
Khanza perlahan berunah menjadi Khanza yang dahulu.
'aku tidak mau bersusah susah berbuat baik untuk orang yang bahkanbtidak pernah baik kepada diriku. Aku merasa bahwa ini semua sia sia saja, yang kulakukan sia sia. Pada akhirnya pun aku akan terus menetap disini. Aku memang sudah ditakdirkan untuk itu,'. Ucap Khanza dalam hati.
Lima hari sudah terlewati, dilalui Khanza dengan membangun kembali sifat sifat lamanya. Membiarkan pikiran Negatif nyaa menyerang. Membiarkan hati nya untuk mengaluh. Membiarkan mulut nya mengejek apa sajabyang tidak iaa suka, membiarkan emosinya dikeluarkan tanpa peduli terhadap perasaan orang lain.
Khanza juga mulai berr masalah dengan banyak orang. Bertengkar meributkan apa saja. Terutama, jika iia berada di dapur. Amat sering berdebat dengan kak Yenita. Orang orang dii sekitar nya merasaaneh dengan perubahan sifat dan sikap pada Khanza yang mendadak berubah.
Tidak mengerti dan terus bertanya tanya :Bukankah gadis itu sudah berubah lebih baik, kenapa kembali menjadi seperti itu?.
Khanza tau orang orang yang menggosipkannya, tapi dia tidak peduli. Dia akan menghapus tekad untuk kembali ke dunia nya, dunia nyata. Dia juga tidak perduli dengan potongan berlian.
Dia akan menghapus semua mimpi nya untuk pulang. Itu mustahil, mengingat waktu nya yang akan habis pula dalam tiga hari.
Siang ini, Khanza keluar dari ruang makan dengan wajah yang begitu kesal. Dia bermasalah lagi dengan kak Yenita. Diam diam Zeyn mengikuti Khanza dari belakang.
Khanza berjalan penuh dengan emosi, seperti biasa hendak menuju halaman belakang. Ketika melihat Nenek Roselin sedang berjalan menuju arah rumahnya, dia mengikuti.
Khanza terus mengikutinya, sampai tibalah mereka di tembok besar.
"Nenek!" panggil Khanza, lebih tepatnya membentak.
Nenek Roselin menoleh.
__ADS_1
"Nenek jahat sekali! Nenek pembohong! Semua orang disini juga jahat dan pembohong. Nenek pernah bilang kalau aku bisa kembali setelah mengumpulkan tiga potongan Berlian dan untuk mendapatkan nya aku harus bersikap baik dan membuat mereka senang kan?" ucap Khanza protes.
Nenek diam. Ingin Khanza melanjutkan bicaranya.
" Aku sudah bersikap amat baik, Nek. Aku juga sudah menyenangkan hati mereka. Tapi, mereka tidak juga menyerahkan potongan berlian itu. Mereka jahat! Kalau begini terus, aku harus bagaimana untuk pulanh? Sebenarnya, sejak awal aku memang tidak akan bisa pulang kan? Kalian saja yang berpura-pura! ". Khanza mengadukan semuanya.
" Jadi selama ini, kamu bersikap baik hanya untuk dirimu sendiri? Hanya sesaat untuk menyelamatkan diri sendiri? Jadi setelah kamu kembali, kamu akan menjadi Khanza Khanza dengan segala keburukan kamu? Kalau hanya itu untuk apa aku membawa muke sini," Nenek Roselin menatap Khanza penuh makna.
Khanza tercekat.
" Selama ini kamu hanya menahan diri untuk tidak bersikap buruk dan memaksa kan diri bersikap baik, tanpa mengerti makna nya? Begitu? "Nenek Roselin meninggikan suara nya.
Khanza terhenyak." Tidak. Tidak seperti itu juga. Aku....... "
Khanza tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Lidah nya tiba tiba beku.
"Kalau berusaha keras hanya untuk dirimu sendiri, kamu memang tidak akan pernah mendapatkan nya." ucap Nenek Roselin, lalu pergi.
Khanza gemetar.
Mendengar ucapan Nenek, menatap ekspresi Nenek, entah bagaimana hatinya luluh. Akhirnya, dia bisa menyadari. Dia mengerti alasan Nenek Roselin membawanya keduania ini. Dan seketika, hatinya merasa amat bersalah.
Khanza jatuh terduduk.
__ADS_1
.
.
.
* \~typo bertebaran\~*
**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **
Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian
**Terimakasih
__ADS_1