
"Anak manis itu siapa Fathia? " tanya Harra menatap ke arah Yanza dengan alis yang sudah saling bertautan.
"Dia cucu dari Nyonya Mara, kebetulan Nyonya Mara sedang keluar kota jadi Yanza untuk sementara waktu tinggal disini. Apa boleh Bu? " jawab Fathia sekigus bertanya.
"Tentu saja boleh," jawab Harra dengan tersenyum manis menanggapinya.
"Oh iya Bu, aku mau menyiapkan kamar dulu." ijin Fathia.
"Yasudah, anak manis ini biar bersama Ibu. " balas Harra sementara Fathia menggangguk lalu bergegas menuju salah satu kamar yang nampaknya sudah lama tidak terpijak oleh manusia.
Harra menatap Yanza dengan tersenyum yang di balas oleh Yanza dengan raut wajah yang sama, bocah itu lalu mendekat ke arah Harra dengan langkah kecilnya.
"Halo Nenek, apa kabar?" tanya Yanza dengan tersenyum lebar, bocah itu tentu tidak sejahat iblis karena dia akan bersikap baik dengan orang yang dia rasa pantas di hormati.
"Kabar Nenek baik, oh ya namamu Yanza ya? " jawab Harra sembari membelai rambut Yanza dengan lembut, namun tangan mungil Yanza segera menjauhkan tangan wanita tua di depanya lalu meletakanya di atas pangkuan Harra.
"Sebelumnya aku mau minta maaf Nek, bukanya aku tidak mau tangan Nenek menyentuhku tetapi aku memang tidak suka di belai karena aku bukan anak perempuan. Dan untuk pertanyaan Nenek yang tadi itu memang benar, kalau aku bernama Yanza atau lebih tepatnya Rayanza Grendia Marvous. Nenek bisa memanggilku Yanza Tampan, " jelas Yanza dengan panjang lebar sementara Harra terkekeh mendengarnya karena merasa lucu dengan penjelasan bocah di depanya itu apalagi selama menjelaskan Yanza nampak tidak bisa diam, jari-jari kecilnya terus memainkan jari milik Harra dengan kakinya yang di ayun-ayunkan dan matanya terus melihat kesana-kemari.
"Nama Nenek Margareta Rosly Harra, Yanza Tampan bisa memanggil dengan sebutan Nenek Harra." kini giliran Harra yang memperkenalkan dirinya.
"Baik Nenek Harra, oh ya aku boleh bertanya sesuatu? "
"Yanza Tampan boleh bertanya apapun kepada Nenek, "
__ADS_1
"Kenapa Nenek Harra duduk di kursi roda? sementara kedua kaki Nenek terlihat baik-baik saja. " tanya Yanza yang sedari tadi otaknya terus memikirkan tentang alasan Harra kenapa duduk di kursi roda.
Harra nampak diam sesaat namun bibirnya kembali mengukir sebuah senyum manis "Dulu Nenek pernah kecelakaan, jadi sekarang kaki Nenek mengalami kelumpuhan. "
Yanza hanya mengganggukan kepalanya tanda paham, sementara di ruangan yang barusan Fathia masuki kini terdapat kepala menyembul keluar karena merasa penasaran dengan obrolan ibunya dan majikanya. Fathia kini sudah bernafas lega karena Yanza dapat menjaga sikap walau tadi sempat di buat takut atas pertanyaan Yanza tentang kondisi Harra, dia takut jika ibunya akan merasa sedih karena harus mengingat kembali tragedi kecelakaan lima tahun silam. Tapi beruntung Harra terlihat tegar saat menjawab pertanyaan bocah kecil itu.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Certi tengah duduk di ranjang milik Leyza, setelah menceritakan tentang kejadian yang barusan dirinya alami kini Certi mulai mengolok-olok atas tingkah laku Yanza beserta Fathia barusan.
"Lihat saja nanti jika kelak anaku yang cantik sudah menjadi Nyonya di rumah ini, aku akan memecatnya! " ucapnya dengan menggebu-gebu sementara Leyza terus mengusap-usap punggung gembul milik sang ibu.
"Ibu, tenanglah karena kita harus bermain dengan cantik agar keluarga Marvous lambat laun bisa terperdaya dengan kita. " jelas Leyza.
Leyza hanya diam tanpa berniat untuk menanggapi keluhan sang ibu, dia hanya ingin fokus ke satu tujuanya selama ini. Yaitu menjadi istri dari Rodeniale Arson Marvous.
"Ibu istirahatlah," ujar Leyza seraya bangkit yang membuat Certi seketika mengernyitkan dahinya.
"Mau kemana kau Leyza? " tanya Cerii sementara Leyza seketika menoleh ke arah ibunda.
"Tentu saja aku ingin menemui Yanza calon anak tiriku," jawab Leyza dengan penuh percaya diri namun Certi justru berdecih.
"Walau-pun kau mencarinya sampai ke seluruh rumah ini, kau tidak akan menemukanya Leyza. " ujar Certi.
__ADS_1
"Maksud Ibu apa. aku tidak akan menemukanya?" tanya Leyza tidak mengerti
"Leyza, bocah itu sudah pergi dengan guru rendahan itu. Lagi pula apa kau tidak sadar Leyza? bahwa anak itu susah untuk di bujuk seperti apapun itu jadi lebih baik kau berhenti menggunakan cara ini. " nasihat Certi yang membuat Leyza mencebik kesal, baginya mencari cara lain itu sungguh sulit apalagi otaknya itu tidak sepintar otak Ibunya.
"Ck, aku hanya bisa menggunakan cara ini Ibu." ujar Leyza yang kembali duduk di atas ranjang miliknya namun posisi dia duduk berjauhan dengan Certi karena merasa kesal.
"Bagaimana caranya Ibu memberitahu-mu Leyza? kalau posisi dudukmu saja sejauh itu," ucap Certi dengan nada kesal, sementara Leyza segera mendekatkan dirinya ke samping Certi walau ekpresi wajahnya masih di tekuk menandakan jika dia masih kesal.
Certi terdiam untuk sebentar, karena rencananya kali ini membutuhkan biaya padahal dia sangat anti mengeluarkan uang namun karena ini demi sebuah kebaikan akhirnya Certi mulai menjelaskan semuanya.
"Apa!? Ibu sudah gila ya? aku tidak mau jika nanti aku sampai terluka, apalagi kalau kulit putih mulus ku ini sampai tergores sedikit-pun aku tidak akan mau." Leyza menolak dengan keras dengan ide Certi yang jelas-jelas akan dia tolak mentah-mentah.
"Leyza dengarkan ibu dulu, lagi pula memangnya Ibu sekejam itu? membiarkan anak cantiku ini sampai terluka. " ucap Certi berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran negatif Leyza.
Leyza menoleh dan Certi langsung menjelaskan sampai sedetail-detailnya, kini Certi sudah tidak merasa sungkan lagi untuk menjalankan ide gilanya karena dia rasa hanya perlu meminta uang kepada Mara. Toh Mara adalah orang kaya raya.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
"Tuan Muda, ini kamar untukmu. Dan aku tidak mau mendengar keluh kesah darimu karena aku tidak sudi membuat perasaan berharga miliku ini terluka begitu saja, " ujar Fathia dengan nada tegas.
"Hm, baiklah dan lagi pula aku sedang malas membuat kepalamu itu mengeluarkan tanduk jelek. " ucap Yanza menanggapi gertakan Fathia barusan dengan santai.
Kaki mungilnya berjalan masuk ke dalam kamar tidur sementara untuknya, kamar itu tidaklah buruk. Dengan dindingnya yang bercat kuning keju dengan plafon berwarna putih bercorak bunga, barang-barangnya juga cukup bagus dengan kasur yang di sampingnya terdapat jendela.
__ADS_1
Fathia juga ikut melangkah dengan tanganya yang langsung membuka lemari kayu dengan sebuah cermin tertempel di sana, di dalam lemari itu sudah ada baju-baju milik Yanza yang tidak terlalu banyak karena lusa Yanza pasti akan kembali ke rumahnya.