentak seketika membalikan badan. Dilihatnya seorang nenek yang berusia lanjut
"siapa kamu? Mau apa kamu?" tanya Khanza.
Nenek itu tersenyum hangat. "aku akan menjelaskan tentang peraturan main nya kepada mu." jawab sang nenek itu.
"kamu akan habiskan selama dua puluh sembilan hari dengan perjalanan tidak biasa." jelas Nenek itu.
"Negeri Berlian? Dua puluh sembilan hari? Perjalanan tidak biasa? Apa maksud dari semua itu? Dimana aku sekarang? Siapa kamu?" ujar Khanza yang melontarkan beribu pertanyaan kepada sang Nenek.
"ini Negeri Berlian. Selama dua puluh sembilan hari, kamu akan melakukan....," ucapan sang Nenek tersebut di potong oleh Khanza.
"untuk apa? Untuk apa aku berada di sini? Atas dasar apa kamu? Mengapa kamu mengirimku kesini? Apa maumu? Kembalikan. Kembali kan aku kedunia ku. Aku mau pulang!" bentak khanza kepada Nenek itu.
Khanza sudah keringat dingin menerima keanehan ini, tetapi Khanza masih mempunyai keberanian untuk protes atas dasar apa Nenek itu mengirimnya kedunia yang aneh ini.
" kumpulkan lah tiga potongan Berlian jika kamu ingin kembali ke dunia nyata mu itu." jawab sang Nenek.
__ADS_1
"potongan Berlian? Dari mana aku dapat menemukan potongan - potongan Berlian itu?." tanya Khanza.
"dengan munculnya kamu disni secara tidak langsung ruang rahasia tempat dua puluh sembilan potongan Berlian milik mu sudah aktif. selamanya terkunci dan tidak ada seorang pun yang bisa untuk mendekatinya. Jika kamu membuat seseorang amat bahagia, rasa terima kasih nya akan di tunjukan melalui potongan Berlian tersebut. Ketika orang itu bahagia karena kamu, sebuah potongan Berlian akan berkilau dan lepas dari ruang rahasia, berpindah menuju kepada orang yang telah kamu bahagia kan. Nanti nya orang itu akan menyerah kan potongan Berlian itu kepada mu. " jelas sang Nenek.
Khanza merenung mencoba untuk memahami yang telah di ucap kan oleh sang Nenek.
" apakah hanya tiga potongan Berlian? " tanya Khanza.
" ya, benar. Hanya tiga potongan Berlian kamu merasa ini sangat lah mudah? Baguslah. " ujar sang Nenek.
Khanza tersenyum bangga. 'hanya tiga potongan Berlian dari dua puluh sembilan potongan Berlian. Mudah sekali bukan.? '
" ah iya ada satu hal lagi. Jika kamu membuat seseorang kesal, maka kamu akan kehilangan satu potongan Berlian. Jangan sampai karena sikap tidak baik mu terhadap orang lain itu, kamu kehabisan potongan Berlian." ujar sang nenek.
" Bagaimana kalau aku kehabisan potongan Berlian itu? Bagaimana jika aku gagal? "tanya Khanza.
" maka kamu tidak akan pernah bisa untuk kembali ke duniamu" jawab sang nenek
Khanza terperangah dengan apa yang telah di ucapkan oleh sang Nenek tersebut.
__ADS_1
"Tidak!. Tidak boleh begitu! Aku harus kembali. Aku juga mempunyai kehidupan di duniaku. Jika aku tidak kembali, apa yang terjadi pada diri kudi dunia nyata? Apakah akan menghilang? Lenyap? Hilang tanpa jejak? Bagaikan di telan bumi?. Tanya khanza dengan panik.
"selesai kan saja apa yang sudah menjadi tugas mu nak." jawab sang Nenek dengan lembut.
"ohh iya, kamu selama dua puluh sembilan hari akan tinggal di pondok kilau. Kamu tidak akan kesepian disana, karena ada banyak orang baik disana." ujar sang Nenek.
Khanza diam diri di tempat. Khanza mencoba mencerna, mencoba memahami kata kata yang telah di keluar kan dari mulut sang Nenek.
" ahh ada satu hal lagi yang ingin aku beritahu, kamu juga bisa mengetahui potongan Berlian mu pecah atau tidak. Saat kamu merasa kepala mu amat berat dan pusing, saat itu juga kamu baru saja kehilangan satu potongan Berlian." papar sang nenek.
"baik lah hanya itu saja yang ingin ku beritahu, selamat menikmati perjalanan mu. Semoga kamu dapat banyak pelajaran, dari perjalanan mu ini." ujar sang Nenek.
Nenek itu berjalan vepat ke belakang hutan.
Beberapa menit kemudian, Khanza termenung.
"tunggu.... Tunggu dulu pondok Kilau? Pondok itu berada di mana?" tanya Khanza, kepada sang Nenek yang sudah tak terlihat lagi.
Khanza menatap sekelilingnya. Disebelah kiri dan kanan di penuhi dengan pohon-pohon gang besar.
__ADS_1
Lalu gadis itu berjalan melangkah kedepan.