Glitter Of Diamonds

Glitter Of Diamonds
Episode 32


__ADS_3

Berry berlari masuk ke bangunan, lewat pintu besar yang setengah nya sudah lenyap dalam tanah.


Khanza dan Zeyn menunggu penuh cemass sambil berjalan mendekat.


Beberapa detik berlalu. Bangunan itu berhenti bergerak.


Berry melambaikan tangan, sambil berteriak memanggil.


Zeyn dan Khanza langsung berlari menghampiri.


"Dugaan ku benar kan? Bangunan ini akan diam jika merasa kan keberadaan seseorang di dalamnya. Kurasa.. Penyebab bangunan ini bisa ke luar juga karena gempa hebat tadi." ucap Berry.


Khanza dan Zeyn tersenyum. Masuk akal.


Zeyn menatap sekeliling.


"Hei, itukah berlian biru yang di maksud?" ujar Khanza, sambil menunjuk.


Zeyn dan Berry mengarah kan pandangan kepada benda jauh yang di tunjuk Khanza


Ketiga nya menghampiri.


"Sepertinya memang ini," jawab Khanza sambil mengambil berlian itu. Seketika, tanah bergetar lagi. Bagunan itu kembali bergerak kebawah.


"Kita harus cepat keluar," ujar Zeyn.


Zeyn menarik lengan Khanza, lalu berlari keluar bersama Berry.


Mereka berhasil ke luar dengan mudah. Ketiga nya menatap bangunan tua itu.


"Bangunan itu benar-benar akan menghilang," Komentar Berry.


"Dan,kita orang yang terakhir kali melihat nya." Sahut Khanza.


"Kita harus cepat kembali untuk memasang berlian itu, ayo!" seru Zeyn.


 


💎💎💎💎💎💎💎💎💎

__ADS_1


Khanza, Zeyn dan Berry sudah berada sekitar lima meter di depan potongan berlian hitam cadangan. Khanza berjalan mendekati, tapi tiba-tiba tanah bergetar hebat. Potongan berlian cadangan itu pecah. Langit menjadi gelap suasana kembali mencekam.


Khanza berysaha berjalan mendekat, tapi justru terjaturh. Beberapa saat setelah gempa, angin besar menerjang kembali. Berry dan Zeyn terdorong agak jauh.


Khanza diam sejenak. Kemudian, bangkit berdiri dan berlari menghampiri, tapi angin besar kembali menghalang. Gadis itu terdorong agak jauh. Dan, berhenti dengan menabrak pohon besar. Kepalanya terbentur lumayan kuat


Zeyn dan Berry buru buru bangkit. Hendak menghampiri Khanza, tapi Khanza langsung bangkit sendiri.


1


'Berlian biru ada di tangan ku. Keselamatan banyak orang ada di dalam genggam manku,' ucap Khanza dalam hati.


'aku harus bisa melakukan nya. Aku harus menyelesaikan dengan amat baik' lanjut nya.


Khanza berjalan pelan, perlahan semakin cepat, lebih cepat. Lalu, memaksakan kaki nya untuk berlari. Hingga dia benar-benar tiba di depan tongkat penyangga. Dia langsung mengulurkan tangan dan memasang berlian biru dalam genggaman nya.


Dalam beberapa detik, keadaan kembali normal. Khanza tersenyum lebar. Begitu pula Zeyn dan Berr.


 


💎 💎 💎 💎 💎 💎 💎 💎 💎


 


Mereka membangun tanda tenda. Untuk beberapa waktu, mereka akan tidur di sana sampai pembangunan selesai.


Khanza duduk termenung didepan salah satu tenda kecil. Dia yeringat Nenek Roselin. Nenek Roselin yang tidak terselamat kan nyaea nya.


'Orang yang gagal mengalami 29 hari seperti perkataan Zeyn dulu, apa itu Berry? Berry gagal mengumpulkan tiga potongan berlian, lalu menetap disini.? Tapi, di saat terakhir, Nenek Roselin bilang kalau sebenarnya Berry tidak benar benar menetap disini, dia punya waktu tambahan. Lalu, bagaimana dengan ku? Kenapa Nenek tidak menjelaskan apa pun kepada ku? 'ujar Khanza dalam hati bingung.


' tidak apa. Aku tidak akan menyerah. Di manapun hudup, aku harus menjalani nya dengan kebaikan. Aku harus menjadi orang baik dan selalu baik. Setidaknya dari semua ini, aku mendapatkan pelajaran, 'lanjuta nya sambil merajut senyum.


Fenita, Emerita, Azura, Berry dan Zeyn tiba tiba menghampiri.


"Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa menyendiri disini?" Tanya Fenita sambil menepuk bahu Khanza.


Khanza menoleh. "Eh, hm, tidak. Bukan apa-apa."


Kelima nya duduk berbentuk lingkaran.

__ADS_1


"Maaf Khanza. Aku yang membuat mu gagal. Aku yang menghancurkan kesempatan mu untuk kembali. Aku menyesal. Aku sungguh tidak tahu kalau ternyata Nenek Roselin juga sedang memberikan aku kesempatan kedua." Ujar Berry sambil menundukan kepala nya.


Khanza memang sudah mengikhlas kan semua nya, tersenyum." Tidak apa-apa. Ini memang sudah takdirku. Salahku juga telah memancing emosimu saat itu. " jawab Khanza.


" Kamu sungguh memaafkan ku? "Berry tidak percaya.


Khanza tersenyum lagi dan mengangguk.


" Kamu tidak sedang berpura-pura pura kan? Kamu tidak akan membalas dendam kan? "tanya Berry yidak percaya.


" Aku ini tidak seperti mu, "Jawab Khanza kemudian terkekeh.


Berry menatap Khanza terharu." Terima kasih banyak. "


Khanza tersenyum malu." Bukan masalah. "jawab nya santai.


Kelimanya tersenyum. Menyadari hikmah dari kejadian kejadian itu.


" Kak Khanza aku punya sesuatu untuk mu, "Ujar Azura, sambil merogoh saku rok nya. Seperti yang di lakukan nya saat hendak memberikan potongan berlian pertama dahulu.


" Ada apa? "tanya Khanza penasaran.


.


.


.


.


* \~typo bertebaran\~*


**Hallo readers ini adalah novel pertama author maaf jika ada kesalahan typo atau yang lainnya. **


Beri like dan favorite kan episode kesukaan kalian


 


**Terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2