Glory After Rebirth

Glory After Rebirth
Chapter 77. Sambutan Yang Aneh


__ADS_3

Pasukan dalam jumlah yang sangat besar telah berhasil disiapkan sebagai langkah awal untuk menyelamatkan dunia, rencana mereka adalah mengirim semua pasukan itu untuk menghentikan pergerakan dari makhluk kura kura dan pasukan besar itu dipimpin oleh Ardi si Anak Pengacau yang membawa lebih dari lima puluh ribu pasukan.


Hanya itu yang bisa dia bawa saat ini karena pemimpin kota melarangnya membawa terlalu banyak orang dengan alasan karena saat ini masih banyak persiapan yang belum matang untuk melakukan serangan.


Jumlah lima puluh ribu orang memang jumlah yang tidak sedikit tapi tetap saja dengan jumlah itu mereka tidak akan mampu untuk menghadapi makhluk kura kura yang bahkan sudah berada jauh dari tingkat kaisar langit.


Jumlah sebanyak itu masih kurang untuk menghadapinya dengan kemampuan regenerasi, pertahanan dan serangan yang bahkan seorang kaisar dunia sekalipun kesulitan untuk menghadapinya.


Keputusan yang diambil oleh pemimpin kota bukan tanpa pertimbangan, saat ini mereka berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, akan lebih baik mengirim beberapa orang dibanding dengan mengirim mereka semua sekaligus karena mereka bukan dikirim untuk menghentikan makhluk kura-kura raksasa melainkan dikirim untuk menahan mereka selama mungkin menunggu pasukan bantuan datang.


Sementara gerakan pasukan dalam jumlah besar bergerak menuju kearah kura kura, empat orang bergerak memasuki kota dengan kecepatan terbaik yang mereka miliki.


Sudah dua hari semenjak kerja menempuh perjalanan dari kura kura raksasa, jauh lebih lama dibanding dengan apa yang diperkirakan oleh Wang Xiang sebelumnya bahkan Wang Xiang tidak menyangka bahwa perjalanan mereka sampai memakan waktu dua hari yang mana seharusnya dengan kecepatan yang dia miliki, dia bisa sampai di kota terdekat hanya dalam beberapa jam.

__ADS_1


Wang Xiang terlambat bukan tanpa alasan, empat orang yang dia bawa bersamanya terlalu banyak bicara dan saling serang dalam hal mental dan ejekan. Sebenarnya hal itu membuat Wang Xiang geram tapi selama kura kura raksasa belum melakukan tindakan yang besar maka semua belum terlambat.


"Apakah tempat ini masih ditinggali oleh manusia? Aku melihat tempat ini hanya terdapat reruntuhan lantas dimana orang orang?" tanya Wang Xiang yang mana hal itu buru buru dijelaskan oleh Siris sebelum Wang Xiang merasa tidak senang.


"Tuan, kami benar benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi di tempat ini sebelumnya benar benar sebuah kota. Tuan bisa melihat puing puing yang ada di sekitar sini masih baru menandakan bahwa reruntuhan ini tercipta beberapa hari yang lalu" Ujar Siris menjelaskan sambil menunjuk ke arah Wang Xiang.


"Aku sudah tahu kalau mengenai hal itu" Ujar Wang Xiang menolehkan kepalanya ke sekelilingnya sebelum sebuah senyuman terlukis di wajahnya.


"Apakah di kota ini memiliki cara penyambutan tamu yang aneh? Kenapa banyak orang yang bersembunyi dengan membawa senjata tajam di sekitar kita bahkan ada beberapa yang mengubur diri mereka di tanah?" Tanya Wang Xiang yang mana membuat Rudra Fiko dan yang lainnya terkejut, mereka ingin menanggapi tapi sebelum itu Wang Xiang menurunkan tubuhnya dan terlihat mengetuk ngeruk tanah dengan tangannya.


Ketika Wang Xiang kembali berdiri dia melihat sekelebat cahaya bergerak dengan sangat cepat mengarah kepadanya dan sesaat kemudian luka goresan terlihat di pipi kanan Wang Xiang.


Luka goresan itu memang tidak terlalu dalam tapi tetap saja membuat Wang Xiang terkejut karena meskipun dia adalah Kaisar Dunia tapi serangan itu tidak bisa dilihat dengan mudah seolah apa yang baru saja melukai dirinya adalah senjata yang bisa berkamuflase. Bahkan tidak ada Danqi yang dirasakan oleh Wang Xiang saat itu.

__ADS_1


Wang Xiang menyentuh pipi kanannya dan melihat tangannya yang terdapat noda darah sebelum dia menoleh ke belakang dan menemukan sebilah pedang menancap cukup dalam di sebuah pohon.


"Apakah aku salah, di tempat ini tidak ada orang yang tingkatannya kaisar dunia lantas darimana datangnya anak panah ini?" gumam Wang Xiang hingga secara tiba tiba dia merasakan niat membunuh yang sangat kuat terarah padanya.


"Gawat, kalian bertiga cepat pergi dari sini jika tidak ingin mati!" Ujar Wang Xiang, setelah mengatakan hal itu sekali lagi luka goresan menghiasi pipi kiri Wang Xiang tapi kali ini jauh lebih dalam dibandingkan dengan sebelumnya karena Wang Xiang kehilangan fokus ketika memperingatkan Rudra dan yang lain.


Terlihat Rudra dan yang lain melangkah mundur beberapa langkah ke belakang tapi sebelum mereka benar benar bisa pergi. Orang orang yang sebelumnya dikatakan oleh Wang Xiang keluar dan mereka mengepung Rudra dan yang lainnya.


"Semua telah direncanakan dengan baik, sebenarnya ada apa dengan mereka semua dan apa yang terjadi ditempat ini?" Gumam Wang Xiang, dia bisa melihat sejauh satu kilometer dari tempatnya berdiri saat ini seorang anak dengan busur panah yang terarah padanya.


Dengan jarak sejauh itu wajar jika Wang Xiang tidak bisa merasakan keberadaanya dan kekuatannya tapi tidak hanya itu, ternyata dari atas Wang Xiang, juga ada orang yang kekuatannya tidak jauh lebih lemah dibandingkan dengannya tengah menatapnya dengan tajam meskipun terlihat dia memiliki tubuh layaknya anak anak.


"Aku tidak akan mengatakannya dua kali, kau pilih pergi dari tempat ini atau kami akan menghabisimu!" ujar orang yang melayang di udara menatap ke arah Wang Xiang dengan tatapan tajam dan terlihat aura hitam samar samar merah menyelubungi dirinya dan semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku memiliki pilihan lain, aku tinggal di sini dan kalian harus menjelaskan apa yang terjadi pada diri kalian" Ujar Wang Xiang yang mana setelah mengatakan hal itu terlihat anak kecil yang melayang di udara mengeluarkan sebuah palu dengan ukuran yang sangat besar serta berat yang mencapai lima ratus kilogram.


Biasanya anak dengan usia yang sangat muda atau anak kecil tidak akan kuat menahan beban sebesar itu tapi terlihat jelas di depan mata Wang Xiang sendiri bahwa anak kecil itu dengan santainya memainkan palu yang ada di tangannya tanpa beban bahkan dia sempat sempatnya melemparkan palu itu dari satu tangan ke tangan yang lain.


__ADS_2