Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 21 | Di Luar Kepala


__ADS_3

Di ruang tamu keluarga Marvous telah berkumpul Sondrik Certi dan Leyza, dua perempuan itu datang untuk menemui Mara yang baru saja mendapatkan kabar kalau cucunya telah hilang. Sementara Sondrik hanya diam saja sembari menyesap rokok yang tinggal setengah itu.


Jujur saja, Son tidak terlalu suka dengan drama di depanya ini. Tapi apalah daya ketika istrinya memaksa untuk ikut dan bersandiwara di depan kakak iparnya.


"Tenang ya Mar, Arson pasti segera menemukan keberadaan Yanza." ucap Certi mencoba untuk menenangkan sembari merangkul Mara.


"Betul kata Ibu, Tante jangan sedih lagi ya? kalo Tante sedih Leyza jadi ikutan sedih." timpal Leyza dengan mimik wajah yang di buat sesedih mungkin, padahal di dalam hatinya ia sungguh bahagia sekali karena selama Yanza tidak ada. Dirinya bisa tinggal di rumah megah bak istana sekaligus mencoba untuk merayu-rayu Mara agar merestuinya dan bersikap manis kepada Arson dengan harap-harap pria idamanya akan terpesona.


"Terimakasih Cer dan kamu juga Leyza, aku gak tau lagi harus gimana. Tapi untungnya aku masih punya kalian, sekali lagi aku berterimakasih sebanyak-banyaknya." ungkap Mara dengan haru, sungguh wanita yang usianya setengah abad tersebut sangat memercayai keluarga dari mendiang suaminya itu. Tak perduli walau di mata mereka hanya ada uang dan uang.


"Gak usah sampai sebegitunya Mar, aku sama anaku iklas menjadi tempat bersandar-mu." ucap Certi dengan penuh dusta.


Leyza yang mendengar itu langsung mengangguk menimpali. "Kapanpun Tante butuh, kita sebagai keluarga akan siap siaga membantu."


Son yang sedari tadi mendengar celotehan-celotehan anak dan istrinya hanya tersenyum hambar saja sembari membuang rokok yang telah habis ia hisap ke dalam asbak.


'Semoga saja bocah tak berguna itu mati sekalian saja, daripada selamat.' batin Son berdialog dengan senyum puas.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Sementara di tempat lain, Fathia masih setia memejamkan matanya. Namun karena ia tidak pandai berpura-pura, alhasil pelupuk matanya bergerak-gerak yang membuat pria di depanya tersenyum remeh.


"Mending kamu ikut kelas ekting, anaku yang sebentar lagi jadi calon ATM berjalan." mendengar itu, seketika Fathia langsung membuka kedua matanya dengan lebar.


Saat itulah dirinya melihat senyum smrik dari seseorang yang sewaktu kecil sering ia panggil Ayah.

__ADS_1


"A-ayah, " ucap Fathia lirih dengan nada gemetar, bahkan matanya nampak merah menahan tangis.


"Iya ini ayahmu, Ayah kandungmu. "


"Oh iya, apa kabar denganmu? dan babuku itu yang kini tidak bisa berjalan." timpalnya bertanya dengan di akhiri tawa mengejek.


"Bre**sek, kau menculiku wahai orang tua tidak berguna!? " tanya Fathia dengan menatap berang, sedangkan pria yang mendengar penuturan Fathia langsung menghentikan tawa mengejeknya. Dan lebih memilih untuk menggapai kepala anaknya yang lama tak jumpa untuk ia belai.


Fathia yang tak terima rambut berharganya di sentuh oleh orang yang dirinya benci selama ini lantas hendak menepis, namun ia hanya bisa menggeram kesal saat tanganya tidak bisa di gerakan sedikitpun karena tali yang begitu kuat membelit tanganya.


"Tidak bisa menggerakan tanganmu ya? hihihi," tanya pria yang bernama Felson Roderick Ardana dengan di akhiri tawa tertahan.


"Oy anak durhaka! sekarang coba kau pikir baik-baik dengan menggunakan otak bodohmu itu ya. Untuk apa ayahmu ini menculik anak sendiri? tentu saja aku menculik bocah itu," tunjuknya kepada Yanza dengan menggunakan dagu.


"Memangnya apa tujuanmu hah!?" tanya Fathia dengan begitu berani.


"Dasar orang yang gila akan uang," cetus Fathia, menurutnya orang yang ia anggap Ayah itu tidak berubah dari dulu. Selalu memikirkan uang dan uang.


"Ucapanmu itu memang benar Fathia, tapi uang memang penting kan? kalau aku tidak punya uang maka bagaimana nasib wanita-wanitaku di luar sana? aku tidak mau kehilangan kepuasan batin." ucapnya dengan tanpa rasa malu.


"Lagi pula kau juga sama kan? Sama-sama butuh uang untuk mendapatkan sesuap nasi dan garam untuk lauknya. Tapi kalau boleh aku tebak, selama ini kamu dapat uang pasti dari hasil menjajakan tubuh? " tebaknya dengan menghina, dimana mampu membuat hatinya yang telah ia perban untuk menutup luka akhirnya terbuka lagi.


"Aku tidak serendah itu!! " bentak Fathia meluapkan segala emosinya.


"Kalau begitu berarti tebakanku salah dong? oh biar aku tebak lagi. Kamu pasti meminta-minta di pinggir jalan kan?" ucap Roder dengan ucapan penuh hina, sungguh Ayah jahanam.

__ADS_1


Fathia hanya menunduk saja menahan air mata, dirinya sudah tidak kaget lagi sebenarnya. Tapi bagaimana-pun itu ucapan hina yang keluar dari mulut sang Ayah masih mampu membuatnya sakit hati.


"Menangislah jika kau mau, karena aku tidak akan menenangkan-mu. Jadi tenang saja," bisik Roder di telinga Fathia sebelum akhirnya bangkit dengan di susul suara langkah kaki yang terdengar tegas.


"Sampai jumpa lagi calon ATM berjalan,"


ucap Roder sebelum akhirnya pintu tertutup rapat.


Fathia menangis pilu dengan di iringi suara sesenggukan, "Kenapa aku harus bertemu lagi? Ya Tuhan apakah ini episode kedua dari penderitaanku."


Yanza yang sedari tadi terpejam tenang, akhirnya dengan perlahan membuka kedua matanya dan menatap Fathia yang kini terlihat rapuh. Sebenarnya bocah itu sudah sadar sejak dari tadi, namun ia lebih memilih untuk pura-pura belum sadar karena ingin memastikan terlebih dahulu, tapi di luar dugaanya. Ia justru mendengar perdebatan singkat yang hanya bisa ia dengarkan saja tanpa bisa dirinya lihat, akhirnya Yanza hanya bisa diam sembari memanfaatkan waktu untuk berfikir.


"Ternyata kau masih bisa menangis guru lelet, aku kira matamu itu sudah keruh jadi tidak bisa mengeluarkan air." celetuk Yanza sembari tanganya yang bergerak-gerak, ia tahu tanganya tengah di ikat tapi Yanza tengah mencoba untuk mempraktekkan ajaran dari gurunya yang tak lain adalah ayahnya sendiri yang mengajarkan banyak tips berguna untuknya.


"Jangan mengejek, aku sedang cengeng saja." saut Fathia.


Yanza tidak menjawab, dia tengah melanjutkan menggerakkan tanganya yang hampir terlepas dari tapi sialan itu.


"Yes! "


Pekiknya kegirangan saat ia melihat tanganya telah terlepas dari tali, Fathia yang melihat hal tersebut seketika langsung melongo.


'Bagaimana bisa bocah ini melakukannya? bukanya ikatan tali ini begitu kencang? '


Setelah tali yang mengikat tanganya sudah terlepas, kini Yanza langsung melepaskan tali yang mengikat di kakinya. Dengan gerakan yang lincah bagaikan sudah ahli dengan urusan tali bertali, seketika langsung terlepas dan itu membuat Yanza dapat tersenyum puas.

__ADS_1


'Di luar kepala,'


__ADS_2