
Clathria tersenyum senang saat permainan catur yang tengah ia mainkan, akhirnya di menangkan oleh dirinya sendiri.
"Bos sungguh hebat! bisa mengalahkan seorang Roder." puji Roder dengan berdecak kagum, sementara Clathria hanya tersenyum tipis saja.
"Kau keluarlah, aku ingin bersenang-senang dulu bersama bocah cilik itu." ujar Clathria yang langsung di balas sebuah anggukan kepala dari Roder.
Cklek!
Setelah tidak ada siapapun di sana, barulah Clathria bangkit dan berjalan mendekat dimana Yanza berada.
"Hey!"
Panggil Clathria, namun tak ada sautan sama sekali dari Yanza. Bocah berusia tujuh tahun itu hanya menatap sinis saja tanpa ada niatan untuk membalas sapaan dari wanita tinggi dengan memakai Tank Top berwarna cokelat tua beserta celana ketat di atas lutut.
"Ck, kau sungguh tidak sopan dan sombong sekali!" sinis Clathria dengan kakinya yang menarik sebuah kursi yang berada di belangkangnya, setelah itu ia jatuhkan bokongnya di atas kursi yang terbuat dari besi tersebut seraya meletakkan kedua kakinya di atas paha kecil Yanza.
'Wanita ini memang tidak bisa sadar diri,' batin Yanza sewot, namun tetap bersikap tenang.
"Ternyata kau tampan juga yah, sama seperti pria yang dulu sempat membuatku gila. Tapi sayang sekali, dia tak pernah membalas perasaan tulus dariku sama sekali." ucap Clathria seraya membelai wajah Yanza dengan membayangkan bahwa itu adalah wajah Arson, rekan yang membuatnya jatuh cinta sekaligus patah hati.
"Tapi aku sekarang sudah tidak ada lagi perasaan dengannya kok, kini. Yang ada hanya benci, maka dari itulah aku akan membuatnya kehilangan segalanya! Kekayaan, pekerjaan. dan fisiknya dengan menumbalkan kau! " lanjutnya dengan mencengkram kuat rahang Yanza saat ingatanya kembali ke masa lalu saat pria pujaanya justru lebih memilih rekanya sendiri.
Yanza yang di perlakukan sedemikian, hanya bisa memejamkan mata sembari menahan rasa sakit yang ia rasakan. Yanza hanya berharap, rahangnya jangan sampai patah. Karena jika itu sampai terjadi, ketampananya bisa hilang.
Arrrggghhh!
__ADS_1
Tiba-tiba, Clathria berteriak kencang. Membuat Yanza terlonjak kaget dan reflek membuka kedua matanya yang langsung melihat wanita yang baru saja mencurahkan isi hatinya, kini telah bangkit dengan tangan kiri yang memijat pelipisnya sementara tangan yang satunya meraih satu botol minuman beralkohol yang langsung di tengguknya tanpa berpikir panjang.
Akibatnya, aroma yang sangat menyengat. Langsung terhirup oleh indra penciuman Yanza, hingga membuatnya serasa ingin muntah. Tapi ia coba untuk menahanya, sebab. Sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Sementara Clathria yang melihat ekpresi Yanza seketika tersenyum smrik seraya mendekat ke wajah Yanza, dengan sengaja. Clathria membuka mulutnya dengan lebar dan menghembuskan aroma yang hinggap di mulutnya sampai membuat Yanza semakin tersiksa di buatnya.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Fathia mengendap-endap dengan bersembunyi karena banyak orang yang berlarian membawa berbagai senjata, perasaan takut mulai menghinggapi jika sampai dirinya ketahuan. Sementara sjak dari tadi dirinya belum juga tahu dimana keberadaan Yanza saat ini.
"Kenapa mereka lari-larian? bawa senjata lagi." gumam Fathia dengan lirih, bahkan hampir tidak bisa di tangkap oleh indra pendengaran.
Hingga akhirnya dirinya di kagetkan oleh pintu yang terbuka dengan tiba-tiba dari belakangnya, sungguh itu membuatnya sangat terkejut. Apa lagi Fathia sejak tadi memang tak menyadari dengan keberadaan pintu tersebut, sebab. Yang ia perhatikan hanyalah orang-orang yang tengah berlarian.
'Mati aku!' rutuknya dalam hati, sementara matanya tengah menatap seorang pria berbadan gempal bernama Toni.
"kamu bukanya?"
"Iya ini memang saya yang tadi Bapak lihat, tapi saya manusia waras jadi memutuskan untuk kabur. Tapi saya cuman mau kabur aja kok, jadi Bapak bisa kan melancarkan aksi wanita cantik ini?" ucap Fathia dengan jujur sekaligus merayu pria bertubuh gempal tersebut yang hatinya lembek.
"Ta-tapi, " ujar Toni dengan ragu hendak menolak permintaan gadis di depanya, namun Fathia yang melihat keraguan Toni langsung cepat-cepat angkat bicara.
"Ayolah, aku berjanji hanya satu kali ini saja." rayu Fathia dengan matanya yang sesekali mengintip keadaan sekitar dengan menyembulkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk agar tak terlihat dengan bersembunyi di sebuah meja kayu yang sudah sempat ia posisikan dengan baik.
Tampak Toni berpikir berkali-kali, namun pilihan kali ini sungguh sulit. Membantu ataupun tidak, itu sama-sama tak ada keuntungan baginya. Hingga akhirnya, ucapan Fathia berikutnya membuat Toni sedikit terbuai.
__ADS_1
"kalau Bapak mau membantu, saya akan memberikan apapun untuk Bapak dengan geratis. " Fathia kembali bernegosiasi, walau tawaranya bisa menjadi boomerang untuknya.
Toni terdiam untuk sejenak, ia ingin meminta satu hal. Namun sedikit ragu walau akhirnya di ucapkanya juga. "kalau begitu, apakah kamu bisa memberikanku uang?"
Mendengar itu, Fathia diam sejenak. 'Uang yang dia minta pasti tidak sedikit, tapi… akh sudahlah.'
Setelah membatin walaupun terkesan menyepelekan, akhirnya Fathia mengangguk saja yang membuat Toni seketika tersenyum.
"Tapi uangnya belakangan, setelah aku benar-benar pergi dari sini." ucap Fathia yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Toni.
"Tapi aku mau bawa kabur bocah yang tadi Bapak bawa pergi, " lanjutnya yang membuat Toni berfikir sejenak, namun karena otaknya yang memang tak ingin berpikir lebih lama lagi. Akhirnya langsung di anggukinya.
"Baiklah, tapi aku sarankan untuk kau berganti pakaian terlebih dahulu. Hanya sekedar menyamar saja, " saran Toni yang di setujui oleh Fathia.
Setelah itu, Toni mengajak Fathia untuk masuk ke dalam asrama. Lalu mengambilkan gadis itu pakaikan milik penghuni asrama yang warnanya serba hitam.
Sedangkan Fathia hanya menurut, lalu pergi ke arah kamar mandi yang ada di sana untuk berganti pakaian.
Sesudah berganti dengan pakaian tersebut dan tak lupa memakai kain untuk menutupi sebagian wajahnya, Fathia langsung keluar. Dan langsung di ajak oleh Toni untuk segera pergi dari ruangan penuh tempat tidur itu.
Cklek!
Usai pintu di tutup rapat, Toni langsung mengajak Fathia ke tempat yang di inginkan. Hingga suara bising yang membuat Toni penasaran kini telah terjawab, kalau suara tersebut karena adanya keributan yang tengah terjadi.
Fathia juga ikut bisa melihat hal yang tengah terjadi, yaitu dua sekelompok tengah saling menyerang. Namun ada satu pria yang terasa tak asing tengah berjalan tergesa-gesa dan tampak sangat emosi, sampai akhirnya. Mata tajam pria itu melirik Fathia dan Toni.
__ADS_1
"kalian tidak bisa kabur dariku!"