Glory After Rebirth

Glory After Rebirth
Chapter 74. Gawat! Kura-Kura Dunia Bangkit


__ADS_3

Terlihat saat ini makhluk kura kura raksasa mengangkat kaki kiri depannya ke atas dan menurunkannya secara perlahan-lahan membuat hempasan angin yang luar biasa kuat menerbangkan semua pohon yang ada di bawahnya bahkan angin yang tercipta karena hal itu mampu membuat seluruh dunia bergetar dengan sangat hebat dan gempa bumi terjadi di mana-mana.


Jelas bahwa menghadapi makhluk yang kekuatannya lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya sendiri adalah sebuah kesalahan besar. Terlihat meskipun Wang Xiang saat ini berada di atas kepala makhluk itu dia masih bisa merasakan kekuatan yang sangat besar menekannya, bahkan dirinya merasa akan jatuh jika tidak menahan keseimbangan yang dia miliki di atas kepala Makhluk itu.


"Tidak aku tidak bisa berada di sini terus-menerus atau semua orang yang ada di bawah sana akan mati" Ujar Wang Xiang. Sebenarnya bukan hanya karena ingin melindungi semua orang yang berasal dari dunia itu melainkan semakin lama Wang Xiang berada di atas kepala makhluk kura-kura raksasa dirinya juga ditempatkan dalam situasi yang tidak aman.


Hujan halilintar berjatuhan dan menyambar ke seluruh tubuh makhluk kura-kura dari atas langit yang mana membuat bagian atas kura-kura itu terlihat seperti bercahaya saking banyaknya petir yang menyambar ke tubuhnya.


Meskipun saat ini Wang Xiang menjatuhkan dirinya ke daratan, akan tetapi dia akan membutuhkan banyak waktu untuk mencapai daratan dengan ketinggian saat ini.


Wang Xiang mengeluarkan kemampuannya untuk menambah kecepatan agar dia bisa bergerak dengan cepat di udara dan segera sampai di mana semua orang saat ini sedang berusaha bertahan dari hempasan angin yang sangat kuat.


Meskipun jaraknya mencapai ratusan kilometer akan tetapi hempasan angin dari satu langkah kaki yang dilakukan oleh makhluk kura-kura raksasa itu mampu membuat semua orang terbang terpelanting sangat jauh bersamaan dengan pohon-pohon yang hutan yang turut roboh akibat hempasan dan guncangan kekuatan yang sangat besar.

__ADS_1


Karena hal itulah sebagian orang yang sebelumnya melancarkan serangan terhadap kaki kanan makhluk kura-kura itu terbunuh tanpa bisa melakukan perlawanan.


Sementara itu di tempat lain terlihat Rudra, Siris dan Fiko yang mana ketiganya sama sama bersembunyi di balik pepohonan yang tumbang, seluruh tubuh mereka bergetar dengan sangat hebat setelah merasakan sendiri sekuat apa makhluk yang telah mereka singgung sebelumnya.


Entah kenapa saat ini mereka bertiga terlihat lebih kompak bandingkan sebelumnya Yang mana sebelumnya mereka bertiga selalu mempermasalahkan hal-hal yang terjadi bahkan hal kecil sekalipun, dan sekarang terlihat bahwa ketika orang itu tidak hanya akur bahkan ketiganya sangat kompak dan serasi dalam melakukan setiap gerakan yang sebenarnya tidak mereka sadari.


"Aku ingin pulang dan tidur dengan nyaman di tempat tidurku, Aku tidak pernah menginginkan hari ini terjadi dan Aku harap semua yang terjadi adalah mimpi" Ujar Siris, dengan tubuh anak-anak dan jiwa seorang kakek terlihat siris sangat ketakutan bahkan dirinya adalah yang paling takut dibandingkan dengan Rudra dan Fiko.


"Seharusnya aku tidak pernah mengikuti kalian pergi ke sini karena mengikuti kalian sama saja dengan menjemput bencana besar" Ujar Fiko yang mana tubuhnya juga sama bergetar dengan yang lain tapi terlihat Fiko masih memiliki kesadaran dibandingkan dengan 2 temannya yang terlihat mulai kehilangan kewarasan mereka setelah melihat kekuatan besar yang ditunjukkan oleh makhluk kura-kura raksasa.


Ketika berpikir demikian tiba-tiba mereka bisa merasakan bahwa cahaya yang sebelumnya menyinari tubuh mereka redup seketika, Mereka melihat ke atas dan menemukan bahwa kaki kanan makhluk kura-kura raksasa telah terangkat dan siap dijatuhkan tepat ke atas mereka.


Ya tepat di atas kepala mereka yang mana hal itu membuat mereka bertiga berteriak dengan histeris, berpikir akan mati dengan radius serangan yang memiliki ukuran sangat besar mereka tidak akan mungkin bisa pergi menyelamatkan diri mereka dan saat ini harapan yang mereka miliki hanyalah dilahirkan kembali sebagai tanah agar tidak merasakan penderitaan di kehidupannya.

__ADS_1


"Kakek Rudra, Kakek Siris, maaf karena sesungguhnya aku telah mengganggu kalian berdua bahkan aku telah menjelek jelekan kalian, bahkan aku menganggap kalian sebagai orang yang bodoh yang hanya bisa bersembunyi dibalik atap rumah yang sangat buruk dan tercium bau bangkai, maafkan aku juga karena sebelumnya aku pernah membakar rumah kakek Rudra dan membuatnya bekerja sendirian mendirikan rumah baru di tempat lain" Ujar Fiko mengatakan penyesalan  terakhirnya.


"Aku juga minta maaf padamu Rudra karena sebelumnya setelah kau mendirikan rumah baru aku mencuri beberapa pondasi utama dari rumah barumu dan membuatnya roboh sehingga kau harus membangun ulang rumahmu, selain itu aku juga orang yang sering membuang sampah di dekat rumahmu agar aku bisa berbagi bau sampah denganmu" Ujar Siris kali ini terlihat di wajah anak kecil itu sebuah penyesalan. Penyesalan yang sangat besar karena dia harus mengakui Apa yang dia lakukan terhadap Rudra selama ini dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rudra benar benar tidak enak untuk dipandang menatap mereka berdua.


"Kalian berdua, sudah aku duga kalian adalah pelaku dari rumahku yang terbakar dan roboh saat itu, apakah kalian tahu aku bekerja sangat keras untuk membangun rumah dan melupakan apa yang seharusnya aku lakukan, sebelum kaki makhluk itu menginjak kita sampai mati aku ingin membunuh kalian berdua dengan tanganku sendiri" Ujar Rudra melompat ke arah Siris dan Fiko dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya, anak itu mengarahkan pukulan yang dialiri oleh Danqi yang luar biasa kuat ke arah dua rekannya berharap mereka bisa mati dengan satu pukulan yang dia lancarkan.


"Kami sudah siap menerima kematian ini, Mungkin memang lebih baik mati ditanganmu dibandingkan dengan mati di kaki raksasa ini, banyaknya kematian kami berada jauh di atasmu karena kami mati di tangan sedangkan kau mati di kaki" Ujar Siris yang mana hal itu membuat Rudra menghentikan langkahnya sebelum pukulannya mendarat tepat di tubuh rekannya.


"Kalian berdua jangan coba coba mempermainkanku, aku benar benar akan membunuh kalian tapi bukan dengan tanganku tapi dengan pantatku, aku yakin kalian tidak akan bisa menghindarinya" Ujar Rudra dengan emosi sambil memegang kerah baju Siris dan menguncang guncangkan anak itu.


"Meskipun aku mati, tapi aku cukup senang melihat kebodohan kalian berdua tetap tidak berubah" Ujar Fiko yang mana menatap ke arah Rudra dan Siris sambil menundukkan kepalanya seperti seseorang yang sedang berduka cita akan sesuatu.


"Anak kecil sepertimu memang harus dihabisi terlebih dahulu!" Ujar Rudra dan Siris serempak sambil melompat ke arah Fiko.

__ADS_1


__ADS_2